(Foto Undangan resmi Parapatan Luhur PSHT 2026 jadi bukti pintu rekonsiliasi terus dibuka)
Ada kalanya sebuah ajakan tidak cukup disampaikan sekali. Ia perlu diulang, ditegaskan, bahkan diantarkan langsung dari satu pintu ke pintu yang lain, dari rumah ke rumah.
Bukan karena ajakan pertama tidak berarti, tetapi karena ada harapan yang jauh lebih besar, agar mereka yang pernah berada dalam satu rumah yang saat ini berseberangan, dapat kembali duduk bersama.
Semangat itulah yang terlihat dalam perjalanan ajakan nyawiji di tubuh Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) yang diketuai Dr. Ir. Muhammad Taufiq SH. M.Sc.
Pada Juli 2025, ajakan tersebut disampaikan melalui sebuah surat resmi, surat formal itu menjadi salah satu penanda bahwa pintu persatuan masih dibuka.
Bahkan, menurut penulis, gaya bahasa komunikasi dalam surat tersebut sudah sangat santun untuk ukuran surat formal.
Di sana, ada pesan yang hendak ditegaskan, perbedaan pandangan, dan pilihan tidak harus menjadi alasan untuk selamanya berjalan sendiri.
-Undangan Dari Pintu Ke Pintu
Setahun berselang, menjelang pelaksanaan Parapatan Luhur pada 25 September mendatang, pesan itu kembali hadir dalam bentuk yang lebih nyata.
Pada Sabtu (12/9/2026), Panitia Pelaksana Parapatan Luhur tidak hanya mengirimkan undangan. Undangan tersebut diantar langsung ke kediaman Mas Murjoko dan Mas Isbiantoro.
Perlu dipertegas sekali lagi, “Diantar langsung.”
Sebuah tindakan sederhana, tetapi menyimpan makna yang jauh lebih dalam daripada sekadar menyampaikan selembar surat. Sebab dalam tradisi persaudaraan, datang langsung ke rumah seseorang bukan hanya tentang menyampaikan agenda.
Di sana ada penghormatan, ada silaturahmi, sekaligus ada pesan bahwa siapa pun yang hendak diajak duduk bersama tetap memiliki tempat dalam ruang persaudaraan.
Surat resmi Juli 2025 dan kunjungan langsung panitia menjelang Parapatan Luhur 25 September itu seolah menjadi dua babak dari pesan yang sama.
Apakah itu?
“Nyawiji.”
-Ajakan Terus Dibuka
Bukan sekadar menyatukan nama dalam satu barisan, tetapi mengembalikan kesadaran bahwa di balik perbedaan sikap, pilihan, dan perjalanan organisasi, ada akar persaudaraan yang pernah mempertemukan semuanya.
Ajakan itu pun tidak datang dalam bentuk paksaan, ia hadir sebagai pintu yang dibuka. Dan ketika panitia datang mengantarkan undangan langsung ke rumah, pesan tersebut menjadi semakin jelas bahwa ruang untuk bertemu masih tersedia.
Parapatan Luhur pada akhirnya bukan hanya sebuah forum organisasi, melainkan juga menjadi momentum untuk mempertemukan kembali mereka yang mungkin selama ini berjalan di jalur masing masing.
Sebab, persaudaraan tidak selalu harus dimulai dengan kesamaan pandangan. Kadang, ia cukup dimulai dengan kesediaan untuk kembali duduk bersama.
Mungkin itulah makna nyawiji yang sedang diketuk melalui surat dan undangan tersebut.
Bukan meminta siapa pun melupakan masa lalu, tetapi mengajak agar masa lalu tidak terus menjadi tembok yang menghalangi masa depan.
Dari sebuah surat resmi pada Juli 2025, kemudian berlanjut dengan langkah kaki panitia menuju rumah Mas Murjoko dan Mas Isbiantoro menjelang 25 September, ajakan itu kembali menemukan bentuknya.
“Pintu sudah diketuk.”
Dan
“Undangan sudah disampaikan.”
Kini, tinggal bagaimana masing-masing hati nurani yang menjawabnya.
Karena pada akhirnya, rumah persaudaraan tidak akan benar-benar menjadi satu hanya karena semua orang berada di bawah satu atap.
Namun, ia akan menjadi satu ketika mereka yang pernah tercerai bersedia kembali duduk bersama.
Nyawiji bukan tentang siapa yang menang dan siapa yang kembali, tetapi nyawiji adalah tentang kesediaan untuk menyadari bahwa persaudaraan terlalu besar untuk selamanya dipisahkan oleh perbedaan ego sektoral.
Ditulis oleh : Sojianto, Tim Humas Pusat