Hampir satu dekade adalah waktu yang panjang. Iya, terlalu panjang jika seluruh energi kita habiskan untuk terus mewariskan pertikaian yang bermula pada sebuah malam kudeta di tahun 2017.

Mereka yang hari ini baru belajar pencak silat di PSHT bahkan mungkin belum lahir ketika peristiwa itu terjadi, mereka juga tidak tahu apa yang terjadi pada malam satu Muharram 2017 lalu.

Mereka hanya mengenal apa yang mereka lihat dari kita. Jika yang mereka lihat adalah persaudaraan, mereka akan belajar tentang persaudaraan.

Jika yang mereka lihat adalah permusuhan, maka tidak menutup kemungkinan mereka akan belajar bahwa permusuhan adalah bagian dari menjadi warga PSHT.

Dan di situlah letak tanggung jawab kita bersama, sebab kita bukan hanya sedang menyelesaikan persoalan hari ini.

Kita sedang menentukan warisan seperti apa yang akan diterima dan diteruskan oleh mereka, generasi selanjutnya yang datang setelah kita.

Mungkin ini sudah waktunya kita berhenti bertanya,

“Kapan mereka, saudara yang selama ini berada di seberang jalan akan kembali?”

Lalu mulai bertanya kepada diri sendiri

“Apa yang sudah kita lakukan agar ketika saudara yang selama ini berseberangan kembali, mereka menemukan rumah yang masih layak disebut persaudaraan?”

Sebab, PSHT terlalu besar untuk diwarisi dalam bentuk luka, terlalu tua untuk terus hidup dalam dendam, dan terlalu luhur jika ajarannya hanya berhenti sebagai kalimat yang kita hanya ucapkan, tetapi nol praktik ketika persaudaraan benar-benar diuji.

Mungkin persoalan dualisme memang tidak sederhana, dan jalan keluarnya juga tidak sesingkat tulisan ini.

Tetapi satu hal barangkali sederhana, kalau kita sama-sama mengaku membawa nama SH Terate, maka pepacuh harus kita ingat, sumpah bersama harus kita jaga, wasiat harus kita jalankan, dan air yang kita bawa ke tengah persaudaraan semestinya adalah air yang jernih, bukan keruh!.

Tamat

Ditulis oleh : Sojianto (Tim Humas Pusat)