Jurus Bawah mungkin terlihat sebagai salah satu rangkaian gerak yang paling keras, permainannya menyasar bagian bawah tubuh, ada guntingan, sapuan, ungkitan, hingga serangan yang membutuhkan ketepatan.

Kuda kudanya juga memerlukan kekokohan otot bagian paha, betis, namun tetap fleksibel saat menyerang. Sekarang, di balik kerasnya gerakan tersebut, ternyata ada pelajaran yang jauh lebih dalam.

Sebab, ketika seseorang telah mempelajari Jurus Bawah, ia justru dituntut mampu merendahkan posisi tubuhnya sendiri. Kuda kuda di jurus ini menjadi lebih berat, paha dan betis bekerja lebih keras, sementara tubuh harus tetap kokoh dalam posisi pasang bawah.

Di sinilah sebuah pertanyaan sederhana muncul, jangan-jangan yang sebenarnya sedang dilatih bukan hanya kemampuan menyerang orang lain? Tetapi, kemampuan mengalahkan diri sendiri.

Sebab melawan orang lain mungkin hanya membutuhkan keberanian. Sementara, melawan diri sendiri membutuhkan kesadaran.

Nafsu untuk menang, keinginan untuk menunjukkan kemampuan, rasa ingin dipuji, bahkan perasaan bahwa dirinya lebih hebat dari orang lain, justru menjadi lawan yang jauh lebih sulit ditaklukkan seorang insan.

Mungkin karena itu, Jurus Bawah memiliki relevansi yang kuat dengan laku Andap Asor. Ketika seseorang memiliki ilmu, kemampuan, dan pengalaman yang lebih banyak, maka semakin besar pula kemampuannya untuk merendahkan hati.

Alih alih semakin tinggi kepala karena merasa sudah mengetahui banyak hal, Jurus Bawah dan laku Andap Asor menjadi penanda bahwa semakin seseorang memahami kemampuan dirinya, semakin sadar ia bahwa ilmu bukan alasan untuk meninggikan diri.

Andap asor bukan berarti merasa tidak memiliki kemampuan, justru orang yang mengetahui kemampuannya sendiri tidak perlu sibuk mempertontonkan kemampuan tersebut kepada orang lain.

Maka, orang yang telah belajar Jurus Bawah sejatinya bisa tahu kapan harus maju, kapan harus diam, dan kapan harus menahan diri.

Di sinilah menariknya hubungan antara gerakan dan laku. Tubuh dipaksa merendah ketika melakukan Jurus Bawah, sementara hati juga seharusnya belajar merendah ketika seseorang telah memiliki ilmu.

Jangan sampai, tubuhnya semakin rendah dalam latihan, tetapi egonya justru semakin tinggi setelah latihan selesai, ini sungguh jauh dan kontrafiktif dari makna merendah itu sendiri.

Karena ilmu pencak silat memang bisa membuat seseorang kuat. Tetapi, kekuatan tanpa pengendalian diri hanya akan melahirkan kesombongan.

Jadi, semakin seseorang mengenal kemampuan tubuhnya (ilmunya), semestinya semakin ia mengenal kelemahan dirinya sendiri.

Jurus Bawah seolah mengingatkan bahwa manusia memiliki bagian yang harus ditundukkan.

Bukan hanya lawan di hadapan kita, tetapi juga nafsu yang ada di dalam diri. Keinginan untuk menang, dipuji, dianggap hebat, dan merasa lebih tinggi dari orang lain, dan hal inilah yang lebih sulit dilawan jika dibanding melumpuhkan orang lain.

Maka pertanyaannya bukan lagi, seberapa mematikan Jurus Bawah yang kita kuasai, kini pertanyaan yang jauh lebih penting adalah, setelah mempelajarinya, apakah kita menjadi manusia yang lebih mampu mengendalikan diri?

Sebab, seorang insan Setia Hati tidak seharusnya menjadikan ilmu sebagai tangga untuk meninggikan dirinya.

Ilmu justru dapat menjadi jalan untuk semakin mengenal siapa dirinya, memahami batasnya, dan menyadari bahwa di atas kemampuan manusia masih ada kekuasaan Tuhan.

Barangkali itulah mengapa Andap Asor menjadi penting bagi seorang pesilat, khususnya di PSHT. Semakin tinggi ilmunya, semakin rendah hatinya. Semakin banyak yang diketahui, semakin sadar bahwa masih banyak yang belum diketahui.

Pada akhirnya, Jurus Bawah bukan hanya tentang bagaimana menjatuhkan orang lain, melainkan mengajari bagaimana seseorang mampu menjatuhkan kesombongan yang ada dalam dirinya sendiri.

Sebab mengalahkan orang lain mungkin hanya soal teknik, tetapi mengalahkan diri sendiri adalah pekerjaan sepanjang hayat.

Dan mungkin, di situlah salah satu makna terdalam dari belajar pencak silat, bukan menjadi manusia yang paling ditakuti, tetapi menjadi manusia yang mampu menaklukkan dirinya sendiri.

Ditulis oleh : Sojianto (Tim Humas Pusat)