(Araki Tomomi (nomor dua dari kanan) saat disahkan menjadi Warga PSHT. Foto:// Cabsus Jepang)
Acara pengesahan warga tingkat 1 Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) Cabang Khusus (Cabsus) Jepang tahun ini mengukir sejarah yang sangat berbeda.
Bagaimana tidak?, di antara 11 peserta yang disahkan, perhatian tertuju penuh pada sosok Araki Tomomi, perempuan warga negara asli Jepang yang mencuri perhatian setelah resmi disahkan menjadi warga baru PSHT di Nagoya.
Prosesi sakral ini diawali dengan selamatan di Padepokan Lebak, Banten pada 4 Juli 2026, lalu dilanjutkan dengan malam pengesahan terpisah di Nagoya, Jepang.
Acara dipimpin langsung oleh Ketua Cabsus Jepang, Anang Dwiyanto, Dewan Pertimbangan Cabang, Imam Maxsum, serta Dewan Pengesah Tingkat 2, Agus Susilo dan Suratno.
-Jatuh Cinta Pada Ajaran Luhur Sejak 2024
Langkah Tomomi menjadi seorang pesilat di PSHT tidak instan. Ia sudah bergabung dan mulai berlatih keras sejak tahun 2024, semua bermula saat melihat interaksi dan latihan para pekerja serta warga Indonesia (anggota PSHT) yang merantau di Jepang.
Bukan hanya sekadar belajar gerakan fisik atau bela diri, Tomomi justru sangat mendalami filsafat dan spiritualitas asli Indonesia yang diajarkan di PSHT.
Tomomi terpikat pada konsep: berbudi luhur dalam kehidupan sehari hari, tahu benar dan salah secara mendalam, sampai prinsip kebaikan universal Memayu Hayuning Bawono (memperindah keindahan dunia).
-Proses Yang Tidak Mudah
Perjuangan Tomomi hingga bisa disahkan tidaklah mudah, PSHT Cabsus Jepang yang mengoordinasi dua wilayah, Ranting Tokyo dan Ranting Nagoya tidak memiliki gedung padepokan sendiri di sana.
Setiap malam Minggu, Tomomi bersama siswa lainnya harus rela berpindah tempat untuk berlatih. Demi mengejar materi, mereka memanfaatkan fasilitas publik seadanya, mulai dari taman kota hingga area parkir mobil.
Tantangan fisik makin berat saat cuaca ekstrem Jepang melanda. Ditambah lagi, saat jadwal ujian kenaikan sabuk atau tes pendadaran tiba, Tomomi harus menempuh perjalanan jauh menuju lokasi titik tengah yang disepakati antar ranting.
Pengurus Cabsus Jepang mengakui bahwa semangat Tomomi sangat luar biasa dan tidak kalah bersaing dengan siswa asal Indonesia, hingga akhirnya Tomomi bisa disahkan tahun 2026.
-Simbol Persaudaraan Antar Bangsa
Keberhasilan Araki Tomomi menyelesaikan seluruh rangkaian tes hingga disahkan membuktikan bahwa ajaran PSHT bersifat universal dan menembus batas wilayah.
Di malam pengesahan tersebut, Tomomi duduk sejajar dan kompak bersama 10 siswa asal Indonesia lainnya, yaitu: Iqbal Romadhoni, Aji Nugroho, Didik Ari Wibowo, Ramadana Bagus Perwira, Ali Ervanudin, Reno Nega Maulana, Paskalis Bagas Priswantoro, Muhammad Aulia Rahmadi, Adnan Hamid Ramadhan Azidik, Aris Jatmiko.
Kehadiran Tomomi sebagai warga PSHT kini menjadi ikon baru sekaligus jembatan budaya yang diharapkan mampu menarik minat warga lokal Jepang lainnya untuk mendalami seni bela diri asli Nusantara ini, mengingat di PSHT tidak hanya mengajarkan olah fisik saja, namun sisi spiritual yang cukup dalam.