(Suasana sarasehan Anggota Majlis Luhur Simun Sofyan, bersama warga PSHT Banjarbaru, Minggu (16/8/2026) foto:// Humas Pusat)
Anggota Majlis Luhur Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT), sekaligus perintis PSHT Cabang Banjarbaru, Simun Sofyan menekankan pentingnya setiap warga untuk tetap peduli terhadap organisasi setelah resmi disahkan sebagai anggota.
Hal tersebut ia sampaikan saat mengisi sarasehan atau dialog interaktif saat Syukuran Warga Baru PSHT Cabang Banjarbaru, di Padepokan Suryanata, Minggu (16/8/2026) malam.
Menurut Simun Sofyan, pengesahan bukan menjadi akhir dari proses, melainkan awal untuk menjalankan nilai persaudaraan dan ajaran Setia Hati dalam kehidupan sehari-hari.

(Foto: Anggota Majlis Luhur PSHT, Simun Sofyan. Foto:// Humas Pusat)
– Peduli Terhadap Organisasi
Simun mengatakan, kepedulian terhadap organisasi perlu terus dijaga setelah seseorang disahkan. Ia mengingatkan agar warga tidak saling bersikap acuh satu sama lain, sebab persaudaraan merupakan salah satu hal yang menjadi perekat di dalam PSHT.
“Pedulilah terhadap organisasi, jangan sampai setelah disahkan justru kita saling acuh satu sama lain.” Pesannya.
“Sebab, isi sumpah bersama kita berbunyi saling menghamat-hamati dan ini adalah perekat kita semua,” kata Simun.
Ia menilai, status sebagai anggota tetap dan setia sebagaimana isi sumpah bersama membawa tanggung jawab yang berbeda dibandingkan ketika masih berstatus sebagai siswa.
Karena itu, warga diharapkan tidak berhenti berkontribusi setelah pengesahan, tetapi ikut menghidupkan organisasi melalui kebermanfaatan yang bisa dilakuka.
Menurutnya, perbedaan pendapat dalam sebuah organisasi merupakan sesuatu yang wajar. Namun, perbedaan tersebut harus disikapi secara bijak dengan tetap mengedepankan asas persaudaraan yang menjadi landasan PSHT.
– Wasiat Dipahami, Pepacuh Jangan Dilanggar
Selain kepedulian terhadap organisasi, Simun Sofyan juga mengingatkan pentingnya memahami wasiat serta menjaga diri agar tidak melanggar pepacuh.
Menurutnya, pakaian sakral yang dikenakan dalam proses pengesahan bukan sekadar simbol, melainkan memiliki makna sebagai doa dan harapan yang harus diwujudkan dalam kehidupan warga.
Ia mengingatkan bahwa perjalanan untuk sampai mengenakan pakaian tersebut tidaklah mudah. Simun menjelaskan, pepacuh merupakan laku yang harus dijalankan oleh insan Setia Hati.
Menjaga pepacuh menurutnya bukan hanya berkaitan dengan aturan, tetapi juga menjadi bagian dari upaya menjaga perilaku, moralitas, dan rasa tanggung jawab sebagai warga PSHT.
“Pepacuh adalah laku yang harus kita jalankan, kenapa? Karena ini adalah pakemnya insan setia hati, dan menjaga tindakan kita dari perbuatan tidak bermoral, termasuk mengajari rasa bertanggung jawab,” ujarnya.
Simun Sofyan juga mengingatkan agar wasiat tidak hanya dibaca ketika menjelang pengesahan. Karena menurut Simun, Wasiat merupakan tuntunan yang perlu dipahami dan dijadikan pegangan setelah seseorang menjadi warga PSHT.
“Wasiat dibuat sebagai tuntunan kita setelah disahkan, jadi penting wasiat itu benar-benar dibaca, diingat, dan dipahami,” katanya.
Ia menambahkan, PSHT tidak hanya berbicara mengenai organisasi, tetapi juga menekankan pembentukan pribadi anggotanya agar mampu menjaga nama baik diri sendiri maupun organisasi.
– Ajak Mengenal Diri
Selanjutnya, Simun Sofyan mengajak warga PSHT untuk meluangkan waktu melakukan perenungan dan introspeksi diri. Menurutnya, mengenal diri merupakan bagian penting dalam meningkatkan kesadaran sebagai insan Setia Hati.
Ia menjelaskan, seseorang yang mampu mengenali dirinya akan lebih berhati-hati dalam bersikap maupun berbicara, termasuk mempertimbangkan segala perilaku agar tidak mudah menyakiti perasaan orang lain.
Sebaliknya, salah satu tanda seseorang belum mampu mengenal dirinya, menurut Simun adalah ketika orang itu lebih mudah melihat dan menilai keburukan orang lain dibandingkan melakukan introspeksi terhadap dirinya sendiri.
Oleh sebab itu, ia menilai sifat keakuan perlu terus dikikis. Karena upaya tersebut merupakan bagian dari inti ajaran Setia Hati yang mendorong seseorang untuk terus memperbaiki dan memahami dirinya.
“Orang yang kenal diri, maka tidak akan sulit untuk memahami orang lain,” pungkas Simun Sofyan.
– Isi 10 Wasiat
Sebagai informasi, Wasiat Setia Hati ditulis oleh Jendro Darsono, salah satu murid pendiri PSHT, Hajar Harjo Utomo dan dimakamkan di Surabaya, Jawa Timur.
Selain Wasiat, Jendro Darsono juga turut menulis karya Mukadimah sebagai pengantar para warga PSHT untuk dapat mengenal ajaran Setia Hati yang lebih dalam.
Berikut 10 Wasiat Setia Hati sebagaimana juga tertuang dalam AD/ART :
1. Menjaga nama baik SH Terate pada umumnya
2. Bersifat ksatria dan tetap pendiriannya
3. Berbakti kepada Tuhan Yang Maha Esa, orang tua, dan guru
4. Berdiri di atas keadilan, dan kebenaran, dan tidak berat sebelah
5. Berani karena benar, takut karena salah
6. Bertanggung jawab atas perbuatannya
7. Menjaga ketentraman, dan menjunjung tinggi Nusantara dan bangsa Indonesia
8. Membuktikan sebagai bangsa yang merdeka
9. Menghilangkan sifat mementingkan diri sendiri
10. Kekal dalam persaudaraan, menguatkan sifat tolong menolong di antara sesama umat manusia umumnya, bangsa Indonesia khususnya terutama dengan anggota Persaudaraan Setia Hati Terate