(Foto bersama Lilik Supanto (tengah) dengan para saudara SH Terate, Foto :// Dokumen Lilik Supanto)

1984 adalah tahun bersejarah bagi saya saat disahkan menjadi Warga SH Terate dan dikecer oleh (Alm) Kangmas Rusmaryanto, sesepuh tingkat 2 SH Terate Cabang Cepu setelah melalui perjalanan panjang menjadi siswa SH Terate dibawah bimbingan (Alm) Kangmas Budi Hardjono selama 3 tahun.

Momen bersejarah tersebut ikut disaksikan oleh Kangmas Tarmadji Boedi Harsono Ketua Umum SH Terate Pusat saat itu. Dalam sambutannya, saya ingat Kangmas Tarmadji berpesan kepada kami adik adik warga baru untuk terus berpegang pada wasiat dan pepacuh SH Terate, dan mampu menjadi contoh teladan yang baik dalam kehidupan bermasyarakat dalam rangka ikut MEMAYU HAYUNING BAWONO.

Beliau juga berpesan agar terus mengabdi secara ikhlas demi berkembang nya SH Terate dimanapun kami tinggal.

(Lilik Supanto Saat Disahkan Tahun 1984)

– Padepokan Agung Madiun (PAM) Yang Sakral

Sehari setelah menyandang menjadi warga SH Terate untuk kali pertama, saya datang ke Padepokan Madiun menyaksikan pengesahan saudara kami di Madiun.

Itulah kali pertama saya menginjakkan kaki di Padepokan Agung Madiun yang saat itu masih sangat sederhana dan terasa aura sakralnya, dan sejak itulah perjalanan berorganisasi saya dimulai.

Periode tahun 1984 – 1988 saya aktif melatih di beberapa tempat di SH Terate cabang Cepu diantaranya di SMAN 1 Cepu, SD Katholik Cepu, Soos Sasonosuko, dan beberapa tempat di ranting Cepu.

– Perjalanan Awal

Tahun 1988 tepatnya 17 Agustus 1988, perjalanan organisasi saya mulai berkembang ke daerah lain seiring dengan perantauan saya ke Kota Jawara Cilegon Banten.

Alhamdulillah di Kota ini penerimaan warga setempat sangat mempermudah saya utk berkegiatan dan berkontribusi di organisasi SH Terate cabang Cilegon mulai dari menjadi pelatih tingkat Rayon, Ranting hingga dipercaya menjadi Wakil Ketua Cabang Kota Cilegon Banten periode tahun 1998 – 2003.

Momen bersejarah kembali terjadi pada tahun 2000 dimana ketika itu diselenggarakan Mubes SH Terate di Madiun, pada kesempatan ini saya mendapatkan tugas menjadi delegasi Cabang Cilegon bersama Mas Prasetyo AD, Mas Ali Arifi, Mas Suhardi dan mas Sikun Hadi.

Kesempatan ini menjadi kali kedua saya menginjakkan kaki kembali di Padepokan Agung Madiun yang saat itu sudah berubah menjadi megah.

Pada kesempatan ini pula, saya bertemu dan bisa berdialog serta audiensi secara langsung face to face dengan Kangmas Tarmadji didampingi mas Ali Arifin mendiskusikan perkembangan SHT Terate di Cabang Cilegon Khususnya dan Indonesia umumnya.

Saat itu saya menyampaikan kepada beliau tentang profesionalisme warga SH Terate dalam perannya mendidik insan SH Terate. Saat itu beliau sampaikan bahwa belum saatnya warga SH Terate menuju profesionalisme dikarenakan masih terbatasnya SDM di SH Terate itu sendiri.

– Tidak Kemana Mana, Tapi Ada Di Mana Mana

Dikarenakan tugas pekerjaan, tahun 2001 saya harus meninggalkan Cilegon untuk bertugas di Pulau Sumatera, tepatnya di Kabupaten Bengkalis, Kota Duri Riau.

Satu tahun bertugas di kota ini, baru di tahun kedua saya bisa tersambung dengan kegiatan SH Terate setelah melalui pencarian selama satu tahun. Itupun melalui pertemuan yang tidak disengaja karena membaca spanduk akan diadakan acara Wisuda warga baru di sana.

Saya sempat kaget ketika pertama kali berjumpa dengan Kangmas Tjiptadi yang saat itu saya kira Kangmas Tarmadji karena memiliki postur dan wajah yg sangat mirip.

Sejak itulah kemudian saya ikut aktif berorganisasi di Cabang Bengkalis, Riau dan membuka latihan di jalan pala di halaman depan rumah dan juga aktif berinteraksi dengan saudara pengurus IPSI Cabang Bengkalis.

Perjalanan organisasi di Riau ini juga terpaksa di tinggalkan karena mendapat tugas kerja ke Pulau Kalimantan tepatnya di Kota Bontang, Kalimantan Timur pada tahun 2004.

