Apa sebenarnya yang hendak dilakukan ribuan orang yang datang ke Madiun beberapa hari lalu?Mereka tidak datang membawa agenda untuk mencari keributan. Tidak pula datang dengan niat menguasai sebuah tempat, apalagi membuat kekacauan.
Yang hendak dilakukan sesungguhnya sederhana, yakni menjalankan mekanisme organisasi melalui sebuah forum musyawarah. Kami hanya ingin musyawarah, bukan perang.
Kalimat itu barangkali terlalu sederhana untuk sebuah persoalan yang telah menjadi begitu rumit. Tetapi justru karena sederhana, ia perlu kembali diingat.
Sebab ketika sebuah forum organisasi diperlakukan seperti ancaman keamanan, kita patut bertanya, sebenarnya siapa yang sedang dianggap sebagai musuh?
Mengapa para warga PSHT yang hendak bermusyawarah harus dipandang seolah datang untuk membuat kerusuhan?
Mengapa niat untuk menjalankan agenda organisasi harus lebih dahulu dicurigai sebagai upaya untuk membuat kekacauan?
Dan mengapa suasana harus dibangun seolah Madiun sedang menunggu sebuah perang? Padahal, yang datang adalah saudara sendiri.
Orang yang selama bertahun tahun belajar dalam nama persaudaraan yang sama, orang yang mungkin berbeda pandangan tentang organisasi, tetapi tetap memiliki akar yang sama.
Ribuan orang orang ini datang bukan untuk mengangkat tangan kepada saudaranya, melainkan untuk mengangkat persoalan organisasi ke meja musyawarah.
Di sinilah kita mungkin perlu berhenti sejenak. Sebab sebuah framing, ketika terus diulang, perlahan dapat berubah menjadi persepsi. Persepsi kemudian berubah menjadi ketakutan, dan ketakutan yang dipelihara terlalu lama dapat membuat saudara sendiri terlihat seperti ancaman.
Padahal belum tentu demikian kenyataannya, bukankah lebih sederhana jika kita percaya terlebih dahulu bahwa orang datang dengan niat baik?
Kalaupun terdapat kekhawatiran, bukankah kekhawatiran itu dapat dibicarakan melalui komunikasi, koordinasi, dan mekanisme organisasi?
Mengapa harus membangun suasana seolah sebuah persaudaraan sedang bersiap menghadapi perang?
PSHT bukan organisasi yang lahir dari kebencian. Di dalam ajarannya, kita mengenal pengendalian diri. Iya, kita dikenalkan persaudaraan. Kita diajarkan untuk mampu mengendalikan kekuatan, bukan sekadar memilikinya.
Karena itu, ketika ada persoalan organisasi, bukankah tempat paling tepat untuk menyelesaikannya tetaplah meja musyawarah?Bukan barisan massa, apalagi sambil bawa kayu pentungan.
Sebab ketika persoalan organisasi sudah berubah menjadi pertunjukan kekuatan, kita sebenarnya sedang menjauh dari esensi yang hendak kita pertahankan.
Kita hendak mempertahankan organisasi, yang hendak dijaga adalah persaudaraan.Bukan ego kelompok, gengsi, atau kebanggaan karena berhasil membuat saudara sendiri merasa terancam.
Mungkin karena itu, penundaan Parluh 2026 seharusnya menjadi ruang untuk melakukan introspeksi bersama. Bukan hanya bertanya mengapa forum tidak jadi dilaksanakan, tetapi juga bertanya mengapa sebuah forum organisasi bisa sampai dipandang seperti potensi kerusuhan.
Apa yang membuat kita sampai tidak percaya kepada saudara sendiri?
Apa yang membuat musyawarah terasa seperti ancaman?
Dan sejak kapan perbedaan pandangan harus dipersiapkan untuk dihadapi dengan kekuatan fisik?
Berbagai macam pertanyaan itu mungkin tidak nyaman. Tetapi kadang, sesuatu yang tidak nyaman justru perlu ditanyakan agar kita tidak terus berjalan dalam arah yang keliru.
Sebab PSHT sudah terlalu tua untuk terus hidup dalam kecurigaan. Lebih dari satu abad perjalanan seharusnya cukup untuk mengajarkan bahwa konflik kepengurusan hanyalah bagian kecil dari perjalanan sebuah organisasi.
Jangan sampai persoalan yang usianya belum seberapa dibandingkan umur persaudaraan justru membuat kita lupa bahwa sebelum menjadi kelompok, kita adalah saudara.
Dan pada akhirnya, ribuan orang itu akan pulang. Pulang ke daerah masing masing, kembali kepada keluarga, pekerjaan, dan kehidupan sehari hari.
Madiun akan kembali seperti biasa, sementara persoalan organisasi akan menemukan waktunya sendiri untuk diselesaikan. Tetapi satu hal semestinya tetap kita bawa pulang, bahwa kita datang bukan untuk berperang, karena kita ingin bermusyawarah.
Kalaupun pintu belum terbuka, kita tidak perlu mendobraknya, jikalau forum harus ditunda, kita tidak perlu membalasnya dengan kemarahan.
Sebab persaudaraan yang sesungguhnya bukan hanya tentang bagaimana kita duduk bersama ketika keadaan tenang, Persaudaraan justru diuji ketika keadaan tidak sesuai dengan yang kita harapkan.
Maka biarlah Madiun menjadi sebuah catatan, bahwa pernah ada saudara yang datang dengan niat bermusyawarah, tetapi suasananya dibingkai seolah hendak terjadi kerusuhan.
Dan semoga catatan itu tidak berhenti sebagai keluhan, melainkan menjadi cermin. Agar suatu hari nanti ketika pintu musyawarah kembali dibuka, tidak perlu lagi ada prasangka yang berlebihan.
Tidak perlu ada rasa takut terhadap saudara sendiri, tidak perlu ada suasana seperti hendak menghadapi perang, sebab yang datang hanyalah warga PSHT yang ingin menyelesaikan persoalan rumahnya sendiri.
Kami hanya ingin musyawarah, bukan perang. Dan kalau akhirnya harus kembali pulang, kami ingin pulang dengan cara yang sama ketika datang, dengan damai.
Karena rumah sebesar PSHT tidak seharusnya dipertahankan dengan membuat saudara sendiri merasa sebagai musuh. Rumah sebesar PSHT seharusnya dijaga dengan satu hal yang sejak awal menjadi tonggak utama, yaitu Persaudaraan.
Ditulis oleh: Sojianto (Tim Humas Pusat)