Ketika berbicara tentang Ki Hadjar Harjo Utomo sebagai pendiri organisasi Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) sejak 1922, kita sebenarnya sedang berbicara tentang sebuah perjalanan keilmuan yang panjang.
Beliau bukan hanya dikenal sebagai perintis Persaudaraan Setia Hati Terate, tetapi juga sebagai seorang guru yang memiliki banyak murid dan mewariskan keilmuan kepada generasi setelahnya.
Lalu, beliau ini juga punya banyak sekali murid, di antaranya sebut saja nama nama seperti Harsono, Gunawan Pamuji, Hassan Joyoadi Suwarno, Sastro Harjono (Mantri Botok), Irsad Hadi Widagdo, Santoso Kartoatmojo, Badini, Sumo Sudarjo, Yohannes Salyo, Jendro Darsono, Murtaji Wijaya, Sutomo Mangkujoyo, dan masih banyak lagi, menjadi bagian dari perjalanan panjang tersebut.
Mereka adalah orang orang yang pernah bersentuhan langsung dengan keilmuan sang guru.
Dari para murid inilah, jejak keilmuan kemudian berjalan, berkembang, dan dalam beberapa hal mengalami perjalanan sesuai dengan zaman serta lingkungan tempat keilmuan itu diwariskan.
Karena itu, ketika kita mengenal Jurus Lama, sebenarnya kita tidak hanya sedang belajar tentang gerakan, tapi kita sedang membuka pintu untuk melihat bagaimana luasnya perjalanan keilmuan yang pernah tumbuh di sekitar Ki Hadjar Harjo Utomo.
Dari segi gerakan saja, keilmuan ini sungguh kaya sekali, ada beragam varian gerak baik di jurus tingkat I dengan jumlah 1 – 36, demikian juga dengan jurus bawah atau jurus Twede Trap (TK II) dari Ki Hajar Harjo Utomo.
Tentu saja, setiap murid bisa memiliki pengalaman, pemahaman, dan perjalanan keilmuan yang berbeda, hal itu merupakan sesuatu yang wajar dalam sebuah tradisi keilmuan.
Sebab, seorang guru dapat melahirkan banyak murid dengan jalan pengembangan yang tidak selalu sama satu dengan yang lainnya, dan ini bukanlah hal yang perlu diperdebatkan mana yang paling sohih.
Namun justru di situlah menariknya sejarah, kita bisa melihat bahwa keilmuan pencak silat tidak selalu berjalan dalam satu garis lurus.
Ada guru, ada banyak murid, lalu melahirkan generasi, tempat dan lingkungan ilmu diwariskan juga bisa berbeda, dan tentunya proses panjang yang membuat sebuah keilmuan tetap hidup dari masa ke masa.
Maka, mempelajari Jurus Lama bagi seorang warga PSHT yang telah disahkan, menurut saya, dapat menjadi salah satu cara untuk menambah perbendaharaan keilmuan pribadi.
Bukan untuk menggantikan keilmuan PSHT, apalagi mencampuradukkannya dengan pendidikan organisasi yang ada saat ini.
Ada tempat untuk keilmuan organisasi, dan ada tempat untuk pengayaan keilmuan pribadi, keduanya punya ruang masing masing.
Dengan batas tersebut, seorang warga justru bisa belajar dengan lebih tenang, bisa mengenal jejak keilmuan masa lalu tanpa harus merasa sedang meninggalkan apa yang selama ini menjadi bagian dari perjalanan dirinya di PSHT saat ini.
Sebab semakin banyak kita mengenal sejarah, semakin kita sadar bahwa pencak silat memiliki kekayaan yang luar biasa, apalagi ini keilmuan dari sang perintis.
Apa yang kita lihat hari ini hanyalah salah satu bagian dari perjalanan panjang para perintis organisasi terdahulu yang sudah berlangsung jauh sebelum kita mengenakan pakaian sakral kebanggaan hari ini.
Dan mungkin, dari Jurus Lama kita bisa belajar satu hal sederhana, bahwa sebuah warisan tidak selalu berbentuk benda, kadang ia hidup dalam gerakan, dalam ingatan, dalam cerita seorang guru, lalu berpindah dari seorang murid kepada murid berikutnya.
Karena itu, mengenal Jurus Lama bukan berarti harus kembali ke masa lalu. Kita hanya sedang menengok sebentar, melihat dari mana salah satu jejak keilmuan itu berasal, kemudian kembali melanjutkan perjalanan kita hari ini.
Sebab kalau kita mengaku sebagai bagian dari generasi yang menerima warisan para pendahulu, rasanya tidak berlebihan apabila sesekali kita bertanya, warisan seperti apa yang sebenarnya mereka tinggalkan kepada kita?
Dan untuk menjawab pertanyaan itu, kadang kita memang perlu menengok ke belakang. Bukan untuk tinggal di masa lalu, melainkan agar kita mengerti, dari mana kita berasal.
Ditulis oleh : Sojianto (Tim Humas Pusat)