Ada sebuah kalimat dari Ketua Majelis Ajar, Mas Raharjo Basuki Wiyono, yang menurut saya menarik untuk kita renungkan bersama:
“Jangan campurkan air keruh dengan air jernih.”
Saya tidak ingin menafsirkan kalimat itu terlalu jauh. Apalagi kemudian menyeretnya ke dalam berbagai istilah dan perdebatan yang justru mungkin membuat kita kembali terjebak dalam persoalan yang sama.
Namun sebagai sebuah kalimat reflektif, hal ini menarik untuk kita endapkan bersama. Air jernih dan air keruh, ketika dicampurkan, pada akhirnya tidak membuat air keruh menjadi jernih.
Justru air yang sebelumnya jernih ikut kehilangan kejernihannya. Mungkin, begitulah hidupnya persaudaraan, dan barangkali, yang perlu dijernihkan terlebih dahulu adalah pikiran kita sendiri.
Ada kalanya persoalan datang dari luar, atau kegaduhan yang lahir dari dalam diri kita, dan ketika hati sedang penuh dengan prasangka, amarah, kepentingan, serta kebencian, lalu semuanya dibawa masuk ke dalam ruang persaudaraan, yang terjadi bukan penyelesaian, melainkan semakin keruh.
Karena itu, barangkali kalimat tersebut tidak perlu kita jadikan bahan perdebatan. Cukup kita jadikan bahan untuk bercermin.
“Apakah yang selama ini kita bawa ke dalam persaudaraan adalah kejernihan atau justru kekeruhan?”
“Apakah kita datang untuk merawat guyup rukun, atau datang membawa luka untuk diwariskan kepada generasi berikutnya?”
– Air Jernih Dalam Pengembangan Setia Hati
Dalam pengembangan Ajaran Setia Hati, Kangmas Imam Koesupangat menggunakan paradigma atau istilah “merubah air sungai menjadi air bersih yg layak diminum dan menyehatkan”.
Caranya yaitu dibuatlah saringan demi saringan, melalui sejumlah tahapan. Jika di organisasi, maka akan kita temui tingkatan polos, jambon, hijau dan putih.
Di setiap tingkatan inilah proses pengendapan itu terjadi. Jadi, air yang sebelumnya kotor kini berubah, endapan ditinggal, dan air bersih bisa diolah hingga dikonsumsi agar menyehatkan dan bermanfaat.
Jadi, saringan dalam jenjang latihan di setiap tahapan inilah yang harus kita jaga, jangan sampai saringannya terlalu besar, apalagi prosesnya tidak mengubah air kotor menjadi bersih.
Bersambung.
Ditulis oleh : Sojianto (Tim Humas Pusat)