Madiun beberapa hari terakhir barangkali mengajarkan sesuatu yang sederhana kepada kita, bahwa sebuah persaudaraan yang besar tidak selalu harus dibuktikan dengan bagaimana ia berkumpul.

Kadang, justru cara sebuah persaudaraan menghadapi keadaan ketika sesuatu tidak berjalan sesuai rencana, jauh lebih banyak bercerita tentang dirinya.

Parapatan Luhur 2026 akhirnya ditunda. Namun, banyak hal yang bisa kita ambil pelajaran di balik itu, di mana Padepokan Agung Madiun (PAM) belum menjadi tempat berlangsungnya forum lima tahunan sebagaimana yang direncanakan.

Perjalanan yang sudah dipersiapkan harus dihentikan, agenda yang sudah disusun harus ditata kembali, dan keputusan yang seharusnya lahir dari forum tersebut masih harus menunggu waktu.

Tentu saja, tidak semua orang mudah menerima keadaan seperti itu. Tetapi mungkin, di tengah situasi yang tidak mudah ini, PSHT justru sedang mendapatkan kesempatan untuk memperlihatkan sesuatu yang jauh lebih penting daripada sekadar terlaksananya sebuah agenda.

Yaitu bagaimana persaudaraan menjaga dirinya ketika berada dalam tekanan. Sebab sejak awal, mereka yang hendak datang ke Madiun tidak datang untuk berperang.

Tidak datang untuk mencari keributan, atau untuk menunjukkan siapa yang paling kuat, karena mereka datang demi sebuah panggilan organisasi.

Datang membawa mandat, harapan, dan yang utama datang sebagai saudara. Karena itu, barangkali kita perlu mengingat kembali sesuatu yang sangat sederhana:

“PSHT datang dengan damai.”

Kalimat itu sebenarnya tidak membutuhkan penjelasan panjang. Sebab, orang yang datang dengan niat baik tidak perlu menunjukkan kekuatannya untuk meyakinkan siapa pun.

Orang yang datang untuk bermusyawarah tidak membutuhkan ancaman. Dan, orang yang datang sebagai saudara tidak seharusnya diperlakukan seperti musuh.

Mungkin justru di situlah kedewasaan organisasi diuji, bukan ketika semuanya berjalan sesuai keinginan. Tetapi, ketika pintu yang hendak dimasuki ternyata belum bisa dibuka.

Dalam keadaan seperti itu, pilihan paling mudah adalah membalas ketegangan dengan ketegangan, membalas kecurigaan dengan kecurigaan, membalas sikap keras dengan sikap yang lebih keras. Namun, persaudaraan mengajarkan sesuatu yang berbeda.

Bahwa tidak semua keadaan harus dijawab dengan perlawanan. Kadang, menjaga martabat justru berarti memilih untuk tidak memperpanjang keadaan.

Maka ketika Parluh ditunda, pulang bukan berarti kalah, meninggalkan tempat bukan berarti menyerah, dan menahan diri bukan berarti tidak mampu melakukan apa apa.

Ada saatnya seseorang memilih mundur satu langkah bukan karena takut, melainkan karena memahami bahwa masih ada sesuatu yang jauh lebih besar yang harus dijaga, yaitu Persaudaraan.

Sebab kemenangan yang sesungguhnya bukanlah ketika kita berhasil membuat saudara kita tersingkir, bukan pula ketika sebuah tempat berhasil dikuasai.

Apalagi, ketika perbedaan berhasil dipertontonkan sebagai pertarungan, sama sekali tidak. Kemenangan terbesar justru ketika setelah semua ketegangan berlalu, kita masih mampu melihat orang yang berbeda pandangan sebagai saudara.

Itulah sebabnya saya kira, perjalanan menuju Madiun kemarin jangan hanya dikenang sebagai perjalanan yang berakhir dengan penundaan. Bisa jadi, perjalanan itu justru memberikan pelajaran lain, tentang kesabaran, pengendalian diri, sampai bagaimana menjaga nama baik organisasi tanpa harus membuat keadaan semakin keruh.

Dan tentang bagaimana sebuah persaudaraan memilih jalan damai meskipun suasana tidak selalu memberikan ruang yang mudah untuk itu. PSHT tidak perlu membuktikan dirinya dengan keributan, atau membalas setiap prasangka yang datang, tidak perlu juga menjawab setiap tuduhan dengan suara yang lebih keras.

Sebab organisasi yang telah melewati perjalanan panjang semestinya memahami bahwa waktu jauh lebih panjang daripada sebuah persoalan.

Hari ini mungkin penuh ketegangan. Besok, keadaan bisa berubah, dan orang orang yang hari ini berdiri berseberangan, suatu saat mungkin kembali duduk dalam satu lingkaran. Dan ketika saat itu tiba, semoga tidak terlalu banyak luka yang harus dijelaskan.

Karena itu, biarlah Madiun menjadi catatan, bahwa kita pernah datang membawa niat baik, bahwa kita pernah bersiap untuk bermusyawarah. Dan, akhirnya agenda Parluh 2026 memang pernah tertunda.

Dan bahwa dalam keadaan yang tidak mudah sekalipun, kita memilih untuk tidak menjadikan saudara sebagai musuh. Sebab pada akhirnya, orang orang akan kembali ke daerahnya masing masing, peserta kembali kepada keluarganya, pengurus kembali kepada tugasnya, dan pelatih kembali ke rayon, sampai siswa kembali berlatih.

Kehidupan berjalan sebagaimana biasanya, sementara persoalan organisasi akan menemukan jalannya sendiri. Mungkin bukan hari ini, bukan besok, tapi suatu hari nanti, pintu itu akan kembali dibuka.

Dan ketika saat tersebut tiba, semoga yang datang bukan orang orang yang membawa dendam dari masa lalu.

“Melainkan orang-orang yang membawa kesadaran bahwa rumah ini terlalu besar untuk diwariskan dalam keadaan terluka.”

Maka jika hari ini kita harus meninggalkan Madiun tanpa sebuah keputusan sebagaimana yang diharapkan, biarlah kita membawa pulang sesuatu yang lain. Bukan kemarahan, kebencian, dan bukan pula cerita tentang siapa yang lebih kuat. Tetapi, satu keyakinan sederhana:

“Kita datang dengan damai.”

Dan ketika keadaan mengharuskan kita kembali,

“kita pun pergi dengan damai.”

Karena bagi sebuah persaudaraan, menjaga kedamaian bukan tanda kelemahan, justru di situlah kekuatan kita diuji. Dan mungkin, kelak sejarah tidak hanya mencatat bahwa Parluh 2026 pernah ditunda.

Sejarah juga akan mencatat bahwa pada sebuah hari yang tidak mudah di Madiun, kita memilih untuk tetap menjadi apa yang sejak awal kita ikrarkan, yaitu saudara.

Datang dengan damai, pergi dengan damai, dan yang lebih penting, pulang tetap sebagai saudara. Jadi, Madiun, terimakasih, kami pulang dengan damai.

Ditulis oleh: Sojianto(Tim Humas Pusat)