(Eyang Surodiwiryo (kanan) sedang memainkan Jurus Setia Hati bersama muridnya)
Jika pada tulisan sebelumnya kita mengulas tentang bagaimana jurus Setia Hati terbentuk, dan membahas sedikit tentang siapa sosok Muhammad Masdan (Eyang Surodiwryo) yang melakukan perjalanan hingga utara Sumatera.
Kali ini, kita akan mengulas tentang bagaimana jurus Setia Hati disusun dengan kurikulum.
Kurikulum yang saya maksud di sini adalah pencak yang telah memiliki susunan materi, ciri khas, sampai metode, di mana pada masa tahun 1800an tentu ini memberi warna baru pada khasanah persilatan, dan menyajikan perspektif berbeda.
Masdan tidak hanya mengajarkan bagaimana seseorang memukul, menendang, atau menghindari serangan, tetapi juga memberikan rangkaian yang harus dipelajari dengan cara tertentu.
Jurus memiliki prinsip bermain, proses menghafal, dan jika dipelajari lebih lanjut, maka akan tampak jika jurus jurus ini bukan hanya sebatas gerakan tangan kosong semata.
Contohnya, dari analisa dangkal penulis, jurus Setia Hati yang dikonsep Masdan bisa dimainkan dengan senjata seperti toya, dan kerambit, dan masih banyak lagi.
Dengan demikian, orang yang baru mengetahui urutan geraknya belum tentu dapat dikatakan sudah memahami jurusnya, kalau sekedar hafal dan ingat, mungkin iya, tetapi hafal bukan berarti selesai. Hehehe
Justru dari hafalan ini, barangkali baru menjadi pintu masuk mempelajari jurus Setia Hati yang lebih dalam.
Hal menarik dari tradisi belajar jurus Setia Hati yang dikonsep Eyang Surodiwiryo (Muhammad Masdan) adalah cara mempelajarinya yang dikenal berlangsung secara tertutup.
Maksudnya begini, seorang murid yang mau belajar, harus disahkan terlebih dulu. Dan tentunya, hal ini berbeda dengan jurus yang diajarkan Samingoen (Harjo Utomo) pada varian jurusnya.
Pada jurus Setia Hati yang dikonsep Muhammad Masdan ini, menghafal, dan mempelajari prinsip jurusnya dilakukan di ruang yang tidak terbuka untuk umum.
Ini berbeda dengan sebagian tradisi pencak lainnya di Nusantara yang memungkinkan gerak dasar atau bentuk rangakaian jurus diperlihatkan kepada khalayak.
Jadi, kenapa jurus Setia Hati yang dikonsep Masdan diajarkan demikian? Tentu semua punya alasan dan latar belakang. Dalam tradisi bela diri lama, gerakan mungkin saja dapat dilihat.
Tetapi di jurus Setia Hati, yang lebih penting justru bagaimana gerakan itu dimainkan. Seseorang boleh mengetahui bentuknya, tetapi belum tentu memahami prinsip pemaknaan di baliknya.
Karena itu, dalam konteks Pencak Setia Hati (SH), kerahasiaan bukan semata soal menyembunyikan gerakan, tapi ada pengetahuan yang memang baru memiliki makna ketika dipelajari secara langsung, bertahap, dan dalam hubungan langsung antar guru dengan murid.
Jadi, jangan pernah bayangkan karena pencak Setia Hati ini merupakan ilmu tua, maka proses belajarnya kala itu harus penuh penderitaan, seperti berguling di lumpur, berlatih di bawah hujan, atau dihubungkan dengan menjalani berbagai bentuk perpeloncoan, sama sekali tidak!.
Pencak SH punya karakter belajarnya sendiri. Jurus ini tidak dibangun berdasarkan sistem tingkatan sabuk sebagaimana yang kemudian populer dalam berbagai bela diri modern.
Ukuran keberhasilan seseorang yang mempelajarinya juga bukan sekadar seberapa cepat ia menyelesaikan hafalan.
Sebab, persoalannya bukan hanya “bisa”, tetapi memahami, dan memahami sesuatu tentu membutuhkan waktu.
Bersambung
Ditulis oleh : Sojianto (Tim Humas Pusat)