Apa sesuatu yang sesungguhnya hendak dibuka di Padepokan Agung Madiun pada Parapatan Luhur (Parluh) 2026? Pertanyaan itu mungkin terdengar sederhana. Sebab pada awalnya, Parluh 2026 memang hendak menjadi sebuah agenda organisasi lima tahunan.
Ada peserta, persidangan, agenda, pembahasan, sampai keputusan yang nantinya akan kembali dibawa pulang ke daerah masing masing. Namun, bagi sebagian orang, Parluh tidak pernah sesederhana itu.
Di balik perjalanan menuju Madiun, ada kerinduan yang mungkin tidak pernah tertulis dalam daftar acara. Ada saudara yang datang dari berbagai daerah, bahkan dari pulau yang berbeda.
Menempuh perjalanan ribuan kilometer bukan karena akan mendapatkan keuntungan material dari sebuah rapat organisasi. Mereka datang karena sesuatu yang lebih sederhana, karena hati mereka masih tertambat pada organisasi ini.
Karena nama Persaudaraan Setia Hati Terate bagi mereka bukan sekadar nama sebuah organisasi, melainkan bagian dari perjalanan hidup. Maka ketika kemudian agenda itu harus ditunda, barangkali yang perlu kita renungkan bukan hanya soal kapan Parluh akan kembali dilaksanakan.
Ada sesuatu yang lebih penting untuk dipikirkan. Sebab, Parluh boleh tertunda, tetapi persaudaraan jangan ikut tertunda. Konflik boleh membuat sebuah agenda berhenti sejenak, tetapi jangan sampai ia membuat hati orang orang yang selama ini menyebut dirinya saudara ikut berhenti mengenali satu sama lain.
Beberapa hari terakhir, kita telah melihat bagaimana perbedaan pandangan mengenai organisasi dapat berkembang menjadi sesuatu yang begitu serius.
Ada kelompok yang berbeda pandangan, ada kepentingan yang berhadapan, ada orang orang yang saling mempertanyakan, bahkan ada suasana yang membuat sebuah agenda organisasi seolah harus dipandang sebagai sesuatu yang mengancam.
Padahal pada akhirnya, semua yang diperdebatkan itu tetap berada dalam satu rumah besar, yaitu Persaudaraan Setia Hati Terate. Dan mungkin, justru karena Parluh 2026 ditunda, kita mendapatkan kesempatan untuk berhenti sejenak.
Untuk bertanya kepada diri sendiri, benarkah saudara harus kembali berhadapan hanya karena perbedaan pilihan dan pandangan tentang organisasi?
Benarkah sebuah forum lima tahunan harus menjadi ruang untuk menghidupkan kembali luka yang seharusnya perlahan disembuhkan?
Ataukah penundaan ini justru memberi kita waktu untuk memahami kembali bahwa persaudaraan memiliki usia yang jauh lebih panjang daripada konflik kepengurusan?
Mereka yang hendak datang ke Madiun membawa cerita yang beragam, ada yang datang sebagai peserta, penggembira, membawa mandat organisasi.
Dan mungkin ada pula yang datang tanpa membawa apa apa selain keyakinan pribadi bahwa ia ingin melihat organisasi yang dicintainya tetap berjalan.
Di antara mereka, mungkin ada orang yang selama bertahun tahun tidak pernah saling bertemu.Ada yang pernah berbeda jalan, pilihan, bahkan mungkin pernah kecewa.
Namun, semua itu sesungguhnya tidak menghapus satu hal sederhana: Mereka pernah belajar di rumah yang sama.
Mereka pernah menyebut nama persaudaraan yang sama. Dan, mereka pernah percaya bahwa di balik perbedaan apa pun, ada sesuatu yang lebih besar yang mengikat mereka.
Itulah mengapa Parluh 2026 seharusnya tidak hanya dibaca melalui hasil sidang, bukan hanya siapa yang berbicara, atau siapa yang hadir, bukan pula hanya siapa yang nantinya mendapatkan mandat.
Lihatlah ribuan orang yang bersedia menempuh perjalanan jauh. Lihat waktu yang mereka korbankan, biaya yang mereka keluarkan, sampai wajah lelah setelah perjalanan berjam jam.
Mereka datang karena merasa ada sesuatu yang harus dijaga. Dan sesuatu itu barangkali bukan sekadar struktur organisasi, melainkan rasa memiliki.
Sebab organisasi tidak hanya hidup di dalam AD/ART, organisasi hidup ketika seseorang masih bersedia hadir meskipun tidak mendapatkan apa apa secara material.
