Ada sesuatu yang menarik untuk dilihat dari rencana pelaksanaan Parapatan Luhur (Parluh) 2026 di Kota Madiun.
Di balik forum organisasi, agenda persidangan, serta kedatangan warga Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) dari berbagai daerah, terdapat potensi lain yang mungkin tidak banyak dibicarakan, yaitu perputaran ekonomi masyarakat.
Seandainya Parluh 2026 benar benar terealisasi di Kota Madiun pada 25–27 September 2026, ribuan orang diperkirakan akan datang ke kota yang dikenal sebagai Kota Pesilat tersebut.
Mereka bukan hanya peserta yang hadir di dalam forum. Ada panitia, penggembira, pendamping, keluarga, hingga warga PSHT dari berbagai daerah yang datang untuk menyaksikan momentum organisasi lima tahunan tersebut.
Dengan asumsi sekitar 100 panitia, 500 peserta, dan 5.000 penggembira, sedikitnya terdapat sekitar 5.600 orang yang berpotensi berada di Madiun selama rangkaian kegiatan.
Lalu mari berhitung secara sederhana. Jika setiap orang mengeluarkan rata-rata Rp150 ribu per hari untuk kebutuhan makan dan minum, selama tiga hari terdapat potensi transaksi 5.600 orang × Rp150 ribu × 3 hari = Rp2,52 miliar.
Angka tersebut belum memasukkan pengeluaran lainnya. Misalnya, masing masing orang akan membelanjakan rata rata Rp250 ribu untuk membeli oleh-oleh, produk UMKM, makanan khas, maupun barang lainnya selama berada di Madiun.
Maka terdapat tambahan potensi transaksi 5.600 orang × Rp250 ribu = Rp1,4 miliar. Dengan simulasi sederhana tersebut, total potensi belanja selama rangkaian Parluh 2026 bisa mencapai sekitar Rp2,52 miliar + Rp1,4 miliar = Rp3,92 miliar.
Sekali lagi, angka tersebut bukan angka transaksi yang dijamin terjadi. Ini hanyalah simulasi berdasarkan jumlah orang dan asumsi rata rata pengeluaran.
Namun, angka itu memberikan gambaran tentang besarnya potensi ekonomi yang dapat tercipta apabila ribuan orang benar benar berkumpul di Madiun selama tiga hari.
Sebab, uang sebesar itu tidak hanya berhenti di satu tempat. Sebagiannya dapat mengalir ke warung makan, pedagang pecel, kedai kopi, toko oleh-oleh, pusat UMKM, pengemudi transportasi, penginapan, hingga berbagai usaha kecil yang berada di sekitar lokasi kegiatan.
Bayangkan saja satu orang datang ke Madiun, lalu ia membutuhkan makan, kemudian membeli minuman, atau mungkin mampir ke kedai kopi.
Membeli oleh-oleh untuk keluarga di rumah, menggunakan transportasi lokal, bahkan mungkin menginap satu atau dua malam.
Aktivitas sederhana tersebut, ketika dilakukan oleh ribuan orang secara bersamaan, akan menciptakan denyut ekonomi yang jauh lebih besar.
Di sinilah sebuah kegiatan organisasi dapat bersinggungan langsung dengan kehidupan ekonomi masyarakat. Jika Parluh 2026 benar benar berlangsung di Madiun, maka ribuan warga PSHT yang datang dari berbagai daerah pada dasarnya juga menjadi calon konsumen bagi pelaku usaha lokal.
Mereka membawa daya beli, dan daya beli itu berpotensi dibelanjakan di kota tempat mereka berkumpul. Bagi sebuah warung kecil, tambahan puluhan pelanggan dalam sehari tentu bukan angka yang kecil.
Bagi pengusaha penginapan, kamar yang terisi berarti pendapatan. Bagi pedagang oleh-oleh, ribuan pendatang berarti ribuan calon pembeli. Bagi pelaku UMKM, keramaian tersebut dapat menjadi kesempatan memperkenalkan produk kepada konsumen yang berasal dari luar daerah.
Bahkan, manfaatnya tidak harus berhenti ketika Parluh selesai. Seorang pengunjung yang menemukan makanan khas Madiun, produk UMKM yang menarik, atau pengalaman menyenangkan selama berada di kota tersebut, bisa saja membawa cerita itu pulang.
Dalam konteks pariwisata, pengalaman semacam itu mempunyai nilai tersendiri. Orang tidak hanya mengingat tempat yang mereka kunjungi, mereka juga mengingat bagaimana sebuah kota menyambut mereka.
