(Foto: Potongan kalimat berisikan pesan semangat dari isi tabloid “Keinsjafan Rakjat” tahun 1932. Foto:// Humas PSHT Pusat)
Ditulis oleh: Sojianto (Tim Humas Pusat)
Menyalakan kembali keinsyafan atau kesadaran, mengajak para warga sekalian untuk dapat “Menyalakan Kembali Keinsyafan Ke Diri PSHT”.
Tulisan ini mengangkat dokumen surat kabar terbitan November 1932 sebagai pintu masuk untuk mengenali pemikiran sang pendiri organisasi, Ki Hajar Harjo Utomo (Samingoen) di masa pergerakan kemerdekaan.
Ada sebuah dokumen lama yang mungkin tidak banyak diketahui oleh para warga Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) hari ini. Sebuah surat kabar bernama Keinsjafan Ra’jat, terbitan November 1932.
Pada bagian kepala surat kabar tersebut, tercantum nama Hardjo Oetomo sebagai redaktur yang bertanggung jawab. Lebih dari sembilan dekade telah berlalu sejak diterbitkan.
Namun, beberapa gagasan yang termuat di dalamnya masih terasa dekat dengan persoalan kehidupan masyarakat, bahkan relevan untuk dibicarakan kembali dalam lingkungan organisasi PSHT.
Salah satu tulisan yang menarik perhatian berjudul “Ngoedi santosaning tekad toemoedjoe marang Kedaulatan Ra’jat.” Tulisan tersebut berbicara tentang kesengsaraan rakyat, kemiskinan, ketidakadilan, dan kapitalisme yang terjadi di masa penjajahan, sehingga penting untuk membangun kepercayaan terhadap kemampuan diri sendiri.

(Sampul depan “Keinsjafan Rakjat” terbitan 1932 yang berisi ajakan meraih kemerdekaan”
Membaca tulisan itu seperti diajak memasuki suasana pemikiran pada masa pergerakan, sebuah masa ketika kemerdekaan bukan sekadar cita cita politik, melainkan juga persoalan kesadaran manusia terhadap kedudukan dan martabat dirinya.
Ketua Umum PSHT, Dr. Ir. Muhammad Taufiq SH. M.Sc menjelaskan, dokumen ini diperoleh tidak lepas dari hasil kerja keras peneliti Setia Hati, Agus Mulyana dari hasil riset panjangnya seputar Setia Hati.
“Alhamdulillah, dokumen ini kita dapatkan tidak lepas dari andil kerja keras Mas Agus Mulyana, mudah mudahan pesan semangat perjuangan ini bisa bermanfaat bagi kita sebagai generasi penerus.” jelasnya.

(Foto: Ketua Umum PSHT, Dr. Ir. Muhammad Taufiq SH. M.Sc (tengah) bersama Peneliti Setia Hati, Agus Mulyana (Kanan)”
– Ketika Rakyat Kehilangan Kepercayaan Diri
Dalam bagian pendahuluan, penulis menggambarkan kondisi masyarakat yang semakin terhimpit oleh kesengsaraan, kemiskinan, dan kelaparan.
Keadaan tersebut tidak kunjung membaik meskipun rakyat telah menyerahkan nasib kepada orang orang yang dianggap pandai dan memiliki kekuasaan.
Ada kritik yang cukup tajam terhadap ketergantungan semacam itu, tatkala rakyat sebenarnya punya potensi dan kedaulatan tertinggi, namun memilih bungkam dengan keadaan.
Rakyat seolah olah terus menunggu perubahan dari pihak lain, sementara keadaan mereka sendiri tidak banyak mengalami perubahan jadi lebih baik, padahal semua itu bisa dimulai dari diri mereka sendiri.
Menyikapi kondisi rakyat yang bungkam terhadap potensi diri inilah, salah satu bagian tulisan yang terbit November tahun 1932 tersebut menitikberatkan pada pergerakan melawan penindasan.
“Dari itoe, kita ra’jat djelata haroes bergerak, djika kita tiada soeka tergiles oleh roda kapitalisme imperialisme, dan kita haroes bergerak sendiri dengan penoeh kepertjajaan kepada diri sendiri.”
Kalimat ini menyimpan pesan yang menarik. Perubahan tidak datang jika hanya ditunggu, apalagi diserahkan sepenuhnya kepada orang lain. Jadi, manusia harus memiliki kesadaran untuk bergerak dan percaya terhadap kemampuan dirinya sendiri.
Dalam konteks zaman saat tulisan tersebut diterbitkan, seruan perjuangan ditujukan kepada rakyat yang menghadapi tekanan kolonial, ketimpangan sosial, dan dominasi kelompok yang memiliki kekuasaan.
Namun, jika dibaca dalam konteks kehidupan hari ini, pesan itu juga mengingatkan bahwa ketergantungan dapat menjadi penghalang bagi tumbuhnya kemandirian manusia.
Seseorang tidak akan berkembang apabila terus menerus menempatkan dirinya sebagai pihak yang hanya menunggu pertolongan, arahan, atau keputusan orang lain.
– Ajakan Meraih Kemerdekaan Sejati
Gagasan lain yang patut diperhatikan adalah pandangan mengenai kemerdekaan. Dalam tulisan tahun 1932 ini juga terdapat kalimat pemantik semangat rakyat untuk berkesadaran meraih kemerdekaan.
“Hanja kita ra’jat djelata sendiri jang akan dapat mendatangkan Indonesia Merdeka jang tjotjok dengan kemaoean, keboetoehan dan kepentingan kita, jaitoe Indonesia Merdeka jang berdasar Kedaulatan Ra’jat.”
Pernyataan ini menunjukkan bahwa kemerdekaan yang dicita-citakan bukan semata-mata terbebas dari kekuasaan penjajah. Kemerdekaan juga harus memberikan ruang bagi rakyat untuk menentukan kehidupan berdasarkan kemauan, kebutuhan, dan kepentingannya.
Dengan demikian, kemerdekaan memiliki dimensi yang lebih luas, kemerdekaan berkaitan dengan kesadaran, keberanian, kemandirian, serta kemampuan menentukan arah kehidupan manusia.
Di sinilah kita menemukan satu benang merah yang menarik antara gagasan dalam Keinsjafan Ra’jat dengan tujuan pendidikan manusia dalam ajaran Setia Hati.
Kemerdekaan tidak cukup dipahami sebagai keadaan ketika seseorang tidak lagi berada di bawah kekuasaan orang lain. Lebih dari itu, manusia perlu mengenali dirinya, memahami potensinya, dan memiliki keberanian untuk menggunakan kemampuan tersebut secara bertanggung jawab.
– Keinsyafan Sebagai Titik Awal Perubahan
Nama Keinsjafan Ra’jat sendiri memberikan petunjuk penting tentang gagasan yang hendak dibangun lewat penerbitan surat kabar tahun 1932 tersebut.
Pada bagian akhir pendahuluan, tertulis bahwa keinsyafan atau kesadaran diri merupakan penuntun jiwa meraih kemerdekaan sejati.
“Dari itoe moelailah Keinsjafan-Ra’jat ini, oleh oesaha kita ra’jat sendiri, oentoek mendjadi soeara goemeroeh kita ra’jat menentoet hak dan tjiwa kita itoe.”
Keinsyafan atau kesadaran ditempatkan sebagai sesuatu yang harus dibangkitkan, bukan hanya untuk mengetahui bahwa rakyat sedang mengalami kesengsaraan, tetapi juga untuk menumbuhkan keberanian memperjuangkan hak dan kehidupannya.
Jika ditarik ke dalam konteks pendidikan Setia Hati di PSHT, keinsyafan dapat dipahami sebagai kesadaran manusia terhadap keberadaan dan potensi dirinya.
Manusia yang mengenali dirinya akan lebih mudah memahami tanggung jawabnya, karena tidak hanya mengetahui apa yang menjadi haknya, tetapi juga menyadari kewajibannya terhadap sesama manusia.
Kesadaran semacam ini menjadi penting karena kekuatan manusia tidak hanya terletak pada kemampuan fisik. Ada kemampuan berpikir, mengendalikan diri, mengambil keputusan, serta memberikan manfaat bagi kehidupan.

