(Foto : Ribut Giyono saat Grand Final Sirkuit PSHT Kalimantan Selatan di Tanah Laut, 2021)
Bagi seorang pendekar, gelanggang bukan hanya tempat untuk menaklukkan lawan, melainkan ruang untuk belajar menaklukkan ego dalam diri sendiri.
Di situlah nilai pencak silat menemukan maknanya, bukan hanya melalui ketangkasan gerak, tetapi juga melalui pembentukan karakter dan pengabdian kepada sesama.
Prinsip tersebut menjadi bagian dari perjalanan Kangmas Ribut Giyono, salah satu sesepuh Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) di Kalimantan Selatan.
Namanya dikenal melalui kiprah panjang dalam merintis, membina, dan mengembangkan organisasi, dari Banjarmasin, Kalimantan Selatan (Banua) hingga ke sejumlah wilayah di luar negeri.
Bagi Ribut, PSHT bukan semata-mata organisasi pencak silat. Di dalamnya terdapat nilai persaudaraan, kemanusiaan, dan tanggung jawab moral yang harus diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.
“Tidak hanya organisasi, dari PSHT saya belajar tentang nilai kemanusiaan, dan inilah yang membawa saya berhasil meraih penghargaan Hassan Wirayuda tahun 2022 dari Kementerian Luar Negeri,” ucap Ribut Giyono saat penulis berkunjung ke Padepokan Badini, Desa Padang Panjang, Kabupaten Banjar, pada Desember 2024.
Pernyataan itu menggambarkan bagaimana nilai-nilai yang dipelajari dalam persaudaraan dapat melampaui batas gelanggang. Bagi Ribut, ilmu Setia Hati tidak berhenti pada penguasaan teknik bela diri, tetapi harus menemukan bentuknya melalui sikap, tindakan, dan manfaat yang diberikan kepada lingkungan.
-Merintis dari Kota Seribu Sungai
Perjalanan pengabdian Ribut Giyono di Kalimantan Selatan bermula pada 1990. Ketika itu, ia membawa semangat untuk memperkenalkan dan mengembangkan PSHT di Banjarmasin.
Merintis organisasi tentu bukan pekerjaan yang selesai dalam satu malam. Diperlukan ketekunan, kesediaan membina, serta kemampuan menjaga keberlangsungan latihan dan persaudaraan.
Pengalaman tersebut menjadi bagian dari perjalanan Ribut hingga dipercaya mengemban amanah sebagai Ketua Cabang PSHT di wilayah Banjarmasin dan Barito Kuala pada medio 1990-an.
Dalam perjalanan berikutnya, ia juga pernah mengemban kepemimpinan cabang di wilayah Kotabaru dan Tanah Bumbu. Pengalaman memimpin di wilayah yang berbeda memperlihatkan luasnya ruang pengabdian yang pernah dijalaninya.
Namun, bagi Ribut, pengabdian tidak semestinya diukur dari jabatan ataupun pengakuan yang diterima.
“Sejauh apa pun kiprah kita di organisasi nanti, jangan pernah minta pengakuan atas segala jasa yang kita lakukan, karena mengabdi di organisasi mengajarkan kita arti tulus dan ikhlas yang sesungguhnya.” Pesan itu disampaikan saat penulis mengunjunginya di Padepokan Badini pada Desember 2024.
Sebuah pengingat bahwa perjalanan dalam organisasi pada akhirnya bukan tentang seberapa besar seseorang dikenal, melainkan seberapa jauh ia bersedia memberikan manfaat. Ribut juga menekankan pentingnya menerapkan ilmu Setia Hati dalam kehidupan nyata.
“Ilmu Setia Hati itu yang terpenting sejauh mana kita bisa terapkan, dan inilah yang jadi penyemangat saya saat merintis PSHT di Banjarmasin saat itu, tahun 1990,” terangnya.

