Tanggal 9 Februari selalu diperingati sebagai Hari Pers Nasional (HPN) setiap tahunnya. Secara umun, Pers adalah lembaga sosial dan wadah komunikasi massa yang melaksanakan kegiatan jurnalistik meliputi mencari, memperoleh, memiliki, menyimpan, mengolah, hingga menyampaikan informasi baik dalam bentuk tulisan, suara, gambar, serta data.
Mungkin, masih sedikit dari kita yang tau bahwa perintis organisasi pencak silat Persaudaraan Setia Hati Terate, yaitu Ki Hajar Hardjo Oetomo dulunya merupakan seorang insan pers, atau kerap kita sebut saat ini dengan istilah wartawan.
Selain memperjuangkan kemerdekaan Indonesia lewat perlawanan langsung terhadap Belanda, Ki Hajar Hardjo Oetomo juga aktif menulis untuk memantik api semangat perjuangan agar tetap menyala.
Pada salah satu karya tulis beliau dalam bentuk tabloid yang ditulis tahun 1932 berjudul “Keinsafan Rakjat”, di sana tertuang buah pikir dari Ki Hajar Hardjo Oetomo untuk menumbuhkan keinsafan atau kesadaran diri bahwa setiap orang dibekali potensi “Ilahiah” yang tidak ada seorangpun mampu membatasinya kecuali dirinya sendiri.

(Foto : Tabloid “Keinsjafan Rakjat”, yang ditulis oleh Ki Hajar Hardjo Oetomo tahun 1932)
TULISAN SEBAGAI PERLAWANAN
Umumya di masa kolonial (penjajahan), tulisan sangat efektif untuk perlawanan karena bisa bertindak sebagai “senjata intelektual” yang mampu membangkitkan kesadaran nasional, menyebarkan ide-ide revolusioner, dan menyatukan rakyat yang sebelumnya terpecah belah oleh kebijakan adu domba Belanda.
Di masa itu, tulisan mungkin bisa lebih tajam dari peluru senjata mesin sebagai alat perjuangan, karena berperan sebagai kritik terhadap penjajah. Tulisan di masa kolonial juga digunakan untuk mengekspos ketidakadilan, dan kesengsaraan rakyat, di mana hal tersebut tertuang dalam lembaran tabloid karya Ki Hajar Harjo Oetomo yang berjudul “Keinsafan Rakjat” ini.
Dalam tabloid Keinsafan Rakjat, Ki Hajar Hardjo Oetomo mengkritik keras penjajahan yang dilakukan Belanda, bahkan hingga menurunkan mentalitas pribumi agar selalu merasa rendah diri.
Tabloid Keinsafan Rakjat menjadi sarana menyebarkan pemikiran kritis dari Ki Hajar Hardjo Oetomo, membangun semangat kemerdekaan, dan menyemarakkan kemajuan di kalangan kaum pribumi agar lebih terpelajar.
Dengan demikian, tidak heran jika perintis organisasi kita, Ki Hajar Hardjo Oetomo saat itu membangun perlawanan melalui tulisan sebagai bentuk perjuangan yang berfokus pada penguatan kapasitas kecerdasan, intelektual, dan pergerakan bagi kaum pribumi, bukan semata – mata sekadar perlawanan fisik.
AJAKAN MENGENAL DIRI : POTENSI “ILAHIAH”
Dalam tabloid Keinsafan Rakjat, Ki Hajar Hardjo Oetomo juga mengajak kita untuk menggali potensi “Ilahiah” yang diamanahkan kepada setiap manusia. Maka dari itu tabloid tersebut mengingatkan kita membangun hegemoni di dalam diri, yaitu dengan menyelaraskan kekuatan fisik, nalar, serta energi rasa, dalam balutan kebersamaan atau persaudaraan.
