(Foto Ketua Umum PSHT, Dr. Ir. Muhammad Taufiq SH. M.Sc, Foto:// Sojianto, Tim Humas Pusat)

Ada orang yang ketika kehilangan kursi, maka hilanglah pula arah perjuangannya.

Ada pula yang ketika kursinya diguncang, justru semakin sibuk mempertanyakan siapa yang salah, siapa yang harus disingkirkan, lalu mencari sekutu siapa yang harus berdiri di belakangnya. Iya, cari bekingan.

Namun ada satu jenis kepemimpinan yang barangkali lebih sunyi dari dua hal tersebut di atas, tidak banyak bicara tentang dirinya, hanya terus lurus berjalan.

Inilah yang tergambar dalam diri Ketua Umum PSHT, Hampir satu dekade sudah Dr. Ir. Muhammad Taufiq, S.H., M.Sc. menjalani salah satu fase paling berat dalam sejarah kepemimpinan Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT).

Terpilih sebagai Ketua Umum melalui Parapatan Luhur 2016, kepemimpinannya menghadapi gejolak internal hanya setahun kemudian.

Pada September 2017, terjadi kudeta yang kemudian melahirkan dualisme organisasi dan konflik panjang yang tidak selesai dalam hitungan bulan, hitungan tahun, bahkan mungkin hitungan purnama sekalipun.

Sepuluh tahun mungkin tidak panjang bagi sebuah organisasi yang telah berusia lebih dari satu abad.

Namun, sepuluh tahun adalah waktu yang sangat panjang bagi seorang manusia untuk terus berdiri di tengah tudingan, perpecahan, gugatan, gunjingan, sampai kehilangan ruang, dan pertarungan legitimasi menurut hukum negara.

Tapi, di sinilah kepemimpinan beliau diuji.

“Bukan ketika semua orang bertepuk tangan.”

“Bukan ketika jabatan aman.”

“Bukan pula ketika semua keputusan dengan mudah diterima.”

Kepemimpinan justru menemukan wajah aslinya ketika ia mempunyai cukup alasan untuk marah, tetapi memilih tetap menahan diri.

-Tidak Semua Perjuangan Dibalas Perlawanan.

“Konflik PSHT selama bertahun tahun bukan lagi rahasia.”

Hal ini benar adanya, sudah merupakan konsumsi publik yang marak, dapat diakses dan bertebaran di sosial media manapun.

Putusan pengadilan dan perkembangan status badan hukum kemudian menjadi bagian dari perjalanan panjang tersebut.

Pada 2025, badan hukum PSHT di bawah kepemimpinan Muhammad Taufiq kembali dipulihkan melalui keputusan Kementerian Hukum sebagai tindak lanjut putusan pengadilan (inkracht) dan berkekuatan hukum tetap.

Namun, ada satu hal yang menarik, ketika secara hukum Pengurus Pusat PSHT menyatakan memiliki hak untuk mengambil langkah eksekusi terhadap aset organisasi yang dikuasai kubu lawan, pilihan yang diambil bukanlah sekadar menunjukkan siapa yang paling kuat.

Baca sekali lagi, “siapa yang paling kuat.”

Pada Mei 2026, Pengurus Pusat justru menyatakan memilih menahan diri dan tidak mengambil opsi pengosongan paksa demi menghindari konflik fisik, bentrokan, dan menjaga nama baik organisasi di tengah masyarakat.

Di sinilah kita bisa bertanya sekaligus merenung bersama:

“Apakah menahan diri berarti kalah?”

“Ataukah kuasa bukan untuk menunjukkan bentuk kekuatan yang jauh lebih tinggi?”

Sebab, saat manusia punya kuasa lebih, ia akan mudah sekali membalas ketika merasa dizalimi. Tapi, disinilah keteguhan hati seorang pemimpin kontras diuji.

“Yang sulit adalah tetap berpikir tentang akibat dari pembalasan itu terhadap orang lain.”

-Altruis Sejati : Kuat Bukan Berarti Tidak Pernah Terluka

Barangkali di sinilah istilah altruistik perlu dipahami dengan benar.

Altruisme bukan berarti seseorang tidak memiliki kepentingan pribadi. Bukan pula berarti seorang pemimpin tidak pernah marah, kecewa, atau terluka.

Altruistik adalah ketika kepentingan yang lebih besar akhirnya mampu ditempatkan di atas kepentingan dirinya sendiri.

“Iya, inilah perwujudan sesuai makna kain mori yang diikat di sebelah kiri, dan menggunakan tali wangsul.”