(Foto: Kangmas Ribut Giyono saat disahkan menjadi warga TK II tahun 1994. Foto:// Ribut Giyono)
Bagi Ribut, pencak silat merupakan jalan untuk menempa diri, mengendalikan hawa nafsu, dan membangun karakter manusia yang berbudi luhur, tahu benar dan salah.
-Menjaga Persaudaraan di Tengah Perbedaan
Pengalaman panjang dalam organisasi membuat Ribut menyaksikan bahwa dinamika merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan persaudaraan.
Perbedaan pandangan, pergantian kepengurusan, dan beragam kepentingan dapat menjadi tantangan apabila tidak disikapi dengan kedewasaan.
Dalam pandangannya, organisasi harus mampu menjadi ruang yang menampung perbedaan tanpa kehilangan arah dan nilai dasarnya.
“Organisasi PSHT itu ibarat sebagai samudera luas yang menampung berbagai macam perbedaan.” Pernyataan itu masih diingat penulis ketika Ribut memberikan arahan dalam Rapat Triwulan PSHT Kalimantan Selatan di Goa Lowo, Kotabaru, pada Mei 2023.

(Foto: Ribut Giyono (tengah) bersama para warga PSHT Kalimantan Selatan tahun awal 2000an)
Bagi dirinya, persaudaraan tidak berarti semua orang harus memiliki pandangan yang sama. Hal yang lebih penting adalah bagaimana perbedaan disikapi tanpa merusak hubungan antarsaudara maupun keberlangsungan organisasi.
Karena itu, Ribut kerap mengingatkan pentingnya menaati aturan organisasi, termasuk Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART), serta menjaga pepacuh dan mengamalkan sumpah bersama.
Ia juga menekankan bahwa seorang warga SH Terate harus memiliki karakter yang rendah hati, tangguh, tidak mudah diadu domba, dan senantiasa mengedepankan kasih sayang atau welas asih.
Nilai-nilai tersebut menjadi penting ketika organisasi menghadapi perubahan zaman. Kemajuan teknologi dan derasnya arus informasi menuntut warga untuk semakin bijaksana dalam bersikap, tanpa meninggalkan pedoman yang menjadi landasan persaudaraan.
Dalam pandangan Ribut, ilmu padi harus senantiasa diterapkan, semakin berisi, semakin merunduk.
-Dari Pendidik Menjadi Sesepuh Silat
Selain perjalanan organisasinya, latar belakang pendidikan Ribut Giyono turut memberikan warna dalam kiprahnya di PSHT. Ribut memiliki gelar Sarjana Pendidikan dan Magister Manajemen, yang menjadi bekal dalam melihat pembinaan organisasi dari sisi pendidikan dan pengelolaan.
Pengalamannya kemudian berlanjut pada tingkat pusat. Ia dipercaya mengemban amanah di bidang pendidikan dan pelatihan, dengan perhatian terhadap pentingnya pembinaan yang tidak hanya menitikberatkan pada kemampuan teknik pencak silat.
Baginya, penguasaan senam dan jurus perlu berjalan beriringan dengan pemahaman ke-SH-an, pembentukan moral, serta penanaman nilai persaudaraan.
Sebab, kemampuan fisik semata tidak cukup untuk menggambarkan keberhasilan pendidikan dalam PSHT. Seorang warga juga perlu memiliki kesadaran untuk mengendalikan diri, menghormati sesama, dan menerapkan ilmunya secara bertanggung jawab.
Pandangan tersebut sejalan dengan keyakinannya bahwa kebesaran organisasi tidak semata-mata ditentukan oleh jumlah anggota, melainkan oleh manfaat yang mampu diberikan kepada masyarakat.
Pemikiran tentang pendidikan itu juga tercermin dalam pengembangan pelatihan pelatih secara berjenjang, mulai tingkat pratama, madya, hingga utama.

