(Nyoman Arianta (kanan) saat mengenang sejarah merintis PSHT di Papua, Foto:// Youtube Nano Silat)
Semangat persaudaraan dan pencak silat tidak mengenal batas geografis. Hal ini dibuktikan perjalanan panjang Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) di Tanah Papua, khususnya di wilayah Timika.
Sebuah kisah perjuangan penuh dedikasi yang dikenang oleh salah satu tokoh pentingnya, Ida Resi Arianta, atau yang akrab disapa Nyoman Arianta.
Mungkin, saat ini banyak kalangan warga mengenal sosok ini sebagai sesepuh sekaligus Dewan Pertimbangan Cabang PSHT Buleleng, namun Nyoman Arianta ternyata punya kiprah heroik dalam mengembangkan organisasi di Papua.
Nyoman Arianta mengisahkan bahwa perjalanan rute spiritual dan fisiknya di PSHT dimulai sejak tahun 1987. Saat itu, Ia mengikuti latihan dari tingkat sabuk polos di PSHT Cabang Tembagapura, yang saat itu dipimpin oleh Heru Tjokro.
Dua tahun berselang, tepatnya pada Agustus 1989, Nyoman bersama 10 anggota seangkatannya resmi disahkan menjadi Warga PSHT.
“Saya bersama 10 orang lainnya disahkan tahun 1989, setelah sebelumnya mengikuti latihan sejak 1987, di mana kami semua disahkan oleh Kangmas Soekamto yang datang langsung dari Pusat Madiun.” Jelasnya
Usai disahkan, dedikasi Nyoman tidak surut, ia langsung terjun melatih para siswa di Tembagapura. Pada saat yang sama, organisasi mulai berkembang ke Ranting Timika yang terletak di daerah Unit Pemukiman Transmigrasi 1 (UPT-1).

(Nyoman Arianta (Kedua dari kiri), Legono Joko Prianto (Pojok kanan) saat berfoto bersama. Foto:// Nyoman Arianta)
Ranting ini dirintis pertama kali oleh Legono Joko Prianto, seorang tokoh asal Magelang, Jawa Tengah, sejak Maret 1989. Kemudian, organisasi terus berjalan, pada tahun 1992, pusat aktivitas PSHT Cabang Tembagapura resmi dipindahkan ke Kota Timika.
Sejak perpindahan tersebut, tongkat estafet kepemimpinan cabang terus bergulir guna menjaga roda organisasi tetap berputar, dengan data ketua sebagai berikut:
1992–1993: Jamaah, 1993–1994: Agus Gamatri, 1994–1999: Nyoman Arianta, 1999–2004: Legono Joko Prianto, 2004–2009: Nyoman Arianta, 2009–2011: Bambang, 2011–2016: Legono Joko Prianto, 2016–2018: Gembong Suyatno, 2018–2023: Sarwo Dodro, 2023–Sekarang: Muhammad Basar
Nyoman Arianta sendiri tercatat memimpin cabang ini selama dua periode, yakni pada akhir era 90-an dan pertengahan era 2000-an. Di bawah kepemimpinan yang silih berganti ini, ekspansi ranting tumbuh pesat menyasar kawasan transmigrasi, dengan data perkembangan berikut:
1989: Ranting UPT-2
1991: Ranting UPT-1
1993: Ranting UPT-3
1994: Ranting UPT-4
1996: Ranting UPT-5 & UPT-6
2007: Ranting Timika Kota
2018: Ranting UPT-13
Kini, buah manis perjuangan puluhan tahun tersebut menghasilkan kekuatan organisasi yang solid dengan total Warga Tingkat 1 mencapai sekitar 400 orang, serta didampingi oleh 10 orang Warga Tingkat 2.
Namun, pencapaian ini tidak diraih dengan mudah. Nyoman Arianta mengenang masa-masa awal rintisan penuh dengan tantangan fisik saat itu, sehingga perjuangan mengembangkan PSHT kian menantang.
“Untuk mengajar silat, para pelatih harus berjalan kaki sejauh 6 kilometer menembus jalanan tanah berkerikil yang sepi, bahkan tak jarang kami harus menginap di tempat latihan dan baru bisa pulang keesokan harinya.” Kenang Nyoman.
“Sepeda ontel menjadi kemewahan tersendiri yang sesekali menemani perjalanan sunyi kami kala itu. Semoga perjuangan kami mengembangkan PSHT bisa menjadi amal yang bermanfaat.” Tambah Nyoman.
Menutup memorinya, Nyoman Arianta menitipkan pesan mendalam dan motivasi bagi generasi penerus PSHT di Papua, agar terus menjalankan organisasi, dan mengembangkan dengan penuh ketulusan hati.
“Kepada seluruh warga untuk tetap menjaga nama baik organisasi, serta terus mengembangkan PSHT dengan ketulusan, keikhlasan, dan jiwa pengabdian total yang dimulai dari diri sendiri, keluarga, hingga masyarakat luas.” Pesannya.