Tulisan sebelumnya tentang kenapa 1 September 1922 diperingati sebagai hari spesial Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) ternyata memunculkan satu pertanyaan baru di tengah warga PSHT.
“Sebenarnya Hari Ulang Tahun PSHT diperingati pada 1 September atau 2 September?” Begitulah ragam komentar yang muncul dari para warganet.
Pertanyaan tersebut wajar muncul. Terlebih ketika di tengah masyarakat beredar lebih dari satu penanggalan mengenai momentum peringatan HUT PSHT.
Karena itu, daripada menjawabnya berdasarkan asumsi atau sekadar mengikuti kebiasaan, ada baiknya kita kembali melihat dasar sejarah dan dokumen organisasi yang menjadi pijakan bersama.
Dalam Anggaran Dasar/Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) PSHT periode 2021–2026, disebutkan secara jelas bahwa organisasi mulai dirintis sejak 1 September 1922, sedangkan PSHT kemudian berorganisasi pada 25 Maret 1951.
Dua tanggal tersebut mempunyai konteks sejarah yang berbeda, 1 September 1922 merupakan tonggak awal perintisan, sementara 25 Maret 1951 berkaitan dengan proses PSHT berorganisasi.
Dengan demikian, ketika berbicara mengenai tanggal perintisan PSHT, dokumen organisasi memberikan rujukan yang jelas, yaitu 1 September 1922.
-Lantas, Apa Yang Terjadi Pada 1 September 1922?
Tanggal tersebut bukan muncul tanpa latar belakang, berdasarkan hasil penelusuran peneliti Setia Hati, Agus Mulyana, Ki Hajar Harjo Utomo, Pahlawan Perintis Kemerdekaan Republik Indonesia sekaligus pendiri PSHT, pada momentum tersebut mulai menjalankan tugasnya sebagai Sekretaris Sarekat Islam (SI) Madiun di bawah kepemimpinan HOS Tjokroaminoto.
Momentum tersebut menjadi penting karena Ki Hajar Harjo Utomo kemudian memasukkan pencak silat Setia Hati ke dalam program kerja Sarekat Islam (SI).
“Hari itu tepat pada hari Jumat tanggal 8 Suro, adalah hari di mana Pak Harjo Utomo resmi mulai menjalankan tugasnya sebagai sekretaris Sarekat Islam Madiun di bawah kepemimpinan HOS Cokroaminoto, dan tentunya awal menjalankan program pencak silat SH di tubuh SI dalam program kerja organisasi yang dipimpinnya.” ujar Agus Mulyana.
Keterangan tersebut sekaligus menunjukkan bahwa momentum perintisan tersebut berlangsung pada bulan Suro atau Muharram.
Maka, tidak mengherankan apabila bulan Suro kemudian memiliki tempat yang begitu kuat dalam tradisi peringatan PSHT.
Namun, memahami momentum berdasarkan kalender Jawa atau Hijriah tidak berarti harus mengubah tanggal Masehinya, 8 Suro tetap berada pada momentum 1 September 1922.
Karena itu, memperingati HUT PSHT pada bulan Suro dan memperingatinya pada tanggal 1 September bukanlah dua hal yang bertentangan.
-25 Maret 1951: Bukan Berarti PSHT Baru Lahir
Lalu bagaimana dengan 25 Maret 1951? Di sini kita juga perlu memahami sejarah secara utuh.
Menurut keterangan Agus Mulyana, pada masa sebelumnya Setia Hati berada dalam sebuah wadah yang berada di bawah lindungan Keraton Pakualaman, yakni Gapema (Gabungan Pencak Mataram), yang kemudian berkembang menjadi IPSI Mataram atau Pengda Yogyakarta pada 1948.
Setelah Jepang berkuasa, pada Maret 1942, para saudara kemudian menggunakan wadah yang telah memperoleh restu dari Ki Hadjar Hardjo Oetomo atas permohonan Soeratno Sorengpati.
Dengan demikian, proses tersebut bukan semata-mata “membentuk wadah baru”, melainkan juga dapat dipahami sebagai upaya merealisasikan amanat Ki Hadjar Hardjo Oetomo, yaitu melestarikan ajarannya, mengumpulkan kembali para saudara, membuat wadah yang kuat.
Rangkaian sejarah tersebut menunjukkan bahwa perjalanan Setia Hati menuju PSHT sebagai organisasi tidak berlangsung dalam satu titik waktu saja.
Ada proses perintisan, ada proses pengumpulan kembali para saudara, ada proses penguatan wadah, dan kemudian ada proses berorganisasi.
Karena itu, 1922 dan 1951 tidak perlu dipertentangkan. Sebab, keduanya berbicara mengenai tahapan yang berbeda dalam perjalanan sejarah organisasi.
-Lalu, Bagaimana dengan 2 September?
Di sinilah pentingnya membedakan antara dasar historis penanggalan dengan berbagai versi penanggalan yang berkembang kemudian.
Apabila yang menjadi acuan adalah sejarah perintisan sebagaimana tercantum dalam AD/ART PSHT 2021–2026, maka tanggal yang disebut adalah 1 September 1922, bukan 2 September.
Tanggal tersebut memiliki konteks sejarah yang dapat ditelusuri, bahkan berhubungan dengan momentum 8 Suro sebagaimana dijelaskan dalam penelusuran sejarah Setia Hati.
Maka, jika ada pertanyaan mengenai dasar peringatan HUT PSHT, jawabannya seharusnya tidak ditentukan berdasarkan siapa yang paling keras menyampaikan pendapat.
Cukup kembali kepada sumber, dokumen organisasi memberikan pijakan, sejarah memberikan konteks, sementara tradisi Suro memberikan dimensi kebudayaan yang melekat dalam perjalanan Setia Hati.
Menjaga sejarah, bukan memperpanjang perdebatan. Pada akhirnya, persoalan ini bukan tentang memenangkan perdebatan mengenai satu angka.
Sebab sebuah organisasi tidak lahir dari satu hari yang berdiri sendirian, organisasi tumbuh melalui proses panjang, diwariskan dari satu generasi kepada generasi berikutnya, dan kemudian dibangun menjadi sebuah wadah organisasi.
Karena itu, memahami sejarah PSHT berarti memahami seluruh rangkaiannya, 1 September 1922 menjadi tonggak perintisan, 25 Maret 1951 menjadi tonggak PSHT berorganisasi.
Sementara berbagai proses sebelumnya menjadi bagian dari perjalanan panjang yang menjelaskan bagaimana ajaran, saudara, dan wadah tersebut terus dirawat dan dikembangkan.
Maka ketika ditanya, “1 September atau 2 September?”, jawabannya tidak perlu rumit. Jika yang dimaksud adalah tanggal perintisan PSHT sebagaimana tercantum dalam AD/ART PSHT 2021–2026, maka pijakannya adalah 1 September 1922.
Bukan karena kita ingin memenangkan perdebatan, tetapi karena sejarah seharusnya diperlakukan dengan cara yang sederhana, yaitu kembali kepada sumber, memahami konteks, dan menjaga apa yang telah menjadi pijakan organisasi.
Maka dari uraian tersebut di atas semua sudah jelas, dan gamblang, 1 September 1922, satu tanggal, dengan sejarah panjang yang menyertainya.
Ditulis oleh : Sojianto, Tim Humas Pusat