Sudah berapa kali kita mengulang dan merenungi isi sepuluh wasiat. Atau mungkin, kita malah belum pernah membacanya? Di antara pesan yang diwariskan kepada kita terdapat kalimat:
“Menjaga nama baik SH Terate pada umumnya.”
Lagi lagi, kalimatnya sederhana. Namun kalau kita mau berhenti sejenak dan merenungkannya, ada pertanyaan yang mungkin bakal terasa tidak nyaman.
Nama baik siapa yang sebenarnya sedang kita jaga? Apakah nama baik kelompok kita sendiri? Apakah nama baik orang yang kita dukung? Atau nama baik SH Terate secara keseluruhan?
Sebab, ketika seorang warga bertengkar dengan warga lainnya, yang tercoreng bukan hanya nama pribadi mereka, tetapi nama baik organisasi juga akan ikut buruk.
Ketika persaudaraan berubah menjadi saling hujat, saat perbedaan pandangan organisasi berubah menjadi permusuhan, banyak saudara saling menjelekkan di ruang publik, sampai jagat media sosial di berbagai platform.
Dan mungkin, yang ikut jelek bukan hanya nama mereka, tapi nama besar SH Terate itu sendiri. Padahal wasiatnya tidak berbunyi menjaga nama baik kelompok, atau berbunyi menjaga nama baik orang yang sedang kita dukung.
Tetapi “SH Terate pada umumnya.”
– Bukan Hanya Seremoni
Maka hampir satu dekade setelah peristiwa kudeta 2017, mungkin kita perlu kembali membaca sepuluh wasiat, merenungi isi sumpah bersama dan pepacuh dengan kepala yang lebih dingin.
Bukan untuk mencari siapa yang salah, apalagi membuka kembali luka lama, tetapi untuk bertanya ke dalam diri:
“Apakah cara kita bersikap hari ini sudah mencerminkan orang yang sedang menjaga nama baik SH Terate?”
Sebab organisasi bisa memiliki aturan, kelompok yang beda pandangan juga punya argumen, lalu setiap pihak bisa punya keyakinan dan pembenaran versi masing masing.
Tetapi di atas semuanya, ada sesuatu yang jauh lebih luhur daripada konflik itu sendiri, ini tentang ajaran yang kita terima dari para generasi perintis SH Terate.
Pepacuh, sumpah bersama, dan wasiat, ketiga hal ini semestinya bukan sekedar bagian dari seremoni, melainkan cermin.
Dan setiap kali kita bercermin, yang seharusnya pertama kali kita lihat bukan wajah saudara kita. Melainkan, wajah kita sendiri.
Jadi, saat pertikaian tidak kunjung usai, maka tidak ada salahnya kita merefleksi, dan menyelam jauh ke dalam diri kita sendiri. Barangkali, jawabannya bukan berasal dari luar.
Bersambung.
Ditulis oleh : Sojianto (Tim Humas Pusat)