BANJARBARU — Padepokan Suryanata menjadi saksi bisu lahirnya gelombang pesilat tangguh, selama dua hari penuh, Sabtu – Minggu (30-31 Mei 2026).
Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) Cabang Banjarbaru menggembleng para pesilat tersebut dengan Tes Calon Warga tahun 2026 yang diikuti oleh 62 siswa pilihan dari 7 Ranting dan Komisariat se-Cabang Banjarbaru.
Ini bukan sekadar ujian, melainkan sarana penempaan jiwa dan raga yang mendebarkan, bahkan kelak akan menjadi hal yang tidak bakal terlupakan bagi adik adik siswa putih angkatan 2026 PSHT Cabang Banjarbaru.
Bedah Jiwa dan Karakter
Gemuruh semangat perjuangan dimulai dengan apel pembukaan yang membakar jiwa pesilat, aura khidmat langsung menyelimuti suasana padepokan Suryanata saat para calon warga dihadapkan pada ujian paling krusial, yaitu Tes Ke-SH-an.
Apa yang kerap kita temui ketika tes Ke SH an selama ini?, mengisi lembar jawaban template?, tapi percayalah, momen kali ini sungguh menguji mental dan keberanian adik adik, karena dikonsep interview langsung dengan penguji.
Di bawah tatapan yang penuh wibawa, para siswa wajib melewati wawancara empat mata. Iya, empat mata. Pengujinya bukan orang sembarangan! Mereka adalah para Warga Tingkat II (TK II) dan barisan sesepuh PSHT Cabang Banjarbaru.
Di sinilah mental mereka Dikuliti, kesetiaan mereka diuji, dan pemahaman seputar Setia Hati langsung mencuat dari lubuk hati terdalam.
Wejangan sarat makna yang menggetarkan jiwa datang dari sosok karismatik, yaitu Anggota Majlis Luhur PSHT sekaligus perintis PSHT Cabang Banjarbaru, Simun Sofyan, di mana beliau menegaskan visi adiluhung organisasi ini.
“Pendidikan di PSHT itu mengutamakan budi pekerti luhur melalui sarana pencak silat, harapannya adik-adik sekalian kelak dapat mengamalkan ilmu bela diri yang didapat dengan baik.” Pesannya
“Latihan PSHT bukan sekadar berorientasi pada bela diri semata, namun lebih ke pemahaman bagaimana membentuk manusia yang bisa mengendalikan diri dan tidak terbawa oleh ego,” tegas Simun Sofyan membakar kesadaran diri para siswa.
Menembus Batas Fisik Puluhan Kilometer!
Malam sunyi berubah menjadi medan pembuktian diri dengan keringat yang bercucur deras. Tanpa rasa takut, 62 siswa putih ini dilepas untuk menaklukkan rute yang tidak pernah mereka bayangkan, yakni Long March sejauh 30 Kilometer!
Start dimulai dari Padepokan Suryanata, mereka membelah kegelapan malam, menerjang dinginnya embun, dan menembus rute yang telah disiapkan pihak panitia sesuai prosedur menuju Trans Gunung Kupang, Cempaka.
Setiap jengkal tanah yang mereka injak adalah bukti ketahanan fisik yang berada di ambang batas manusia normal. Mereka tidak berjalan, mereka sedang mengukir sejarah dengan tapak kaki mereka sendiri!, di sini, di PSHT Cabang Banjarbaru.
Tes Materi: Bukan Sekedar Uji Hafalan
Matahari pagi menyengat, namun energi para calon warga justru kian meledak. Tanpa ampun, tim penguji langsung memborbardir mereka dengan ujian materi PSHT yang telah diajarkan selama ini.
Suasana mendadak riuh oleh tebasan angin dan tetes keringat di bawah cuaca terik yang menggelegar, lantaran mereka harus menggerakkan ratusan gerakan di bawah kondisi stamina yang sudah mencapai ambang batas.
Senam Dasar 1-89 yang presisi dan taktis, Jurus 1 – 34 yang digerakkan penuh ketepatan, dan kecepatan, Senam Toya 1-25 & Jurus Toya 1-14 yang dimainkan dengan kecepatan maksimal, Senam Massal 1-60 yang kompak mengkorinasikan tubuh, Pasang 1-34 sebagai benteng pertahanan yang tak tergoyahkan.
Di tengah ketatnya ujian materi tersebut, Ketua PSHT Banjarbaru, Ifan Kurniawan, memberikan suntikan motivasi yang luar biasa untuk membakar mental para siswa yang dites.
“Tes calon warga ini merupakan hasil rekonstruksi kalian selama latihan, jadi jangan dianggap beban, karena di organisasi setelah kalian semua disahkan, kita harus tulus dan konsisten dalam pengabdian!” seru Ifan Kurniawan dengan penuh semangat.
Puncak Pembuktian: Sambung Persaudaraan!
Sore hari tiba, di bawah guyuran hujan yang membasahi kepala siswa putih yang telah belasan jam berjibaku melampaui ambang batas manusia normal, mereka membawa atmosfer ketegangan ke titik puncak tertinggi.
Acara pemungkas yang paling dinanti pun datang, yaitu sesi Sambung Persaudaraan!Di atas kalangan, mereka saling berhadapan, bertukar pukulan dan tendangan dalam balutan tali persaudaraan yang saling terhubung.
Bukan untuk saling menjatuhkan, melainkan untuk menyatukan rasa, melarutkan ego, dan mengukuhkan ikatan batin bahwa mereka kini adalah satu darah, satu jiwa, dan satu saudara.
Bahkan, Ketua PSHT Cabang Banjarbaru, Ifan Kurniawan juga turut ikut sambung dan memberi contoh teladan yang baik tentang teknik serang dan bela.
Lelah yang disangga bersama sama, antara para pelatih dan pihak panitia, PSHT Cabang Banjarbaru kini resmi menyambut harapan baru bersama para pesilat generasi penerus ini, agar kelak mereka siap menjaga panji organisasi hingga akhir hayat, dan tulus dalam pengabdian.