(Foto: Ribut Giyono (tengah) bersama Anggota Majelis Luhur, Kangmas Simun Sofyan (kiri), dan Ketua Umum PSHT, Dr. Ir. Muhammad Taufiq SH. M.Sc (Kanan)
Melalui Training of Trainers (ToT), peningkatan kualitas pelatih diharapkan dapat mendukung pengelolaan latihan yang lebih baik di lapangan.
Dengan demikian, keberlangsungan organisasi tidak hanya bergantung pada sosok tertentu, tetapi juga pada kemampuan menyiapkan generasi penerus yang memahami ajaran dan sanggup melanjutkan proses pembinaan.
-Merawat Tradisi, Membangun Ruang Prestasi
Jejak pengabdian Ribut Giyono di Kalimantan Selatan tidak hanya berkaitan dengan perintisan cabang dan pembinaan warga.
Ia juga tercatat sebagai salah satu penggagas forum pertemuan pengurus PSHT se-Kalimantan Selatan melalui sarasehan Triwulan yang dimulai pada 1998 di Kabupaten Kotabaru.
Forum tersebut menjadi ruang silaturahmi sekaligus tempat membahas perkembangan organisasi. Kehadiran pertemuan berkala membuka kesempatan bagi pengurus dari berbagai cabang untuk bertukar pandangan, menyampaikan persoalan, dan membangun komunikasi.

(Foto: Ribut Giyono saat memberi sambutan di Kotabaru tahun 2003. Foto:// Ribut Giyono)
Di tengah wilayah yang luas, ruang pertemuan seperti ini memiliki arti tersendiri. Organisasi tidak cukup hanya berjalan melalui kegiatan latihan di masing-masing tempat, tetapi juga memerlukan komunikasi antarpengurus agar perkembangan di berbagai daerah tetap menjadi perhatian bersama.
Selain itu, Ribut turut memelopori Kejuaraan Sirkuit PSHT Kalimantan Selatan. Kegiatan tersebut diarahkan untuk membuka ruang prestasi bagi para pesilat sekaligus memperkuat kontribusi organisasi dalam dunia olahraga.
Dua kiprah itu memperlihatkan bahwa pengembangan PSHT memerlukan perhatian terhadap berbagai bidang.
Persaudaraan perlu dirawat melalui komunikasi, kualitas warga dibangun melalui pendidikan, sedangkan kemampuan atlet perlu dikembangkan melalui kompetisi.
Keseluruhannya menjadi bagian dari upaya menjaga keberlangsungan organisasi, bukan hanya untuk generasi yang sedang aktif, tetapi juga bagi mereka yang kelak meneruskan estafet pengabdian.
-Membawa Persaudaraan Hingga Mancanegara
Pengabdian Ribut Giyono tidak berhenti di Kalimantan Selatan. Semangat mengembangkan PSHT membawanya merintis kegiatan latihan hingga ke luar negeri.
Pada 2014, ia melangkah ke Sabah, Malaysia. Di wilayah yang menjadi tempat tinggal banyak Pekerja Migran Indonesia (PMI) tersebut, PSHT hadir sebagai ruang latihan sekaligus tempat menjaga hubungan persaudaraan bagi masyarakat Indonesia di perantauan.
Merintis kegiatan organisasi di negara lain tentu memiliki tantangan tersendiri. Perbedaan lingkungan, kebiasaan masyarakat, serta kebutuhan untuk menyesuaikan pelaksanaan kegiatan dengan ketentuan setempat menjadi bagian yang perlu diperhatikan.

(Ribut Giyono saat merintis PSHT di Australia tahun 2018. Foto:// Ribut Giyono)
Empat tahun kemudian, pada 2018, kiprahnya berlanjut ke Melbourne, Australia. Di tengah lingkungan masyarakat yang berbeda dengan Indonesia, pencak silat diperkenalkan sebagai seni bela diri sekaligus sarana pembentukan karakter.
