(foto Ida Resi Arianta (Tengah) saat menyampaikan pembekalan)
BULELENG – Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) terus membuktikan eksistensinya sebagai salah satu organisasi pencak silat terbesar di Indonesia, khususnya di Bali.
Di daerah berjuluk Pulau Dewata ini, tepatnya di Kabupaten Buleleng, perkembangan ajaran Setia Hati memiliki akar historis yang sangat kuat dan tak terpisahkan.
Dewan Pertimbangan Cabang PSHT Buleleng, Ida Resi Arianta, memaparkan pandangannya mengenai pembekalan calon warga pada Sabtu (20/6/2026), yakni tentang pesan moral bagi seluruh warga PSHT di Bali, serta kilas balik sejarah yang menjadikan Bali sebagai salah satu tempat lahirnya ilmu Setia Hati.
“Ini adalah sebuah fakta sejarah yang patut kita syukuri dan banggakan, Buleleng menjadi saksi bisu di mana keilmuan Setia Hati bermula, yaitu Gusti Ida Nyoman Gempol dari Buleleng adalah guru yang menurunkan ilmu kebatinan kepada Eyang Surodiwiryo.” Jelasnya.
Ida Resi Arianta juga menjelaskan tentang makna terdalam yang harus dipahami oleh seluruh warga PSHT tentang ‘Dharma’ yang kuat, bahwa ilmu Setia Hati bukan sekedar teknik bertarung, melainkan olah jiwa yang menyelaraskan antara kecerdasan intelektual, emosional, dan spiritual.
“Dari tanah Buleleng ini, nilai nilai spiritual khas Bali melebur dengan filosofi Setia Hati, mengajarkan kita untuk selalu menjaga keharmonisan dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam semesta dalam satu keselarasan.” Ujarnya.
Sebagai bekal untuk menyongsong PSHT yang lebih baik lagi di Bali, Ida Resi Arianta juga mengajak para warga agar senantiasa menjauhkan diri dari sifat sombong.
“Pesan saya kepada seluruh saudara warga PSHT di Bali, di manapun kalian berada, jangan pernah merasa sombong dengan ilmu dimiliki, jadilah suri teladan di tengah masyarakat, tebarkan kebaikan, dan selalu jaga nama baik perguruan.” Pesannya.
Buleleng memiliki jejak sejarah tersendiri dalam perkembangan ilmu Setia Hati yang dikonsep oleh Eyang Surodiwiryo, mengingat dari Buleleng inilah salah satu guru beliau berasal, yakni Gusti Ida Nyoman Gempol. Sebelum akhirnya sama sama bertemu di Sumatera saat beliau berada di pengasingan.
Ida Resi Arianta juga meminta ke para warga PSHT di Bali untuk dapat menunjukkan bahwa warga PSHT adalah insan yang mampu menjaga toleransi, menghargai adat istiadat, serta kokoh menjaga kedamaian dan kerukunan antar umat.
Hal senada juga disampaikan oleh Biro Humas Pengurus Pusat, Ageng Sambodro yang turut hadir dalam kegiatan tersebut. Menurutnya, Suro sebagai bulan merenungkan diri dan meredam segala nafsu amarah, sehingga bulan ini jadi bagian sakral untuk menyucikan diri.
“Guna menjadi manusia yang lebih baik sebagai insan dunia, tentunya mampu hidup berdampingan dengan alam dan makluk ciptaan lainnya, sehingga dengan hadirnya bulan suro tentu saja menjadi bulan intropeksi diri agar hasil dari renungan tersebut menjadi bekal membentuk manusia yang lebih baik” Ucapnya.
“Bulan ini akhirnya menjadi bulan yang sakral bagi para warga PSHT, khususnya sebagai bulan penyucian batin, bahkan dalam praktiknya tidak hanya saja sebagai bulan renungan, namun bisa diterapkan dalam kehidupan sehari hari.” Tandasnya