Alhamdulillah di kota ini tidak membutuhkan waktu lama utk bergabung bersama saudara SH Terate di sana karena kebetulan rumah berdekatan dengan Mas Bonamin, seorang warga tingkat 2 dari Bontang.

Di pulau Kalimantan inilah pertemuan ketiga saya dengan Kangmas Tarmadji terjadi, tepatnya saat saya menjadi tim Manager atlit Kota Bontang dalam kejuaraan PSHT Cup se Kalimantan di Kota Balikpapan.

Banyak wejangan beliau saat itu yg disampaikan kepada kami para pemangku organisasi di Kalimantan agar selalu menjadi barometer pencak silat lain di luar PSHT.

Jabatan organisasi terakhir saya di Kota Bontang adalah menjadi Sekretaris SH Terate Cabang Bontang, dan Biro Prestasi di IPSI Kota Bontang.

Tahun 2006, perjalan organisasi SH Terate di Kota Bontang terpaksa juga harus di tinggalkan dikarenakan panggilan tugas lagi di DKI Jakarta. Namun, dikarenakan jarak yang tidak terlalu jauh maka saya stay di Kota Cilegon, dan kembali aktif berorganisasi disana.

Kemudian, dikarenakan tugas area di seluruh Indonesia maka kegiatan berorganisasi sedikit berkurang namun tidak pernah saya tinggalkan, dan selalu mencari jejak keberadaan SH Terate di tempat mana pun saya berada.

Periode tahun 2008 – 2014 saya di tugaskan di Pulau Sumbawa, tepatnya di Kota Maluk Batu Hijau, Sumbawa Barat. Tapi sayang di tempat ini saya tidak berkesempatan bertemu dengan saudara SH Terate, praktis saya tidak bisa ikut berorganisasi, di mana hal ini juga dikarenakan tempat tinggal yang terkonsentrasi di mess perusahaan.

Tahun 2016, saya mendapat tugas kembali di Sulawesi Tenggara, tepatnya di Kota Sorowako. Sayangnya saat itu di Sorowako belum ada tempat latihan. Namun, Alhamdulillah walau agak jauh dengan menempuh perjalanan 18 jam, saya bisa silaturahim dengan saudara SH Terate di Makassar, dan mendapatkan informasi ada latihan terdekat sekitar 2-3 jam dari Sorowako yaitu di kota Palopo.

Kemudian, Di kota Palopo inilah saya berkesempatan menyaksikan malam wisuda warga baru tahun 2016 dan bersilaturahmi dengan warga TK 2, yaitu Kangmas Joko. 8 bulan bertugas di Sorowako, akhirnya saya harus kembali ke Jakarta.

– Kebenaran Tentang Parluh 2016

Saat bertugas di Sorowako tahun 2016 inilah mulai terdengar di telinga saya munculnya hiruk pikuk di Organisasi SHT Terate. Saat itu, dikarenakan tugas kerja, saya memang sedikit tidak mengikuti perkembangan Organisasi di tingkat Pusat.

Saat mendengar desas desus tersebut, saya agak sedikit heran karena di Sulawesi mulai ada issue negatif tentang penyelenggaraan Parluh 2016 utamanya dengan terpilihnya Kangmas Muhammad Taufik sebagai Ketua Umum.

Mencermati kondisi ini maka mulailah saya mencari informasi detail tentang penyelenggaraan Parluh 2016. Karena sudah sejak dini dididik berorganisasi tidak hanya di SH Terate dan juga memiliki pengalaman mengikuti Mubes di Madiun, maka langkah pertama yang saya lakukan adalah mempelajari semua aturan yang dituangkan dalam Tata Tertib Parapatan Luhur dan juga AD/ART hasil PARLUH 2016.

Dan Alhamdulillah, saya sangat mudah mendapatkan akses dokumen tersebut karena era keterbukaan yg menjadi semangat PARLUH 2016. Disamping itu, saya mencari informasi dan berdiskusi dengan para sesepuh dan senior di Cabang Cilegon yg saat itu mengikuti langsung jalannya Parluh 2016 mewakili Cabang Cilegon.

Dari semua informasi yg diterima termasuk data tertulis saya tidak menemukan sama sekali masalah dalam Parluh 2016 termasuk tentang tata cara pemilihan ketua umum, semua sudah sesuai dengan aturan yg di sepakati bersama oleh peserta PARLUH yg di tuangkan dalam Tata tertib dan AD/ART.

– Latihan Tingkat II

Namun demikian, tragedi organisasi ini terus berkembang masif kearah degradasi yang sangat negatif, dan mengarah kepada perpecahan organisasi.

Dengan kondisi seperti ini sebagai warga SH Terate yang memahami dan selalu patuh terhadap aturan organisasi, tentunya saya wajib mengambil sikap yang seharusnya, yaitu membela panji organisasi yang sudah digariskan oleh para pendahulu kita di dalam Mukadimah dan AD/ART.