Mereka mengingat makanannya, suasananya, keramahan warganya, kemudahan transportasinya, hingga rasa aman selama berada di sana.
Karena itu, seandainya Parluh 2026 terealisasi di Madiun, momentum tersebut sebenarnya dapat menjadi lebih dari sekadar agenda organisasi. Hal ini juga menjadi kesempatan bagi Madiun untuk menunjukkan wajah kotanya kepada ribuan orang dari berbagai daerah di Indonesia.
Wajah kulinernya, UMKM, wisata, dan tentu saja landscape kota sebagai daerah yang selama ini dikenal dengan identitas Kota Pesilat. Apalagi sebuah event dengan jumlah pengunjung yang besar dapat menjadi ruang promosi yang berjalan secara alami, tidak perlu setiap pengunjung menjadi wisatawan yang sengaja datang untuk berwisata.
Cukup dengan berada di Madiun selama beberapa hari, mereka sudah memiliki kesempatan untuk melihat kota, mencoba kuliner, membeli produk lokal, mengunjungi tempat tertentu, dan berinteraksi dengan masyarakat setempat.
Dalam konteks itu, Parluh 2026 dapat menjadi semacam pintu masuk, mereka mungkin datang karena organisasi. Tetapi, selama berada di Madiun, mereka juga berinteraksi dengan ekonomi daerah.
Inilah mengapa sebuah event tidak selalu hanya dapat dilihat dari apa yang terjadi di lokasi utama acara. Ada aktivitas yang berlangsung di luar lokasi kegiatan, di warung warung yang buka sampai malam, toko oleh-oleh, pusat UMKM, penginapan di jalan jalan kota, setiap tempat makan.
Dan di berbagai titik tempat uang berpindah dari tangan pengunjung kepada pelaku usaha lokal. Jika seluruh rangkaian tersebut terjadi selama tiga hari, maka potensi miliaran rupiah dalam simulasi sederhana tadi sebenarnya merupakan kumpulan dari sekian banyak transaksi kecil yang dilakukan oleh ribuan orang.
Nilainya mungkin terlihat kecil jika dilihat satu per satu. Namun, ketika dilakukan ribuan orang secara bersamaan, nilainya dapat berubah menjadi miliaran rupiah.
Dan bagi pelaku usaha kecil, transaksi semacam itu bukan sekadar angka. Ia bisa berarti dagangan yang lebih cepat habis, kamar yang lebih banyak terisi, meja makan yang lebih penuh, omset yang meningkat, atau produk UMKM yang untuk pertama kalinya dikenal oleh konsumen dari luar daerah.
Pada akhirnya, seandainya Parluh 2026 benar-benar terealisasi di Madiun, tiga hari pelaksanaan bukan hanya akan menjadi tiga hari aktivitas organisasi.
Ia berpotensi menjadi tiga hari ketika ribuan orang datang, membelanjakan uang, mengenal kota, menikmati kuliner, membeli produk lokal, dan membawa pulang pengalaman tentang Madiun.
Dan mungkin, di situlah sebuah event besar memberikan dampak yang sering kali tidak terlihat dari panggung utama. Sebab sebuah kegiatan bisa selesai dalam tiga hari.
Tetapi uang yang berputar di dalamnya berpindah ke banyak tangan, dari pengunjung ke warung, dari warung kepada pemasok, dari wisatawan kepada pelaku UMKM. Pada akhirnya, semua transaksi ini akan kembali kepada masyarakat sebagai pergerakan ekonomi yang nyata.
Parluh mungkin hanya sebuah agenda organisasi. Namun, jika ribuan orang berkumpul di Madiun, maka kota juga mendapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari cerita tersebut.
Bukan hanya sebagai tempat berlangsungnya sebuah forum, tetapi sebagai kota yang menerima tamu, menyediakan ruang bagi aktivitas ekonomi, memperkenalkan produk lokal, dan menunjukkan bahwa identitas Kota Pesilat juga dapat berjalan bersama geliat ekonomi masyarakat.
Tiga hari memang singkat. Tetapi, tiga hari dengan ribuan orang di dalam sebuah kota, bisa menciptakan ribuan transaksi kecil. Dan jika seluruh transaksi kecil itu dijumlahkan, nilainya bisa mencapai miliaran rupiah.
Ditulis oleh: Sojianto, Tim Humas Pusat