(Foto: Potongan klip Tabloid Keinsjafan Rakjat yang memuat nama Hardjo Oetomo dan tahun penerbitan. Foto:// Humas Pusat)
Tulisan ini memaknai semangat perjuangan Ki Hajar Hardjo Oetomo melalui pendidikan pencak silat, pengenalan potensi diri, dan penerapannya di kehidupan.
Bukan sekadar mengenang penerbitan Keinsjafan Rakjat pada November 1932, melainkan mengajak warga memahami bahwa warisan perjuangan pendiri harus tetap hidup lewat manusia yang sadar akan potensinya, dan bermanfaat bagi sesama.
Ditulis oleh: Sojianto (Tim Humas Pusat)
November 1932 menjadi salah satu penanda penting dalam perjalanan pemikiran perjuangan Ki Hajar Hardjo Oetomo. Pada bulan tersebut, terbit surat kabar Keinsjafan Rakjat yang mencantumkan nama Hardjo Oetomo sebagai redaktur yang bertanggung jawab.
Sebuah penerbitan yang membawa gagasan tentang kesadaran rakyat, kepercayaan terhadap kemampuan diri sendiri, dan perjuangan menuju kedaulatan.
“Dari itoe kita ra’jat djelata haroes bergerak, djika kita tiada soeka tergiles oleh roda kapitalisme imperialisme, dan kita haroes bergerak sendiri dengan penoeh kepertjajaan kepada diri sendiri.” kutipan dari salah satu bagian tulisan dalam tabloid terbitan 1932 tersebut.
Pesan inilah yang memperlihatkan pentingnya kesadaran dan kepercayaan terhadap kemampuan percaya kepada diri sendiri.

(Foto: Potongan Keinsjafan Rakjat 1932, Foto:// Humas PSHT Pusat)
Rakyat tidak cukup hanya menyadari keadaan yang dihadapi, tetapi juga harus punya keberanian untuk bergerak dan mengambil peran dalam menentukan kehidupannya.
Sembilan puluh empat tahun kemudian, semangat itu tetap relevan untuk direnungkan, terutama dalam memahami tujuan pendidikan pencak silat Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT).
– Latihan Sebagai Jalan Mengenali Potensi Diri
Dalam pendidikan di PSHT, latihan merupakan bagian penting dari proses pembentukan manusia. Di dalamnya terdapat pembelajaran gerak, teknik, ketahanan fisik, kedisiplinan, serta pengendalian diri.
Namun, latihan tidak semestinya dipahami jadi sebatas penguasaan jurus, atau paling mahir gerak pencak silatnya. Lebih jauh, latihan merupakan proses untuk mengenali diri sendiri.
Setiap individu memiliki kemampuan, keterbatasan, dan potensi yang berbeda. Melalui latihan yang dijalani secara teratur, seseorang belajar memahami kemampuan tubuhnya, mengukur kekuatannya, menerima kekurangannya, serta berusaha mengembangkan potensi yang dimiliki.
Proses tersebut membutuhkan kesungguhan dan kesabaran, tidak semua kemampuan dapat diperoleh dalam waktu singkat, ada tahapan yang harus dilalui, kegagalan, dan kemajuan dari penggalian potensi diri.
Dari proses itulah, akhirnya keinsyafan diri bisa tumbuh, seseorang mulai memahami bahwa kemampuan bukan sesuatu yang semata mata ditentukan oleh orang lain, melainkan sesuatu yang harus dikenali, dilatih, dan dikembangkan melalui kesungguhan.
Dengan demikian, latihan pencak silat tidak hanya membentuk keterampilan, tetapi juga membuka jalan bagi setiap manusia untuk menemukan, dan mengembangkan potensi dirinya.
– Kepercayaan Diri Melahirkan Manusia Merdeka
Kesadaran terhadap potensi diri selanjutnya menumbuhkan kepercayaan diri, Kepercayaan diri ini bukan berarti merasa paling mampu atau menganggap diri lebih baik daripada orang lain.
