Ada kalanya seorang pemimpin tidak membutuhkan tepuk tangan. Ia hanya membutuhkan keyakinan bahwa ketika jalan di depannya sedang tidak mudah, masih ada orang orang yang terus berjalan bersamanya.

Parapatan Luhur 2026 barangkali menjadi salah satu fase yang tidak ringan bagi Ketua Umum PSHT, Dr. Ir. Muhammad Taufiq, S.H., M.Sc.

Sebagai Ketua Umum, tentu ada banyak hal yang harus dipikirkan. Ada keputusan yang harus diambil, ada dinamika yang harus dihadapi, suara suara yang harus didengar, sampai amanah organisasi yang tidak mungkin ditinggalkan hanya karena keadaan sedang tidak sederhana.

Menjadi pemimpin pada situasi seperti ini tentu bukan perkara mudah. Tetapi, mungkin justru di situlah arti sebuah organisasi diuji.

Sebab mudah bagi kita mengatakan “bersama” ketika semuanya berjalan baik. Lalu, Mudah berdiri di belakang pemimpin ketika tidak ada persoalan.

Jadi, siapa yang mau menyebut diri sebagai bagian dari keluarga besar ketika tidak ada tekanan?

Mari kita pahami, bahwa yang lebih sulit adalah tetap berada di sana ketika keadaan mulai berliku. Dan untuk itu, rasanya ada satu hal yang perlu kami sampaikan.”Kami tidak pergi.”

Kami mungkin berbeda pendapat, punya cara pandang yang berbeda, sesekali mengkritik, bertanya dengan tajam, bahkan tidak selalu memahami seluruh keputusan yang diambil.

Tetapi berbeda pendapat bukan berarti meninggalkan, mengkritik bukan berarti membenci, bertanya bukan berarti skeptis dan ingin berkhianat.

Sebab organisasi yang sehat justru membutuhkan warga yang berani menyampaikan pikirannya, sekaligus memiliki kedewasaan untuk memahami bahwa seorang pemimpin juga sedang memikul beban yang mungkin tidak seluruhnya terlihat oleh mereka yang berdiri di belakang.

Dan ketika Ketua Umum sedang berada di depan menghadapi tekanan itu, kami tidak ingin menjadi orang orang yang hanya melihat dari kejauhan.

Kami tidak ingin datang hanya ketika keadaan sudah kembali tenang, kami tidak ingin berdiri di samping ketika semuanya mudah, lalu menghilang ketika keadaan menjadi sulit.

Jika hal itu terjadi, maka apalah arti dari jiwa ksatria, punya pendirian yang teguh, dan tetap berdiri di atas kebenaran sebagaimana yang tercantum dalam Wasiat?

“Kami tidak pergi, Ketua!”

Bukan karena kami menganggap seorang Ketua Umum selalu benar, atau karena dukungan harus membutakan akal sehat. Tetapi, karena amanah kepemimpinan adalah amanah bersama.

Ketika seseorang dipercaya berdiri di depan membawa nama organisasi yang telah berusia lebih dari satu abad, maka setidaknya ia berhak mengetahui bahwa di belakangnya masih ada warga yang percaya bahwa perjalanan ini tidak harus Ketua Umum lalui sendirian.

Mungkin inilah makna sederhana dari:”Kami tidak pergi”. Ini bukan pembenaran tanpa batas. Melainkan sebuah pesan bahwa dalam keadaan apa pun, kami masih ada, ketua.

Bahwa ketika tekanan datang, kami tidak bubar, tatkala perdebatan mengeras, kami tidak saling meninggalkan, atau saat jalan terasa sempit, kami tidak lalu mencari jalan keluar masing masing.

Sebab organisasi bukan hanya tentang siapa yang duduk di kursi kepemimpinan, organisasi adalah tentang siapa yang tetap bertahan ketika kursi itu sedang menghadapi ujian.

Dan mungkin, pada akhirnya, seorang pemimpin tidak akan pernah benar benar tahu seberapa kuat dukungan yang dimilikinya sampai ia melewati masa yang paling sulit.

Maka kepada Ketua Umum, izinkan kami menyampaikan sesuatu yang sederhana.

“Jangan merasa sendirian.”

“Kami ada.”

“Kami mungkin tidak selalu bersuara.”

“Kami mungkin tidak selalu terlihat.”

“Tetapi kami ada.”

Dan ketika keadaan sedang tidak mudah, percayalah, kami tidak pergi. Sebab kami percaya, PSHT terlalu besar untuk dibangun hanya oleh satu orang.

Dan karena itulah, seorang Ketua Umum juga tidak seharusnya dibiarkan berdiri sendirian. Hari ini, kami tidak pergi. Dalam keadaan apa pun, kami tetap di sini, ketua!

Ditulis oleh: Sojianto (Tim Humas Pusat)