(Foto: Nama Hardjo Oetomo sebagai Redaktur yang Bertanggung Jawab dalam tabloid Keinsjafan Rakjat 1932. Foto:// Humas Pusat)
Maka, tidak berlebihan apabila gagasan keinsyafan tersebut menjadi salah satu pintu masuk untuk memahami kembali tujuan pendidikan yang diwariskan oleh Pendiri PSHT, Ki Hajar Hardjo Oetomo.
– Membaca Sejarah, Menilai Diri
Sembilan puluh empat tahun berlalu setelah penerbitan Keinsjafan Ra’jat, sekarang kita hidup dalam keadaan yang tentu berbeda. Kini, Indonesia telah merdeka, masyarakat memiliki kesempatan pendidikan yang lebih luas, dan organisasi PSHT telah berkembang melalui berbagai generasi.
Namun, perkembangan zaman tidak serta merta menghilangkan persoalan manusia. Ketergantungan, ketidakmandirian, lemahnya kepercayaan diri, dan ketidakmampuan mengembangkan potensi masih menjadi tantangan hari ini.
Karena itu, membaca kembali dokumen lama bukan sekadar mengenang masa lalu, ada nilai yang dapat dipelajari, terutama tentang bagaimana membangun manusia yang sadar terhadap dirinya dan tidak menyerahkan seluruh kemampuan hidupnya kepada pihak lain.
Bagi warga PSHT, pertanyaan ini menjadi semakin menarik. Apakah pendidikan yang dijalani selama ini telah membantu seseorang mengenali potensi dirinya?
Apakah persaudaraan telah membangun keberanian untuk tumbuh dan mandiri?, apakah keilmuan yang diperoleh telah menjadi bekal untuk memberikan manfaat kepada lingkungan?
Pertanyaan demi pertanyaan tersebut tidak dimaksudkan untuk menghakimi perjalanan organisasi. Justru sebaliknya, hal ini menjadi kesempatan untuk melihat kembali tujuan pendidikan yang selama ini diwariskan.
Sebab, menghormati pendiri tidak cukup hanya dengan menghafalkan sejarah dan menyebut nama besarnya saja. Tetapi, ada pemikiran, semangat, dan cita cita yang perlu terus dipelajari serta diwujudkan sesuai dengan tantangan zaman.
Mungkin itulah salah satu pesan yang dapat kita bawa dari Keinsjafan Ra’jat terbitan November 1932, yaitu perubahan kehidupan harus dimulai dari manusia yang menyadari dirinya sendiri.
Dan sebelum berbicara lebih jauh tentang bagaimana organisasi seharusnya berkembang, ada satu hal yang perlu kita pahami terlebih dahulu, “manusia seperti apa yang sebenarnya hendak dilahirkan melalui pendidikan Setia Hati?”
Bersambung