(Wakil Ketua Umum Bidang Organisasi PSHT, Ari Sujito dalam podcast Humas Pusat)

Pengurus Pusat Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) tidak menyangkal adanya tantangan besar terkait citra negatif yang melanda organisasi belakangan ini.

Hal tersebut disampaikan Wakil Ketua Umum PSHT Bidang Organisasi, Ari Sujito, di mana ia mengakui bahwa tindakan oknum yang kerap terlibat keributan atau pelanggaran kamtibmas di ruang publik sering kali menutup banyaknya sisi positif yang telah dibangun organisasi selama lebih dari satu abad.

“Ini menjadi tantangan bagi kita semua agar citra organisasi tidak identik dengan keburukan atau kasus pengrusakan. Kita butuh iktikad yang diwujudkan melalui tindakan nyata,” ujar Ari Sujito yang juga menjabat sebagai Wakil Rektor Universitas Gadjah Mada (UGM).

-Fokus Prestasi dan Karakter

Guna membangun citra positif, terutama di PSHT yang membentuk karakter manusia lewat pendidikan pencak silat, Ari memaparkan beberapa program konkret yang perlu lebih digiatkan.

Pertama, organisasi fokus mencetak atlet pencak silat berprestasi yang mampu mengharumkan nama bangsa dan organisasi di berbagai kejuaraan. Kedua, memperkuat ajaran spiritualitas untuk membentuk karakter pendekar yang santun, jujur, memiliki integritas, serta disegani bukan karena ditakuti.

Selain dua poin tersebut, keterlibatan aktif dalam kegiatan pengabdian masyarakat menjadi pilar penting. PSHT mendorong seluruh anggotanya di berbagai jenjang mulai cabang hingga rayon untuk selalu hadir di garda terdepan saat melakukan kegiatan sosial kemasyarakatan.

Ari Sujito percaya, bahwa dengan usia organisasi yang sudah matang, PSHT akan terus berbenah, dan bertansformasi menjadi organisasi yang guyub, rukun, dan berkontribusi positif bagi masyarakat luas.

“Jangan baru jadi warga lalu gampang marah. Kita harus menunjukkan dengan praktik nyata bahwa nilai nilai kebaikan yang dipelajari selama menjadi siswa benar-benar diwujudkan setelah menjadi warga,” pungkasnya.

-Seruan Dari Bali

Terpisah, Pelatih dari Cabang Denpasar, Bali, Ilham Cahya Rosadi menilai, organisasi khususnya di tingkat cabang harus punya visi misi yang jelas dalam menjalankan program latihan.

(Ilham saat memberi instruksi beserta contoh gerakan untuk para siswa PSHT)

Tidak hanya itu, tugas PSHT akan semakin berat karena citra organisasi saat ini sudah mendapat cap negatif dari masyarakat, sehingga seluruh anggota harus berbenah.

“Mengenalkan PSHT adalah tantangan, terutama masyarakat Bali yang sudah menganggap jelek karena kejadian konvoi, jadi untuk mengembangkan ke pribumi memiliki tantangan cukup berat.” Ungkapnya.

“PSHT masih bisa berkembang di lingkungan Bali, seperti strategi yang cabang Denpasar buat adalah masuk ke sekolah supaya masyarakat tau dan paham, tidak seperti info di media sosial saja.” Imbuhnya

Ilham juga menyoroti para pelatih dan pengurus di PSHT yang mengabdi dengan penuh ketulusan, namun harus menghadapi realita pahit karena organisasi yang terlanjur mendapat predikat negatif.

“Yang meresahkan karena oknum tertentu merusak citra psht di masyarakat, karena kita harus kembali ke akar bawah, meluangkan waktu untuk mengembangkan dari bawah terutama di sekolah-sekolah.” Jelasnya

-Soroti Pentingnya Prestasi

Selaras dengan upaya dari Wakil Ketua Umum Bidang Organisasi, Ari Sujito di atas, Ilham juga menilai prestasi pencak silat jadi upaya untuk mengenalkan PSHT di wilayah Bali.

“Agar citra di masyarakat berubah, orang tua murid itu harus melihat siapa pelatihnya, bila sudah dipercaya masyarakat, hal negatif pasti perlahan akan hilang dengan program yang tepat.” Ucapnya.

Cabang Denpasar memiliki program prestasi terpusat, dengan program Terate Emas Academy, membina para atlet potensial, yang tersaring dari setiap tempat latihan.

“Agar nama PSHT berprestasi di kancah pencak silat, karena yang dilihat wali murid adalah masa depan dari anak mereka, dan hasil tujuan ikut silat adalah prestasi, memiliki karakter disiplin dan tanggung jawab.” Tandas Ilham