Aktif dalam organisasi pencak silat di lingkungan perguruan tinggi memberikan nilai tambah besar yang tidak didapatkan mahasiswa di dalam kelas formal.
Wakil Ketua Umum Bidang Organisasi Pengurus Pusat Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT), Ari Sujito, menyatakan bahwa komisariat PSHT di lingkup kampus dirancang sebagai sarana strategis untuk menggembleng jiwa kepemimpinan (leadership) mahasiswa.
Menurut Ari Sujito, esensi pendidikan di perguruan tinggi tidak boleh hanya diukur dari pencapaian akademik atau Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) semata, melainkan peran lain yang tidak didapat dari sisi akademik, seperti leadership ketika kita ikut di organisasi.
“Para kadang (anggota) kita tidak diajari ilmu leadership oleh dosen di kelas. Nah, kemampuan itu justru didapatkan di luar kelas melalui aktivitas organisasi,” ujar Ari dalam diskusi di Youtube Humas PSHT Pusat.
Ia memaparkan, mahasiswa yang aktif di komisariat PSHT lingkup kampus dilatih secara nyata untuk mengelola waktu, menyusun skala prioritas, mendesain program kerja, hingga membangun jaringan kerja sama (networking) yang luas.
“Kelebihan utama kaderisasi PSHT di lingkup kampus terletak pada kombinasi gemblengan fisik dan mental yang terukur, hal ini dinilai mampu menumbuhkan keberanian mahasiswa dalam berargumen dan kreatif dalam meneruskan kiprah organisasi.” Jelasnya
Lebih lanjut, Wakil Rektor UGM ini berharap kaderisasi di tingkat komisariat terus didorong agar adaptif dalam menghadapi kompleksitas zaman. Keaktifan di organisasi menjadi bekal investasi yang sangat berharga bagi mahasiswa setelah lulus kuliah kelak.
“Melalui wadah ini, kita membentuk pendekar yang intelektual, berani karena benar, dan siap menjadi pemimpin di masa depan yang berkontribusi nyata bagi bangsa,” tandasnya.
-Different Output For Different Ecosystems
Sekretaris I Komisariat Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) Komisariat Universitas Jambi (UNJA) Periode 2016 – 2020, Provinsi Jambi, Nailul Rofika juga turut membagikan pengalamannya selama setengah dekade berkecimpung di lingkup Komisariat PSHT kampus.

(Nailul Rofika dengan seragam Komisariat PSHT Universitas Jambi tahun 2019. Foto:// Nailul Rofika)
Menurutnya, menjalankan organisasi di lingkup kampus memberi visibilitas dan ruang aktualisasi yang luas, fenomena ini lebih mengarah ke pembinaan para warga PSHT untuk meningkatkan kompetensi sesuai dengan suasana di perguruan tinggi.
“Komisariat PSHT di Universitas berada dalam lingkungan akademik yang identik dengan budaya berpikir kritis, diskusi ilmiah, inovasi, dan kolaborasi lintas disiplin.” Jelasnya.
Mahasiswa yang didominasi dari berbagai daerah dengan latar belakang dan pengalaman yang beragam juga turut memberi pola pembinaan bagi organisasi untuk mencetak kader pemimpin di masa depan.
“Selain menjalankan pembinaan sebagai warga PSHT, Komisariat juga punya peluang untuk berinteraksi dengan berbagai elemen kampus, seperti seminar, kolaborasi dengan organisasi kemahasiswaan lainnya, sehingga akan membentuk jiwa kepemimpinan yang lebih kuat.” Tuturnya.
Karakter lingkungan PSHT di komisariat kampus juga punya ekosistem yang tepat untuk menghasilkan output kepemimpinan bagi para warga anggota di masa depan kelak, karena kompetensi yang dihadapi lebih beragam.
“Komisariat PSHT di perguruan tinggi adalah ekosistem yang bisa menghasilkan kader dari dunia akademik dan profesional, jadi harapannya para pemimpin bisa tercetak lewat fondasi akademik yang diperoleh dari kampus.” Tandasnya.