Dalam naskah perjalanan pengabdiannya, pengembangan PSHT di Sabah dan Melbourne disebut memiliki dasar surat keputusan dari pengurus pusat, masing-masing dengan nomor 075/SK/PP-PSHT/IX/2018 dan 079/SK/PP-PSHT/X/2018.
Kehadiran PSHT di luar negeri menunjukkan bahwa persaudaraan dapat menjadi jembatan untuk mempertemukan orang-orang dari latar belakang yang berbeda.
Melalui latihan dan pengenalan pencak silat, nilai kedisiplinan, penghormatan, serta kebersamaan dapat diperkenalkan kepada masyarakat yang lebih luas.
Ribut juga pernah mendemonstrasikan pencak silat di Australia. Pengalaman tersebut menjadi bagian dari perjalanan memperkenalkan pencak silat kepada masyarakat internasional, bahwa warisan budaya ini tidak hanya berkaitan dengan kemampuan bertarung, tetapi juga mengandung nilai pendidikan dan pembentukan kepribadian.
Dari Banjarmasin hingga Sabah dan Melbourne, perjalanan tersebut menjadi salah satu jejak pengabdiannya dalam membawa PSHT melampaui batas wilayah.
-Pengabdian Tidak Berhenti Pada Jabatan
Kini, nama Ribut Giyono melekat pada perjalanan panjang PSHT di Kalimantan Selatan. Pengalamannya merintis organisasi, memimpin cabang, membangun forum komunikasi, mengembangkan ruang prestasi, hingga memperluas kegiatan ke luar negeri menjadi bagian dari perjalanan yang layak dicatat.
Namun, ada pesan lain yang tidak kalah penting dari seluruh perjalanan itu, pengabdian tidak seharusnya berhenti ketika seseorang tidak lagi memegang jabatan.
Bagi Ribut, organisasi adalah ruang untuk belajar tentang ketulusan dan keikhlasan. Pengalaman serta pengetahuan yang dimiliki perlu diteruskan melalui pendidikan, pembinaan, dan keteladanan agar dapat memberikan manfaat bagi generasi berikutnya.
Ia pernah menyampaikan keyakinannya kepada penulis ketika berkunjung ke Padepokan Badini pada Desember 2024.
“Selama matahari masih terbit dari timur, dan bumi masih dihuni manusia, selama itu PSHT tetap jaya abadi selama-lamanya. Jadi mas, jangan khawatir soal organisasi kita, sesuai semboyan, PSHT akan tetap selalu berjaya.”
Pesan itu mengandung optimisme tentang keberlangsungan persaudaraan. Organisasi akan terus menghadapi perubahan dan tantangan, tetapi masa depannya juga ditentukan oleh kesediaan setiap generasi untuk menjaga nilai, menaati aturan, dan meneruskan pendidikan.
Pada akhirnya, jejak seorang sesepuh tidak hanya tersimpan dalam catatan jabatan atau panjangnya perjalanan organisasi.

(Foto: Ribut Giyono bersama Kangmas Muhammad Asrori (Warga TK II Kalsel 1994). Foto:// Ribut Giyono)
Jejak itu juga hidup dalam orang-orang yang pernah dibina, forum yang terus dirawat, tradisi yang dilanjutkan, serta nilai-nilai yang diterapkan dalam kehidupan.
Bagi Ribut Giyono, warisan pengabdian itu adalah generasi penerus PSHT yang tidak hanya tangkas secara fisik, tetapi juga matang secara moral, rendah hati, dan mampu memberikan manfaat kepada masyarakat.
Dari Banua hingga mancanegara, perjalanan tersebut menjadi pengingat bahwa persaudaraan tidak cukup hanya diwariskan melalui kata-kata. Ia harus dirawat melalui tindakan, diperkuat melalui pendidikan, dan dibuktikan melalui pengabdian yang berkelanjutan.
Ditulis oleh: Sojianto (Tim Humas Pusat)