Organisasi hidup ketika seseorang masih merasa bahwa rumah ini adalah rumahnya, dan rasa memiliki semacam itu tidak lahir dari surat keputusan.
Ia lahir dari perjalanan panjang, dari latihan, dari guru, dari saudara seorganisasi, dari kenangan, dan dari jatuh dan bangun bersama. Karena itu, penundaan Parluh 2026 barangkali justru memberi kita ruang untuk bercermin lebih lama.
Bukan cermin untuk melihat siapa yang paling benar, bukan pula untuk mencari siapa yang paling salah. Tetapi, untuk melihat sejauh mana kita telah tumbuh setelah melewati berbagai persoalan.
Apakah konflik masa lalu masih mampu mengendalikan kita?
Apakah perbedaan pandangan masih harus membuat kita saling mencurigai?
Dan yang paling penting Apakah kata persaudaraan masih memiliki makna ketika kita berhadapan dengan saudara yang berbeda pandangan?
Sebab mudah mengatakan persaudaraan ketika semuanya sependapat, yang sulit adalah tetap menyebutnya persaudaraan ketika kita berbeda.
Madiun akhirnya mungkin belum menjadi tempat kita menyelesaikan semuanya, pintu Padepokan Agung belum menjadi saksi dari sebuah forum besar sebagaimana yang direncanakan.
Orang orang yang telah bersiap melakukan perjalanan mungkin harus menunda kepulangannya, atau bahkan membatalkan perjalanan yang sudah direncanakan.
Tetapi barangkali ada satu hal yang justru sudah lebih dahulu terjadi.Kita dipaksa berhenti, berhenti dari hiruk pikuk, berhenti dari saling berhadapan, sampai berhenti sejenak dari pertanyaan tentang siapa yang akan berdiri di depan.
Dan akhirnya, kita mulai bertanya kepada diri sendiri, untuk apa kita semua masih berada di sini? Mungkin pertanyaan itulah yang sesungguhnya perlu dibuka, bukan hanya pintu Padepokan Agung Madiun, tetapi hati kita sendiri.
Hati yang mungkin selama ini terlalu penuh oleh perbedaan.
Hati yang mungkin terlalu lama menyimpan kecewa.
Hati yang mungkin lupa bahwa sebelum menjadi kelompok, kita adalah saudara.
Sebelum membawa atribut kepengurusan, kita adalah warga anggota yang tetap dan setia. Dan sebelum berbicara tentang siapa yang paling berhak berdiri di depan, kita seharusnya mampu mengingat kembali alasan mengapa dahulu kita memilih untuk berjalan bersama.
Parluh 2026 mungkin ditunda, keputusan organisasi mungkin belum lahir, forum lima tahunan itu mungkin masih menunggu waktu yang tepat untuk kembali dibuka.
Tetapi sejarah tidak harus menunggu sampai ruang sidang dibuka untuk memberikan pelajaran. Barangkali, justru jeda inilah pelajarannya.
Bahwa organisasi yang telah melewati lebih dari satu abad tidak boleh kehilangan arah hanya karena sebuah konflik yang usianya jauh lebih muda daripada perjalanan persaudaraan itu sendiri.
Bahwa kita boleh berbeda pandangan tanpa harus kehilangan saudara.
Bahwa kita boleh memperjuangkan sesuatu tanpa harus merendahkan sesuatu yang lain.
Dan bahwa tidak semua kemenangan harus ditandai dengan adanya pihak lain yang merasa kalah.
Sebab pada akhirnya, rapat lima tahunan akan selesai.Keputusan akan dicatat, peserta akan kembali ke daerah masing-masing, mereka yang datang dari luar pulau akan kembali menempuh perjalanan pulang.
Berita tentang Parluh 2026 pada suatu hari nanti mungkin hanya menjadi bagian kecil dari sejarah panjang organisasi ini. Tetapi, bagaimana kita memperlakukan persaudaraan di tengah persoalan ini, barangkali akan tinggal jauh lebih lama.
Maka ketika kelak pintu Padepokan Agung Madiun benar benar dibuka kembali, semoga yang datang bukan hanya kumpulan orang yang membawa mandat.
Bukan hanya mereka yang membawa kepentingan, tetapi orang orang yang telah terlebih dahulu membuka hatinya. Sebab mungkin, sejak awal, yang hendak dibuka di Madiun bukan hanya sebuah pintu. Barangkali, yang sesungguhnya sedang dibuka adalah hati kita sendiri.
Ditulis oleh: Sojianto (Tim Humas Pusat)