Hari ini, era media sosial telah menggempur dengan begitu masif, membuat jari jemari setiap manusia terus menggelitik di depan layar device mereka, di manapun, kapanpun, dan oleh siapapun, menembus batas segala kalangan usia.

Banyak konten yang dengan mudahnya menjadi konsumsi publik, lalu menuai ragam reaksi, ada yang positif dan negatif, dari tua hingga muda ramai memberi komentar.

Entah konten apapun itu, termasuk seputar dunia persilatan. Di usia ke-104 tahun ini, Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) sebagai salah satu organisasi pencak silat terbesar di Indonesia mengangkat tema “Pembawa dan Pemancar Cita”.

Sebuah tema yang tidak sekadar menjadi slogan tahunan, melainkan menyiratkan doa, harapan, sekaligus peringatan keras tentang bagaimana citra organisasi ditampilkan ke khalayak umum.

Di era masifnya konten media sosial yang berisi kegiatan PSHT, hal ini perlu dibijaksanai bagi setiap kalangan anggota. Sebab, hari ini organisasi sedang menghadapi tantangan nyata sesuai isi tema yang digaungkan, yaitu citra organisasi.

-Pisau Bermata Dua Jagat Maya

Dalam AD/ART 2021 lalu, PSHT dijelaskan berdiri 1 September 1922. Kemudian, media sosial telah mengubah lanskap bagaimana sebuah organisasi dinilai di usianya yang sudah lebih dari seabad.

Dulu, masyarakat mengenal PSHT lewat kontribusi nyata di masyarakat seperti kerja bakti, prestasi olahraga, atau budi pekerti baik yang tercermin lewat karakter anggotanya.

Namun hari ini, anggapan publik bisa berubah hanya dalam hitungan detik lewat video pendek yang viral di berbagai platform media sosial. Inilah tantangan terbesarnya, ketika sebagian anggota justru terjebak dalam euforia semu, medsos kerap beralih fungsi menjadi panggung pamer kekuatan ego.

Konten demi konten yang menampilkan arogansi jalanan, saling sindir antar organisasi, atau komentar kasar yang diproduksi oleh “oknum” warga, dengan cepat meredupkan nilai luhur organisasi.

Jempol yang terlalu cepat mengetik ujaran kebencian sering kali melupakan esensi dari “Pemancar Cita” yang tertuang dalam mukadimah.

Padahal, pencak silat bukan tentang siapa yang paling ditakuti di dunia maya, melainkan tentang siapa yang paling mampu menaklukkan egonya sendiri.

-Menjawab Tantangan Digital Lewat Mukadimah

Jika kita mencari jalan keluar dari riuhnya dampak negatif organisasi di media sosial hari ini, kita tidak perlu menengok jauh ke luar. Jawabannya sudah tertulis rapi dalam paragraf terakhir Mukadimah PSHT.

Di sana ditegaskan bahwa tujuan organisasi PSHT hadir “sebagai lembaga yang bergawai dan pemancar cita”, begitulah kira kira bunyinya. Kalimat ini harus diturunkan ke dalam etika para anggotanya, termasuk saat bermedia sosial.

Seorang warga PSHT yang memahami kalimat terakhir isi Mukadimah, maka mustahil baginya menggunakan jemari merajut permusuhan, atau hal tidak bermanfaat lainnya.

Kebenaran digital bukan tentang siapa yang paling banyak mendapatkan respon dari netizen, melainkan tentang kesesuaian tindakan kita dengan ajaran budi pekerti luhur tau benar dan salah sebagai tujuan utama organisasi.

Namun, di ruang siber internet yang tanpa batas, jalinan persaudaraan yang kekal abadi harusnya bisa menjadi perekat persatuan bangsa, bukan justru menjadi pemantik perpecahan.

-Memaknai “Pembawa” dan “Pemancar” Cita.

Dengan berpatokan pada Mukadimah tersebut, tema “Pembawa dan Pemancar Cita” menemukan bentuk sejatinya. Setiap orang yang mengenakan sakral hitam adalah “bagian resmi” organisasi.

Kita membawa beban moral dari isi Mukadimah untuk selalu menunjukkan mana yang benar dan mana yang salah lewat perilaku kita, termasuk ke dalam setiap ruang digital.

“Sebagai Pemancar Cita” ini ibaratnya seperti mercusuar di tengah lautan badai, karena itu warga PSHT harus mampu memancarkan cahaya kedamaian.

Sesuai ujung kalimat Mukadimah, kita berkewajiban ikut serta memancarkan cita yang positif di era modern.

Jika tema di 104 tahun PSHT ini benar benar ditanamkan, maka tampaknya ruang siber di jagat dunia maya bisa bersih dari hoaks, caci maki, dan berbagai macam kebencian lainnya dengan pancaran konten yang menyejukkan.

-Menuju Era “Pendekar Digital”

Menghadapi usia yang sudah lebih dari satu abad, PSHT tidak boleh gagap teknologi, tetapi juga tidak boleh hanyut oleh arus digitalisasi modern yang merusak.

Sudah saatnya kita melakukan “Revolusi Jempol”. Hari ini, tangan dan jari jemari kita harus lebih bijak saat memegang kendali di setiap akun media sosial, langkah konkret inilah yang diharapkan dapat membanjiri ruang publik digital dengan konten yang sarat prestasi dan nilai humanis.

Tunjukkan pada dunia bagaimana keringat pengabdian yang kita tumpahkan di organisasi dapat terdokumentasikan dengan baik, seperti bagaimana warga PSHT turun tangan membantu korban bencana, atau bagaimana indahnya silaturahmi antar organisasi pencak silat, alih alih tawuran.

Konten positif harus diproduksi secara masif untuk menenggelamkan konten negatif yang merugikan. Usia 104 tahun adalah bukti ketangguhan yang luar biasa bagi organisasi PSHT yang telah melewati berbagai zaman, mulai dari kolonialisme, masa kemerdekaan, Orde Baru, hingga era reformasi.

Sungguh sebuah ironi yang menyakitkan jika benteng pertahanan organisasi yang kokoh ini harus retak hanya karena anggotanya yang tidak arif dan bijak dalam memainkan gawai.

-Penutup

Media sosial hanyalah alat, sejatinya jemari kitalah yang memegang kendali arah citra organisasi ke depan. Jadi, mari kita jadikan device di tangan sebagai sarana untuk membuktikan kebenaran isi Mukadimah yang selalu kita dengar di setiap ruang pengesahan.

Ingatlah sebuah falsafah penting kita bersama, “Selama matahari masih terbit dari timur, dan bumi masih dihuni oleh manusia, selama itu pula Persaudaraan Setia Hati Terate jaya, abadi selama-lamanya.”

Namun di era modern ini, kejayaan itu hanya akan terwujud jika kita mampu menjadi manusia yang tahu benar dan salah, serta mampu memancarkan cita yang damai dari setiap ujung jemari kita di dunia maya.

Ditulis oleh : Sojianto, Tim Humas Pusat