(Eyang Surodiwiryo (kanan) bersama istri)
Catatan: Tulisan ini membahas tentang bagaimana Eyang Surodiwiryo menyusun rangkaian gerak, hingga akhirnya terhimpun menjadi 1 – 36 jurus dalam Setia Hati.
Bayangkan, di penghujung abad 18, ada seorang anak muda dari timur pulau Jawa, yang gandrung dengan pencak silat, lalu akhirnya melakukan perjalanan spiritual hingga ke ujung utara Sumatera.
Kemudian, apa yang anak muda itu konsep adalah suatu keilmuan, di sini penulis menyebutnya sebagai sinkretisme, yakni perpaduan dari beberapa ajaran, kepercayaan, atau aliran yang berbeda untuk mencari keserasian.
Anak muda itu bernama Muhammad Masdan, yang kemudian di masa tua dikenal dengan nama Surodiwiryo, sedangkan nama aliran silat yang ia konsep disebut Setia Hati (SH).
Walau jumlahnya sama sama 1 – 36, jurus yang akan kita ulas dalam tulisan ini kerap disebut “Joyo Gendelo”, dan tentunya jurus ini sangat berbeda dengan jurus SH Pemuda Sport Club (SH PSC) yang kemudian dirangkai sebagai varian baru jurus SH oleh muridnya, Hajar Harjo Utomo (Samingoen).
Jadi, di awal kita membicarakan Pencak Setia Hati, mungkin tidak akan pernah selesai hanya dengan menyebut nama jurus jurusnya saja.
Sebab di dalam jurus yang dikonsep oleh Muhammad Masdan (Eyang Surodiwiryo) ini punya cara berpikir, dan dibentuk dari kebudayaan, pendidikan, tata cara belajar, sampai mengandung pandangan hidup yang menyertai jurus jurus ini.
Di zaman tersebut, sangat sedikit bahkan mungkin belum ada aliran pencak silat yang punya rangkaian gerak (jurus) dengan isi yang cukup kompleks. Apalagi, jumlahnya ada 36.
Jika kita tinjau sesuai konteks zamannya, Jurus Setia Hati dapat dilihat sebagai sebuah bentuk baru dari pencak yang telah disusun dengan sistem tertentu.
Kenapa saya sebut sistem?, karena 36 jurus ini bukan hanya sekumpulan gerakan, tapi jurus jurusnya punya nama, urutan, sampai ciri khas tertentu dari setiap jurus.
Kemudian, semua jurus ini berkembang saat masa sistem pendidikan bela diri modern seperti yang kita kenal sekarang belum menjadi sesuatu yang lazim di zaman itu.
Maka bagaimana jurus jurus ini kemudian bisa dikonsep lalu dihimpun oleh Eyang Surodiwiryo (Muhammad Masdan) menjadi menarik untuk diperhatikan.
Perhatikan nama nama jurusnya, Betawen, Cimande, Cikalong, Ciampea, Tanah Baru, Cibeduyut, Padang Panjang, Cipetir, Sumedangan, Lintau, Alang Lawas, Minangkabau, Solok, Padang Alai, hingga Kuda Batak.
Nama nama itu bukan sekadar penanda untuk menghafal gerakan, tapi lebih seperti jejak perjalanan, dan jejak kebudayaan dari daerah yang pernah Masdan (Eyang Suro) singgahi.
Ada nama tempat di Jawa Barat, ada di Sumatera Barat, sampai mungkin wilayah lain yang menunjukkan perjumpaan berbagai tradisi pencak, termasuk banyak sosok pendekar hebat lainnya.
Dari sini, tidak berlebihan kiranya, jika jurus yang dirangkai oleh Masdan ini membawa kultur sosial budaya, bisa dibaca sebagai sebuah catatan, sampai penulis anggap sinkretisme yang indah.
Masdan hidup pada zaman saat di mana banyak perjumpaan antar kelompok terjadi, dari berbagai daerah, dan berbagai kebudayaan yang melahirkan banyak pertukaran pengetahuan.
Pencak Setia Hati yang dikonsep Masdan pun tidak tumbuh dalam ruang yang sepenuhnya tertutup dari lingkungan sosialnya.
Dari tangan banyak guru yang Masdan temui, berbagai pengaruh itu kemudian disusun menjadi sebuah sistem, dan di sinilah menurut saya letak jurus Setia Hati jadi semakin menarik.
Jurus yang dikonsep Masdan bukan hanya gerakan tubuh, tapi juga dapat menjadi arsip kebudayaan yang disimpan, termasuk sinkretisme yang indah bagi mereka yang mempelajari jurus ini.
Bersambung
Ditulis Oleh : Sojianto (Tim Humas Pusat)