Atambua – Kupang, 17-19 Juni 2026
Pesawat yang membawa Mayor Jenderal TNI Dr. H. Totok Imam Santoso, S.IP., S.Sos., M.Tr.(Han.) menyentuh landasan Bandar Udara El Tari Kupang tepat pukul 10.05 WITA, 17 Juni 2026. Tiga jam kemudian, roda pesawat yang sama mendarat lagi di Bandar Udara A.A. Bere Tallo, Atambua. Perjalanan itu menandai awal dari tiga hari yang tak sekadar kunjungan kerja, tapi menjadi rajutan baru keluarga besar Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) di tanah paling ujung Indonesia.
Sebagai Wakil Ketua I Pengurus Pusat PSHT sekaligus Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan dan Alumni Universitas Pertahanan RI, langkah kaki beliau di Atambua disambut bukan dengan formalitas dingin. Yang ada adalah tarian adat yang menghentak, sorak warga, dan prosesi pengalungan salendang. Bagi orang Belu, salendang bukan hiasan. Ia janji. Penghormatan tertinggi, ikatan yang tak putus, doa agar tamu membawa berkah.

Bupati Belu, Bapak Willybrodus Lay, SH, memimpin Forkopimda menyambut. Di sampingnya, Mas Nikolas L. Busday, SE, mewakili PSHT Provinsi NTT, bersama seluruh pengurus Cabang Belu berdiri tegak. Dalam tatapan mereka, sembilan tahun dinamika organisasi seakan menemukan titik terang.
Kampus, Gelanggang, dan Wisuda
Pagi 18 Juni, suasana berubah. Bukan lagi tarian, tapi keringat. Di lingkungan Unhan RI cabang Atambua, Wakil Rektor III berlari bersama civitas akademika Fakultas Pertahanan dan Keamanan Lingkungan Maritim. Kolonel Nasrudin, Komandan Resimen Mahasiswa, ikut berbaris. Olahraga bersama itu meruntuhkan sekat: jenderal, dosen, kadet, sama-sama menarik napas di bawah matahari Timor.

Pukul 10.00 WITA, gavel diketuk. Komisariat PSHT FVLM Unhan resmi lahir. Peresmian dipimpin langsung oleh beliau. Hadir pimpinan fakultas, Forkopimda, pengurus PSHT Belu, sampai perguruan silat lain. Di ruang itu, PSHT tak lagi sekadar nama di jalanan. Ia berdiskusi, berdebat, tumbuh di bangku kuliah.
Siang harinya, pengarahan mengalir. Bukan komando, tapi wawasan. Bagaimana menjadi mahasiswa yang kuat raga dan lurus hati. Bagaimana mengamalkan _Suwung, Sepi, Pamrih_ di tengah kerasnya pendidikan militer. Makan siang bersama menutup diskusi itu. Sendok dan tawa sama rata.

Malamnya, lampu wisuda menyala. Earga baru PSHT Cabang Belu disahkan. Mori putih melingkar, sumpah terucap. Sang jenderal berdiri, menyaksikan lahirnya adik-adik seperguruan. Di momen itu, PSHT Belu menua setahun dan bertumbuh seratus jiwa.
Natoni di Naimata, Ikrar di Kupang
19 Juni, roda pesawat kembali berputar. Dari Atambua ke Kupang. Di Sekretariat PSHT Provinsi NTT, makan siang berubah jadi ruang cerita. Pengurus kota dan kabupaten Kupang duduk melingkar. Tak ada laporan formal, yang ada hanya “piye kabare, dulur?”
Sorenya, prosesi Natoni digelar di Sekretariat Cabang Kota Kupang, Kelurahan Naimata. Natoni: penerimaan sepenuh hati, penyatuan niat, ikrar satu tujuan. Salendang kembali melingkar di leher sang tamu. Tarian penyambutan kembali menggetarkan tanah. Kapolsek Maulafa, Bhabinkamtibmas, perangkat desa, semua hadir. Negara dan warga, silat dan masyarakat, duduk dalam satu barisan.
Di titik inilah arus bawah terbaca jelas. Sembilan tahun PSHT NTT diterpa dinamika. Tapi sore itu, kepala daerah, Kepolisian, IPSI, semua satu suara: dukungan penuh untuk organisasi di bawah kepemimpinan sah Ketua Umum PSHT, Kang Mas Muhammad Taufiq.
Penutup di Atas Harapan
Pukul 20.00 WITA, sarasehan dimulai. Tak ada podium megah, hanya tikar dan tekad. Warga PSHT se-Kota Kupang berkumpul. Obrolan mengalir dari “ojo dumeh” sampai “memayu hayuning bawana”. Tawa pecah, ada juga mata yang berkaca.
Tiga hari itu menutup dengan satu kepastian: PSHT di NTT kuat, sah, dan dicintai. Kunjungan Mayor Jenderal Totok Imam Santoso bukan sekadar jejak di peta penerbangan. Ia jejak di hati warga. Salendang yang melingkar di Atambua dan Naimata telah mengikat janji baru: persaudaraan tak lekang jarak, tak goyah dinamika.
Dari ujung timur, PSHT kembali menegaskan jati dirinya. Organisasi pencak silat yang berdiri bukan di atas ego, tapi di atas laku. Dan laku itu, mulai hari ini, punya cerita baru bernama Belu dan Kupang, Juni 2026.