Esensi Pencak Silat yang diajarkan Ki Hajar Hardjo Oetomo diorientasikan untuk menumbuhkan keyakinan diri dan keberanian untuk memanfaatkan potensi “Ilahiah” dari tuhan, baik yang ada di dalam diri setiap insan maupun yang ada di lingkungan sekitarnya, sehingga keberadaan orang yang mempelajari pencak Setia Hati dapat membawa energi positif di mana pun ia berada.
Tabloid Keinsafan Rakjat ini juga menyadarkan kita jika orang tidak mempunyai keinsafan atau kesadaran diri terhadap potensi yang dimiliki, atau tidak mempunyai keberanian memanfaatkan potensi “Ilahiah” untuk melawan kebatilan, maka seluruh potensi yang dimilikinya akan dimanfaatkan oleh orang lain.
Atas alasan inilah, nenek moyang kita sempat dijajah oleh bangsa asing dalam waktu yang sangat panjang.karena pada saat itu, kesadaran atau keinsafan belum tumbuh, apalagi keberanian para pribumi untuk melawan para penjajah. Sehingga Ki Hajar Hardjo Oetomo menulis tabloid Keinsafan Rakjat untuk menyadarkan masyarakat agar jangan sampai mau dijajah.
Isi tabloid tersebut juga selaras dengan Wasiat Setia Hati Terate yang berbunyi “Membuktikan diri sebagai bangsa yang merdeka.”

(Foto : Salah satu isi Keinsjafan Rakjat yang menggambarkan kondisi perjuangan di masa kolonial saat itu)
PELAJARAN MENJALANKAN AJARAN SETIA HATI
Ketua Umum PSHT, Dr. Ir. Muhammad Taufiq SH. M.Sc mengatakan, dari tabloid Keinsafan Rakjat karya Ki Hajar Hardjo Oetomo ini, kita diajarkan tujuan utama belajar Pencak Silat ialah sebagai sarana untuk mendewasakan diri, menambah kepercayaan diri, dan mengenal diri pribadi.
“Kita bisa memetik pelajaran yg sangat penting dari Eyang Harjo Utomo. Kita belajar pencak silat ini untuk mengenal diri pribadi, di dalam diri kita ini dianugerahi potensi yang sangat besar dari Allah SWT.” Jelasnya.
Selain itu, melalui tabloid Keinsafan Rakjat, Ketua Umum juga mengajak para warga anggota PSHT untuk senantiasa sadar akan potensi diri, dan mengenal diri pirbadi agar dapat menjalankan ajaran Setia Hati, dan mengamalkan isi sumpah bersama, serta wasiat.
“Dengan mengenal diri, akan tumbuh rasa percaya diri dan keberanian untuk bertindak dan bersikap dalam menjalan ajaran Setia Hati, menjaga sumpah bersama maupun mentaati WASIAT PSHT.” Tambahnya.
WARISAN SEMANGAT JUANG GENERASI PENERUS
Kendati tabloid tersebut ditulis tahun 1932 untuk membakar semangat juang para pribumi agar jangan mau dijajah bangsa asing. Namun amanat, serta esensinya tetap relevan bagi para anak muda di masa sekarang sebagai generasi penerus PSHT.
Sastra yang tertuang dalam tabloid Keinsafan Rakjat karya Ki Hajar Hardjo Oetomo juga mencerminkan pengalaman masyarakat yang terjajah di masa tersebut, di mana isi tulisan dari Ki Hajar Hardjo Oetomo digunakan sebagai alat perlawanan, kritik sosial, dan sarana membangun identitas nasional untuk membangun ketahanan jati diri bangsa.
Mungkin, tabloid Keinsafan Rakjat boleh jadi ditulis puluhan tahun silam, namun isi kandungan tulisan di masa kolonial tersebut mengajarkan kita semua cara untuk berpikir kritis, dan menilai sesuatu secara adil dan inklusif, sehingga masyarakat di generasi mendatang tidak mudah diadu domba oleh hal apa pun yang dapat menimbulkan kebencian antar sesama.
TIM HUMAS PUSAT.