(Laila (kiri) dan Rudi (kanan), dua siswa tertua yang ikut pengesahan di PSHT Cabang Banjarbaru, Kalimantan Selatan)
Malam pengesahan warga baru Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) Cabang Banjarbaru, di Padepokan Suryanata, Jumat (26/6/2026) terasa begitu istimewa. Di antara barisan calon warga yang didominasi usia muda, ada dua sosok yang mencuri perhatian.
Guratan wajah mereka menyimpan cerita perjuangan yang berbeda, namun disatukan oleh satu keyakinan, belajar ilmu setia hati tidak mengenal batas usia. Mereka adalah Seripah Jenatul Laila (50) dari Ranting Liang Anggang, dan Rudi Santoso (50) dari Ranting Banjarbaru Utara.
Di usia kepala lima, keduanya membuktikan bahwa fisik boleh menua, namun semangat pendekar tetap menyala. Laila dan Rudi menjadi bukti, bawa latihan di PSHT bisa terbuka bagi seluruh kalangan, termasuk orang tua.
-Berlatih Giat, Menolak Privilese
Bagi Seripah Jenatul Laila, perjalanan latihan hingga bisa disahkan tidak dilalui dengan karpet merah. Meski dirinya adalah istri dari Ketua PSHT Cabang Banjarbaru, Ifan Kurniawan, Laila menolak segala bentuk fasilitas dan perlakuan khusus.
Tidak ada perlakuan istimewa di Rayon Landasan Ulin Tengah (Peramuan) tempat di mana Laila latihan. Keputusan Laila untuk ikut berlatih bahkan sempat mengejutkan sang suami.
“Saya tidak pernah memaksa istri ikut latihan, walau dari dulu tetap setia menemani di segala kegiatan organisasi. Saat dia putuskan ikut, saya sempat kaget sekaligus terenyuh,” ungkap Ifan Kurniawan mengenang awal mula istrinya ikut latihan PSHT.
Berlatih satu tahun penuh, Laila dengan disiplin latihan tiga kali seminggu. Di bawah bimbingan pelatih tetapnya, Ilma Safira, dan Ketua Rayon, Anton Nur Ihza Abdillah. Laila mempelajari setiap materi dengan telaten.
Proses latihan Laila juga dimentori langsung oleh asisten pelatih sebaya, Sugiarti, warga pengesahan angkatan 2025. Di mana hal ini menjadi bukti lain tentang hubungan persaudaraan di PSHT yang lintas batas antar generasi.
Ketua Ranting Liang Anggang, Mulyadi, menegaskan bahwa status Laila sebagai istri ketua cabang tidak mengubah aturan dasar organisasi.
“Beliau (Laila) berlatih tetap sesuai prosedur, dan tanpa perlakuan khusus, meski begitu latihannya tetap kami sesuaikan dengan kondisi fisik beliau yang tidak muda lagi,” jelas Mulyadi.
Perjuangan fisik di usia setengah abad tentu bukan perkara mudah bagi Laila. saat ditanya mengenai alasannya bertahan hingga disahkan, ia mengaku menjalani semua dengan setulus hati.
“Awalnya juga capek, badan pegal rasanya, tapi lama kelamaan terbiasa, merasa lebih bugar setelah ikut latihan ini, pokoknya dijalani saja setulus hati,” ucap ibu dengan tiga orang anak ini.
-Rudi Santoso: Menjemput Sehat di Rayon Bayeman
Bergeser ke Ranting Banjarbaru Utara, tepatnya di Rayon Bayeman, semangat yang tak kalah membara ditunjukkan oleh Rudi Santoso. Pria paruh baya yang akrab disapa “Pakde” ini. Ia memiliki motivasi yang sangat membumi namun mendalam saat pertama kali memutuskan memakai seragam hitam siswa PSHT, yakni hanya ingin sehat dan bugar.
“Saya ikut latihan supaya sehat mas, sekalian tambah aktivitas sama seduluran, mudah mudahan bisa bermanfaat.” Ungkap Rudi
Keteguhan hati Rudi diakui langsung oleh pelatih tetapnya di Rayon Bayeman, Rama. Di mata Rama, usia sama sekali tidak menyurutkan mentalitas Rudi selama digembleng di lapangan.
“Pakde tidak pernah mengeluh capek, tetap disiplin latihan walau usia sudah setengah abad,” puji Rama.
Mengingat kondisi fisik yang berbeda dengan siswa usia remaja, tim pelatih menerapkan metode pendekatan yang terukur untuk Rudi tanpa mengurangi esensi ajaran.
“Untuk latihan, kami tetapkan porsi sesuai ukuran usia Pakde, soalnya alasan beliau ikut latihan supaya bugar. Latihan kami fokuskan ke materi senam dasar dan jurus, juga ke SH-an (Kerohanian/Ke-Setia Hati-an),” tambah Rama.
“Bahkan, Pakde juga setiap pulang latihan selalu mengantarkan siswa putri sampai rumahnya, bagaikan tanggung jawab seorang ayah, Rayon Bayeman bangga bisa melatih beliau sampai disahkan.” Tandasnya
Strategi pembinaan yang personal ini terbukti berhasil. Rudi tidak hanya mendapatkan kebugaran yang dicari, tetapi juga berhasil menguasai materi dengan sangat baik hingga sah menjadi warga seutuhnya.
-Kualitas di Atas Kuantitas
Kisah Laila dan Rudi menjadi bukti nyata dari apa yang selalu ditegaskan oleh pengurus cabang. PSHT Banjarbaru memang tidak pernah mengejar kuantitas atau jumlah anggota yang meledak.
Melalui kontrol ketat di setiap ranting hingga rayon, proses pembinaan justru bisa menyentuh setiap individu secara optimal, termasuk memfasilitasi mereka yang telah berusia senja untuk tetap berkembang lewat latihan pencak silat di PSHT.
Malam itu, saat kain mori resmi diperoleh Laila dan Rudi, momen haru mengiringi langkah mereka. Dua pendekar berusia setengah abad ini telah selesai memberikan pelajaran berharga bagi seluruh warga PSHT Banjarbaru, bahwa di dalam Setia Hati, selama kemauan masih ada, usia hanyalah deretan angka.