Barangkali, ada satu hal yang kerap luput saat kita sibuk memperdebatkan siapa yang benar, dan siapa salah saat menghadapi dualisme di tubuh Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) yang tidak kunjung usai.
Hampir satu dekade dualisme ini berlangsung, apakah ini saat di mana integritas kita sebagai warga anggota sedang diuji?, atau ada marwah ajaran yang luput untuk kita jaga?
Mungkinkah kita lupa kalau sebelum menjadi bagian dari organisasi sebesar PSHT, kita pernah mengucapkan sebuah sumpah bersama.
“Menjadi anggota yang tetap dan setia.”
Sumpah yang tidak hanya diucapkan oleh satu orang, tetapi oleh kita semua bersama sama. Di dalamnya ada kesanggupan untuk mentaati aturan organisasi, menjadi contoh yang baik, sampai menjaga persaudaraan, baik lahir maupun batin.
Kalimatnya sederhana, “Sanggup menjaga persaudaraan baik lahir maupun batin.”
Tetapi, bukankah justru kalimat sederhana seperti inilah yang malah kerap kali paling berat untuk kita jalankan?
Sebab, menjaga persaudaraan ketika semuanya sedang baik baik saja bukanlah perkara sulit, tapi yang sulit adalah tetap menghormati saudara ketika pandangan kita berbeda.
Contohnya, tetap menyapa ketika pilihan organisasi tidak sama, tetap menganggap sebagai saudara ketika ia berdiri di sisi yang berbeda dari kita, dan mungkin, di situlah sumpah bersama itu diuji.
Karena sumpah tidak pernah dimaksudkan hanya untuk sebatas diucap ketika pengesahan, melainkan sebagai pengingat bagi diri kita semua.
Menjadi pengingat ketika hati mulai panas, saat perbedaan mulai berubah menjadi permusuhan, dan tatkala saudara sendiri mulai kita lihat sebagai orang yang harus dilawan.
Saat itulah isi sumpah bersama perlu kembali kita renungi. Hampir satu dekade dualisme berjalan, mungkin, sudah waktunya kita bertanya kepada diri sendiri:
“Jangan jangan, selama ini kita terlalu sibuk membela kelompok, sampai lupa bahwa sebelum berada di dalam kelompok mana pun, kita semua pernah berdiri sebagai saudara.”
Bersambung.
Ditulis oleh : Sojianto (Tim Humas Pusat)