Sebaliknya, kepercayaan diri merupakan keyakinan untuk mengenali kemampuan sendiri, berani mengambil keputusan, dan bertanggung jawab atas pilihan yang dijalani.
Ketua Umum PSHT, Dr. Ir. Muhammad Taufiq, S.H., M.Sc., menegaskan bahwa inti ajaran pencak silat yang diwariskan oleh Ki Hajar Hardjo Oetomo adalah menumbuhkan keinsyafan diri pada setiap warga.
“Inti ajaran Pencak Silat yang diwariskan oleh Ki Hajar Hardjo Utomo adalah menumbuhkan keinsyafan diri para setiap warga agar tumbuh rasa kepercayaan diri untuk menjadi orang yang merdeka.” jelas Ketua Umum PSHT.
“Orang yang berani memanfaatkan potensi dirinya agar mampu memberi manfaat bagi dirinya, keluarganya, masyarakat di sekitarnya serta bagi bangsa dan negaranya,” lanjutnya.
Pernyataan tersebut memberikan penegasan bahwa pendidikan pencak silat memiliki tujuan yang lebih luas, daripada penguasaan keterampilan bela diri semata.
Manusia merdeka bukan berarti manusia yang hidup tanpa aturan atau bebas melakukan segala sesuatu sesuka hati, kemerdekaan justru menuntut kesadaran, tanggung jawab, dan keberanian untuk menentukan sikap berdasarkan nilai kebenaran.
Dalam konteks ini, warga PSHT diharapkan tidak mudah kehilangan pendirian hanya karena tekanan keadaan, kepentingan, atau pengaruh lingkungan.
Para warga PSHT harus punya kebebasan berpikir dan bersikap, tanpa melepaskan diri dari nilai persaudaraan, etika, dan tanggung jawab yang telah ia pelajari di organisasi.
– Merdeka Menegakkan Kebenaran
Tidak selalu mudah mempertahankan kebenaran. Dalam kehidupan sehari hari, seseorang dapat berhadapan dengan tekanan, kepentingan, perbedaan pandangan, bahkan suasana yang membuatnya memilih diam meskipun mengetahui sesuatu yang tidak semestinya.
Di sinilah kepercayaan dan keinsyafan diri memperoleh ujian. Pribadi yang merdeka tidak hanya mengikuti arus atau menggantungkan sikap kepada siapa yang sedang memiliki pengaruh.
Pribadi yang merekda harus mampu berpikir jernih, menimbang persoalan, dan menyampaikan kebenaran dengan cara yang bertanggung jawab.
Bagi organisasi, nilai ini juga memiliki arti penting. Persaudaraan tidak seharusnya dimaknai sebagai keseragaman pendapat atau keharusan untuk selalu membenarkan setiap tindakan kelompok.
Persaudaraan justru perlu menjadi ruang yang memungkinkan anggotanya saling mengingatkan, memperbaiki kekurangan, dan menjaga organisasi tetap berjalan sesuai nilai nilai yang diwariskan, sesuai isi sumpah bersama, memelihara persaudaraan baik lahir maupun batin.
Melalui latihan di PSHT, pribadi manusia dibentuk untuk dapat mempunyai kesadaran. Sadar akan potensi yang dimiliki, sehingga proses pengenalan diri bisa dengan mudah dijalani.
– Keberdayaan Diri, Hadirkan Manfaat
Tujuan akhir dari pengembangan potensi diri bukanlah kebanggaan pribadi, melainkan kemampuan seseorang yang dapat menghadirkan manfaat bagi lingkungan kehidupannya.
Ketua Umum PSHT, Dr. Ir. Muhammad Taufiq SH. M.Sc menempatkan kebermanfaatan sebagai bagian penting dari manusia merdeka. Oleh sebab itu, menjadi anggota (warga) artinya mampu memberi manfaat bagi diri sendiri, keluarga, masyarakat sekitar, bangsa, dan negara.
