Setelah membaca bagian pertama dan kedua dari sedikit uraian dangkal penulis tentang jurus Setia Hati karya Muhammad Masdan, kita mulai mengerti bahwa ada proses panjang di belakangnya.

Berapa lama seseorang dapat mempelajari Jurus Pencak Setia Hati (SH)?, kalau ukurannya hanya hafalan, mungkin semalam bisa.

Namun, di sinilah letak kelucuannya, sebab jurus bukan soal siapa yang paling cepat hafal, tapi justru dimulai ketika hafalan itu selesai.

Dalam pemahaman saya sebagai penulis, belajar jurus bukan sekadar tahapan teknis, tapi memerlukan pemahaman yang matang dan mendalam.

Karena, jurus 1 – 36 yang dikonsep Masdan ini punya makna non teknis tentang kehidupan. Dan karena itu, seseorang mungkin telah bertahun tahun mengenal jurus, tetapi tetap merasa belum selesai mempelajarinya.

Karena barangkali memang demikianlah seharusnya sebuah ilmu, semakin dipelajari, semakin kita sadar bahwa masih banyak yang belum kita pahami.

Di sisi lain, ada alasan kenapa Jurus Pencak SH dipelajari setelah seseorang menjadi anggota dalam wadah Persaudaraan Setia Hati yang didirikan oleh Eyang Surodiwiryo (Muhammad Masdan).

Bejalar jurus 1 – 36 ini bukan karena persoalan teknis saja, bukan juga soal bisa dan hafal, tapi ada tanggung jawab yang menyertainya.

Orang yang telah sampai pada tahap tersebut diharapkan sudah cukup dewasa untuk memahami bahwa pencak bukan alat untuk mempertontonkan kemampuan.

Justru semakin banyak yang diketahui, semakin besar tanggung jawab untuk tidak menggunakannya secara sembarangan.

Saya pribadi melihat jurus sebagai salah satu bentuk pendidikan setelah seseorang disahkan menjadi Kadhang.

Kalau di PSHT, yaa menjadi warga, “Anggota yang tetap dan setia.” Tetapi, apapun wadahnya, esensi dari Setia Hati tetap sama, mengajarkan kerendahan hati, bahwa apa yang dipelajari selama ini bukan untuk dipamerkan.

Yang namanya belajar, ada pekerjaan rumah yang tidak selesai dalam semalam, misalnya hari ini belajar satu bagian, besok memahami bagian lainnya, lalu mencoba melihat hubungan antara gerak jurus, dan kehidupan.

Pada akhirnya, jurus tidak hanya melatih tubuh, tapi juga melatih kesabaran, ketelitian, ketekunan, dan mungkin yang paling penting, kemampuan untuk menahan diri.

Karena seseorang yang benar benar sibuk memahami ilmunya akan sadar bahwa pencak bukan panggung untuk menunjukkan siapa dirinya paling hebat.

Pencak Setia Hati justru mengajarkan seseorang untuk mengenal batas dirinya sendiri. Maka jika hari ini kita melihat 1 – 36 nama jurus Pencak SH sebagai sesuatu yang sudah biasa, mungkin sesekali kita perlu berhenti dan merenung,

“Bagaimana mungkin sebuah sistem pembelajaran seperti itu dapat lahir pada zamannya?”

Dari sana kita akan melihat bahwa jurus bukan sekadar warisan gerak, tetapi warisan cara berpikir langsung dari sang Oude Heer Setia Hati, Eyang Surodiwiryo (Muhammad Masdan)

Dan selama kita masih mau mempelajarinya dengan kesungguhan hati, mungkin jurus itu tidak pernah benar benar selesai.

Karena yang diwariskan bukan hanya gerakannya, melainkan cara manusia belajar, memahami, dan menempatkan dirinya di hadapan ilmu.

Tamat

Ditulis oleh : Sojianto (Tim Humas Pusat)