Sekembali tugas dari Soroako di penghujung tahun 2016, saya mendapatkan mandat oleh Pengurus Cabang Cilegon agar dapat mengikuti pelatihan Tingkat II dan mulai berlatih dibawah bimbingan senior Tingkat II lainnya, diantaranya yaitu Kangmas Amir, Kangmas Totok Winarno dan juga Majelis Luhur diantaranya Kangmas RB Wiyono, Kangmas Eddy Asmanto, Kangmas Willis Gerilyanto, serta Kangmas Hernux.

Tahun 2018, kemudian Alhamdulillah saya dinyatakan berhasil dan dikukuhkan menjadi warga Tingkat II. Menjadi warga Tingkat II di tahun ini bukanlah hal yg mudah karena memiliki tanggung jawab sangat besar untuk mengembalikan marwah organisasi ke titik yang seharusnya, yaitu ajaran “Budi Luhur” dalam bingkai Persaudaraan yg kekal dan abadi.

Bukan hal yang mudah mengingat perpecahan yg sudah begitu nyata dan dalam, tapi juga bukan hal yang tidak mungkin jika kita terus berikhtiar dan berserah diri kepada Allah SWT.

– Dari Aceh, Untuk PSHT

Tahun 2019, kembali saya mendapat tugas kerja di Provinsi Aceh tepatnya di Kota Meulaboh Aceh Barat. Pada kesempatan ini pula Pengurus Pusat SH Terate melalui ketua umum Kangmas Muhammad Taufik memberi mandat dan tugas sebagai Ketua SH Terate Pengprov Aceh.

Mengemban amanah dan tugas tersebut, pelan tapi pasti saya mulai mengkonsolidasi saudara warga yg tinggal di Aceh. Awalnya, dengan membentuk kepengurusan dan latihan di Kabupaten Aceh Barat yg saat itu memang tidak ada sama sekali.

Selang 6 bulan kemudian terbentuk kepengurusan SH Terate di Kabupaten Nagan Raya, lanjut di tahun 2020 terbentuk kepengurusan di Kabupaten Bener Meriah, Aceh Tengah dan Banda Aceh.

Tahun 2020, adalah momen pertama kali ada Pengesahan di Provinsi Aceh dibawah ketua umum Kangmas Taufik yg di pusatkan di Kabupaten Nagan Raya.

Perkembangan signifikan terus berlanjut setiap tahun dan hingga tahun 2019 ini telah terbentuk kepengurusan SH Terate di 9 kabupaten di Provinsi Aceh sebagai berikut : Aceh Barat, Aceh Tengah, Aceh Selatan, Banda Aceh, Bener Meriah, Nagan Raya, Simeulue, Aceh Tenggara dan Aceh Singkil.

– Kesakralan Yang Memudar

Ada momen di tahun 2020 disela cuti pekerjaan, saya menyempatkan diri utk berkunjung ke Madiun dalam rangka silaturahim dengan sesepuh di sana.

Pada saat itu, saya berkesempatan juga berkunjung ke Padepokan Agung Madiun berziarah ke makam Kangmas Tarmadji Boedi Harsono.

Ada perasaan sedih dan haru melihat nisan beliau dan selintas kembali dengan ingatan perjumpaan-perjumpaan dari awal hingga akhir dengan beliau.

Masih terngiang juga nasehat beliau dan masih lekat gestur beliau saat berbicara, berjalan, duduk seolah belum lama berjumpa dengan beliau, Alm. Kang Mas Tarmadji.

Kesedihan begitu sangat mendalam melihat beliau meninggalkan kita semua dalam kondisi organisasi yang sedang sakit. Semoga beliau senantiasa mendapatkan perlindungan dan ditempatkan ditempat terbaik di sisi Allah.

Hal yang sangat miris dirasakan adalah ketika terkahir kali datang ke PAM saat itu adalah diawasi dengan penuh tatapan sinis dan curiga sangat jauh dari nilai ajaran persaudaraan.

Lalu muncul tanya dalam diri, sudah seakut inikah kerusakan ajaran yg di ciptakan oleh oknum elit organisasi melalui gedung ini? Aura Sakral sudah tidak terasa lagi bergantikan aura kemarahan yang muncul di sekitarnya.

Pada kesempatan ini pula saya dapat bersilaturahmi dengan Ibu Tarmadji dan sdr. Bagus Rizki di kediaman almarhum Kangmas Tarmadji.

Semoga beliau senantiasa diberikan kesehatan dan berkah kebahagiaan dari Allah SWT. Perjalanan organisasi masih panjang selama nafas masih terus dititipkan Allah untukku, semoga di sisa nafas ini selalu bisa memberikan manfaat terbaik utk alam sekitar dan semoga masih diberi kesempatan melihat organisasi SH Terate kembali bersatu kembali kepada ajaran Budi Luhur dalam bingkai Persaudaraan yang kekal dan abadi.