Dalam kehidupan sehari hari, kebermanfaatan ini dapat diwujudkan melalui berbagai peran. Ada warga yang mengembangkan kemampuan di bidang pendidikan, ekonomi, sosial, olahraga, pemerintahan, maupun bidang profesi lainnya.
Lalu, ada pula yang hadir melalui tindakan sederhana, menjaga ketentraman, lingkungan, mendidik generasi muda, atau memberikan pertolongan kepada sesama.
Pada akhirnya, kebermanfaatan bisa dilakukan, dan dimulai dari hal kecil. Tidak semua bentuk pengabdian harus dilakukan melalui jabatan atau posisi tertentu, setiap orang punya ruang dan kesempatan untuk memberi manfaat sesuai kemampuan serta tanggung jawabnya.
Di sinilah semangat perjuangan dari Tabloid Keinsjafan Rakjat tahun 1932, dengan tujuan pendidikan PSHT menemukan relevansinya, yaitu menghadirkan kebaikan dan ikut menjaga keharmonisan kehidupan.
– Keinsjafan Rakjat Dan PSHT
Memperingati 94 tahun terbitnya Keinsjafan Rakjat bukan sekadar mengingat sebuah penerbitan pada masa perjuangan melawan penjajah.
Momentum ini juga menjadi kesempatan bagi PSHT untuk merenungkan kembali bagaimana semangat keinsyafan diri diteruskan melalui pendidikan dan kehidupan organisasi.
Organisasi tidak cukup hanya menjadi tempat berkumpu saja, tetapi harus menjadi ruang yang memungkinkan setiap warga tumbuh bersama, mengenali kemampuan, mengembangkan potensi, serta menemukan kesempatan untuk mengabdi.
Karena itu, keberhasilan PSHT tidak semestinya hanya dilihat dari perkembangan jumlah anggota, banyaknya kegiatan, atau luasnya struktur organisasi. Lebih dari itu, keberhasilan juga tercermin dari kualitas pribadi warga yang dilahirkan melalui proses pendidikan yang ada di PSHT.
Apakah warga semakin mengenali dirinya?, apakah mereka semakin percaya terhadap potensi yang dimiliki?, apakah mereka berani menegakkan kebenaran?, dan apakah keberadaan mereka telah menghadirkan manfaat bagi masyarakat?
Pertanyaan demi pertanyaan tersebut menjadi bagian dari refleksi, yang menghadirkan upaya menjaga semangat perjuangan pendiri agar tidak berhenti sebagai cerita masa lalu.
Jadi, semangat perjuangannya harus tetap diwarisi, dan dijalankan generasi berikutnya. Bukan terus diromantisasi, dan larut pada kehebatan masa lalu.
Latihan adalah awal untuk mengenali potensi diri, kemudian kepercayaan diri menjadi bekal untuk berdiri sebagai manusia merdeka. Keberanian menegakkan kebenaran menjadi wujud dari kemerdekaan, sedangkan kebermanfaatan merupakan bukti bahwa seluruh proses pendidikan telah memberikan arti bagi kehidupan.
Sebagaimana semangat yang tercermin dalam Keinsjafan Rakjat tahun 1932, manusia tidak cukup hanya menyadari keadaan, manusia harus berani bergerak, percaya terhadap kemampuan dirinya, dan mengambil peran dalam membangun kehidupan yang lebih baik.
Sembilan puluh empat tahun telah berlalu sejak tabloid tersebut terbit, tantangan zaman berubah, keadaan masyarakat berkembang, dan organisasi terus menjalani dinamikanya.
Namun, cita cita untuk melahirkan manusia yang sadar, percaya diri, merdeka, dan bermanfaat tetap menjadi pekerjaan yang harus diteruskan, dan diwariskan dari generasi ke generasi.
Sebab, warisan perjuangan tidak hanya dijaga dengan mengenang nama pendirinya, tetapi dengan meneruskan nilai perjuangan melalui kehidupan nyata. Jadi, sudahkah kita semua menggali potensi diri yang kita miliki?