Dalam konteks organisasi, seorang pemimpin boleh saja mempertahankan haknya.

Kendati demikian, ketika mempertahankan hak justru berpotensi membuat ribuan saudara kembali bertikai, maka pertanyaan berikutnya bukan lagi:

“Saya bisa menang atau tidak?”

Tetapi:

“Setelah saya menang, apa yang terjadi dengan persaudaraan?”

Itulah perbedaan antara mempertahankan kekuasaan dengan mempertahankan organisasi.

Pemikiran yang pertama berbicara tentang kursi, sedangkan yang kedua berbicara tentang manusia.

-Mengalah Belum Tentu “Kalah”

Muhammad Taufiq kembali dipercaya sebagai Ketua Umum dalam Parapatan Luhur 2021. Artinya, perjalanan kepemimpinannya tidak berhenti pada konflik kudeta 2017.

Beliau tetap menjalankan roda organisasi di tengah persoalan yang belum sepenuhnya selesai.

Maka sepuluh tahun ini seharusnya tidak hanya dibaca sebagai cerita tentang seorang ketua yang berhasil bertahan dari kudeta.

Atau, seorang ketua harian yang sukses mengkudeta ketua umumnya sendiri.

Sebab kalau hanya itu ukurannya, kita sedang mereduksi makna kepemimpinan menjadi persoalan siapa yang paling lama memegang kendali.

Padahal ada pelajaran yang lebih dalam.

“Pemimpin sejati bukan yang paling lama duduk di kursi.”

“Pemimpin sejati adalah orang yang ketika kursi itu dipersoalkan, dirinya tidak ikut kehilangan jati diri.”

Dan ketika suatu hari kursi itu tidak lagi menjadi miliknya, organisasi tetap harus berjalan.

-Rendah Hati di Tengah Kekuasaan

Ada paradoks menarik dalam kepemimpinan.

“Semakin besar kekuasaan seseorang, semakin besar pula godaan untuk memperlihatkan bahwa dirinya berkuasa.”

Namun kerendahan hati justru bekerja sebaliknya.

“Ia tidak perlu berteriak bahwa dirinya pemimpin.”

“Ia membiarkan waktu, proses, dan hasil yang berbicara.”

Dalam perjalanan panjang PSHT, mungkin inilah teladan yang paling mahal dari seorang pemimpin.

“Mas Taufiq tidak menjadikan jabatan sebagai alasan untuk meninggikan diri.”

Sebab jabatan pada akhirnya hanyalah amanah. Hari ini, seseorang bisa saja dipanggil Ketua Umum. Besok? mungkin tidak lagi.

Hari ini seseorang mempunyai kewenangan. Besok, kewenangan itu juga mungkin berpindah kepada orang lain.

Jadi, yang tertinggal bukan kursinya, melainkan tentang bagaimana ia menggunakan kursi tersebut untuk kemaslahatan orang lain.

-Bukan Tentang Siapa yang Menang

Sepuluh tahun konflik mengajarkan satu hal kepada PSHT:

“Persaudaraan dapat rusak jauh lebih cepat daripada membangunnya.”

Karena itu, kepemimpinan yang baik bukan hanya tentang keberanian mempertahankan kebenaran.

Tapi, ini juga tentang kebijaksanaan dalam menggunakan kemenangan. Mas Taufiq mungkin telah melewati fase panjang sebagai seorang ketua yang diuji oleh keadaan.

Namun, beliau tetap low profile dan teguh memegang kendali organisasi.

barangkali, ujian terbesar seorang pemimpin bukan ketika dirinya dikudeta.

Ujian terbesarnya justru ketika ia memiliki kesempatan untuk membalas.

“Di titik itulah kerendahan hati benar-benar diuji.”

Sebab orang yang lemah sering kali tidak mampu membalas. Tetapi, orang yang kuat dan memilih tidak membalas demi menyelamatkan persaudaraan, sedang menunjukkan sesuatu yang lain:

“kekuatan yang telah dikendalikan oleh kebijaksanaan.”

Dan mungkin, di situlah makna seorang pemimpin yang altruistik tercermin lewat sosok Mas Taufiq.

“Ia tidak hidup untuk membuktikan bahwa dirinya paling benar.”

“Ia berjuang agar sesuatu yang lebih besar daripada dirinya tetap hidup.”

Apakah itu? Hanya satu kata,

“Persaudaraan.”

Ditulis oleh : Sojianto, Tim Humas Pusat