Ada sesuatu yang terasa janggal dari Madiun kemarin. Bayangkan, sebuah organisasi hendak mengadakan rapat. Saya tegaskan, ini bukan demonstrasi, apalagi perang, bahkan pengerahan massa untuk menduduki sebuah tempat, sama sekali bukan. Hanya rapat organisasi, itu saja.
Orang orang datang membawa mandat, kepentingan organisasi, dan ragam persoalan yang hendak dibicarakan, dan tentu saja membawa perbedaan pandangan.
Tetapi di sekitar situasi ini, muncul pemandangan yang membuat kita patut bertanya dengan serius. Tampak dalam video yang beredar, di sekitar Jl. Merak, ada sekumpulan kelompok yang membawa kayu dan pentungan dengan alasan pengamanan.
Barangkali maksudnya menjaga ketertiban, atau mereka merasa perlu mengantisipasi sesuatu yang tidak diinginkan. Kita tidak perlu menebak nebak apa yang ada di kepala mereka.
Tetapi, satu pertanyaan sederhana rasanya layak diajukan: “Kalau yang hendak dilakukan adalah rapat organisasi, mengapa suasananya harus dipersiapkan seperti hendak menghadapi kerusuhan?”
Di sinilah persoalannya menjadi lebih besar daripada sekadar sebatang kayu. Sebab, kayu itu akhirnya menjadi simbol. Simbol dari bagaimana kita memandang saudara sendiri. Iya, saudara sendiri, bukan orang lain.
Orang orang yang datang untuk menjalankan agenda organisasi ternyata diposisikan seolah mereka adalah ancaman yang harus dihadapi. Padahal, bukankah mereka datang bukan membawa senjata?
Mereka datang membawa hak organisasi, mandat, dan mereka datang untuk berbicara, dan saling bersilaturahmi, menyatukan pandangan dari berbagai daerah.
Dan kalau ada persoalan, bukankah tempat paling tepat untuk menyelesaikannya adalah meja musyawarah?
Bukan di balik barisan massa, apalagi dengan menunjukkan siapa yang lebih banyak, dan tentu bukan dengan memperlihatkan siapa yang lebih siap mengangkat kayu.
Saya kadang berpikir, jangan jangan kita terlalu lama berada dalam pertengkaran sehingga lupa bagaimana rasanya bermusyawarah, kita terlalu terbiasa melihat perbedaan sebagai ancaman.
Padahal dalam organisasi sebesar PSHT, perbedaan seharusnya bukan sesuatu yang menakutkan. Ada AD/ART, mekanisme organisasi, forum musyawarah, dan ada ribuan orang yang diberi mandat untuk berbicara, kalau semua itu masih ada, mengapa kita harus takut?
Bukankah justru di sanalah kedewasaan organisasi diuji?
Sebab organisasi yang sehat bukan organisasi yang tidak pernah berbeda pendapat. Organisasi yang sehat adalah organisasi yang mampu membuat perbedaan pendapat tetap berada di dalam koridor persaudaraan.
Dan mungkin di situlah kita perlu bercermin, lebih dari seabad PSHT berdiri. Kita mengajarkan kepada para anak muda tentang persaudaraan, pengendalian diri, keberanian, tanggung jawab, dan martabat.
Tetapi apa yang mereka lihat ketika organisasi menghadapi perbedaan?
Apakah mereka melihat orang orang dewasa duduk dan berbicara?
Ataukah mereka melihat barisan massa dan kayu di tangan?
Jadi, coba renungkan kembali. Sebenarnya, siapa yang mau kita lawan, dan apa yang mau diamankan?
Karena anak anak muda tidak hanya belajar dari apa yang kita ucapkan di organisasi. Mereka belajar jauh lebih banyak dari apa yang kita contohkan langsung ketika kita sedang berbeda pendapat.
Kalau hari ini mereka melihat bahwa persoalan organisasi dijawab dengan ketegangan, jangan heran kalau suatu hari mereka menganggap ketegangan itu sebagai bagian dari identitas organisasi.
Padahal kita semua tentu tidak menginginkan itu, PSHT terlalu besar untuk diwarisi dengan ketakutan, terlalu tua untuk terus menerus hidup dalam kecurigaan, dan terlalu berharga kalau setiap perbedaan harus selalu berujung pada pertarungan siapa yang paling kuat.
Maka mungkin sudah waktunya kita bertanya kepada diri sendiri. Bukan siapa yang paling kuat? Bukan pula, siapa yang paling banyak massanya? Tetapi, apa yang sebenarnya sedang kita jaga? Gedung? Forum? Jabatan? Atau martabat persaudaraan?
Sebab, kalau sebuah rapat organisasi saja harus dipandang seperti ancaman, barangkali ada sesuatu yang lebih besar yang perlu kita khawatirkan.
Bukan orang orang yang datang membawa mandat yang datang hanya hendak bermusyawarah, tetapi ini tentang cara berpikir kita sendiri.
Karena pada akhirnya, yang membuat sebuah organisasi aman bukan banyaknya kayu yang berdiri di pintu masuk. Yang membuatnya aman adalah ketika orang orang di dalamnya masih percaya bahwa saudaranya tidak perlu diperlakukan sebagai musuh.
Barangkali, permusuhan sejauh ini telah ditanamkan, sehingga mereka menjadi buta hati. Balok kayu di tangan bukan alat untuk melihat manusia lain sebagai ancaman. Sebab, organisasi sebesar PSHT terlalu besar jika hanya dihadapkan dengan sekedar balok kayu di tangan.
Ditulis oleh : Sojianto (Tim Humas Pusat)