(Sukardi (kanan) setelah sesi Tes Calon Warga PSHT Banjarmasin, 24/5)
BANJARMASIN — Kisah inspiratif datang dari Sukardi, seorang kakek berusia 78 tahun yang tetap bersemangat mengikuti latihan silat Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) di Rayon Putri Duyung, Ranting Banjarmasin Barat, Cabang Banjarmasin, Kalimantan Selatan.
Suara riuh hentakan kaki dan teriakan aba-aba di Komplek Putri Duyung, Banjarmasin Barat, mendadak terasa berbeda pada Minggu (24/5) kemarin.
Di antara barisan pemuda bertubuh kekar dan bertenaga prima, tampak sesosok pria senja dengan rambut yang seluruhnya telah memutih. Ia adalah Sukardi.

(Kakek Sukardi (78) pojok kanan saat mengikuti tes, tentunya tanpa perlakuan istimewa)
Di usianya yang telah menginjak 78 tahun, pria sepuh ini memilih jalan yang tak biasa bagi orang seusianya, yaitu ikut berlatih pencak silat di PSHT Cabang Banjarmasin.
mengenakan seragam hitam dan berlatih silat di Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) Cabang Banjarmasin, mungkin bagi sebagian besar orang, usia dekat kepala delapan adalah waktu untuk beristirahat di rumah bersama cucu.
Namun tidak bagi Sukardi. Dengan motor honda Supra, ia datang ke tempat latihan di Rayon Putri Duyung bukan didorong oleh ambisi fisik atau keinginan untuk menjadi jagoan bertarung.

(Sukardi tampak paling semangat meski usia tak lagi muda di antara siswa lain saat mengikuti tes)
Sukardi membawa misi yang jauh lebih mendalam dan menyentuh esensi kemanusiaan, yakni mencari bekal untuk mencari kesempurnaan hidup.
“Di usia senja seperti ini, saya hanya ingin menambah saudara,” ungkap Sukardi dengan senyum tulus yang menghiasi wajah yang tak lagi muda itu.

Bagi Sukardi, PSHT yang dikenal dengan ikatan persaudaraannya yang kuat, menjadi wadah terbaik untuk menghabiskan masa tuanya dalam lingkaran sosial yang positif dan saling merangkul.
Lebih dari sekadar mencari teman dan kerabat baru, kakek 78 tahun ini juga memiliki dahaga spiritual yang kuat. Sukardi ingin mengolah sisi spiritualnya lewat ilmu setia hati yang ada di PSHT.
Latihan fisik yang menguras keringat ia maknai sebagai ujian kesabaran. Di balik setiap gerakan jurus, Sukardi sedang berupaya memperdalam spiritualitas hidupnya lewat Ilmu Setia Hati, sebuah ajaran yang menekankan pada pengenalan diri dan kedamaian batin.
Kehadiran Sukardi di tengah gelanggang latihan sontak menjadi pemandangan yang menggetarkan hati. Bagaimana tidak, karena Sukardi datang berlatih tanpa meminta perlakuan istimewa.
Setiap instruksi pelatih ia ikuti semampunya dengan penuh takzim, kendati usianya jauh lebih tua. Semangatnya yang membara seolah menampar pundak para siswa muda yang terkadang masih mengeluh saat ditempa latihan keras.
Bagi Sukardi, batasan usia hanyalah deretan angka. Selama raga masih mampu bernapas, pencarian akan makna hidup, persaudaraan, dan kedekatan kepada Sang Pencipta tidak boleh berhenti.
Di atas tanah Rayon Putri Duyung, pria 78 tahun ini membuktikan bahwa dedikasi untuk belajar dan memperhalus budi pekerti adalah perjalanan seumur hidup yang tak akan pernah lekang oleh waktu.