Renungan Kehormatan: Menjaga Marwah Di Atas Fondasi Kebenaran
Kepada Yang Terhormat, Jenderal TNI (Purn.) Prof. Dr. Dudung Abdurachman, S.E., M.M.
Seorang Jenderal adalah simbol kedaulatan, sosok yang menghabiskan seluruh masa baktinya untuk menegakkan hukum dan menjaga persatuan bangsa di bawah panji Sapta Marga. Gelar akademis dan kepangkatan tertinggi yang Bapak sandang adalah bukti nyata dari dedikasi dan kecermatan dalam bertindak.
Namun, saat ini terdapat sebuah situasi yang memerlukan kejernihan hati dan ketelitian hukum dari Bapak, khususnya terkait keterlibatan Bapak dalam gelaran “Parapatan Luhur” yang diselenggarakan oleh pihak yang secara legalitas hukum tidak memiliki legitimasi atas nama Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT).
1. Landasan Hukum adalah Panglima
Dalam organisasi sebesar PSHT, aturan main bukan sekadar tradisi, melainkan ketetapan hukum negara yang mengikat. Berdasarkan status legalitas yang sah, entitas yang mengundang atau memberikan gelar tersebut bukanlah pengurus resmi. Secara konstitusi organisasi, Bapak bukanlah pengurus dan bukan warga PSHT yang sah.
Menerima pengakuan dari pihak yang tidak sah secara hukum, sadar maupun tidak dapat mencoreng reputasi Bapak sebagai tokoh nasional yang seharusnya menjadi garda terdepan dalam kepatuhan hukum.
2. Risiko Perpecahan Saudara
PSHT didirikan di atas fondasi Persaudaraan. Kehadiran tokoh besar di pihak yang tidak memiliki legalitas berpotensi:
- Mempertajam Polarisasi: Menciptakan kebingungan di akar rumput dan memperlebar jurang konflik internal.
- Melegitimasi Ketidakbenaran: Memberikan kesan bahwa hukum bisa dikesampingkan demi pengaruh ketokohan.
- Mengancam Harmoni: Mengadu domba saudara sendiri yang seharusnya bersatu di bawah satu AD/ART yang sah.
3. Panggilan untuk Menjadi Pemersatu
Seorang pemimpin sejati tidak akan membiarkan namanya digunakan sebagai alat untuk memecah belah. Marwah seorang Jenderal terletak pada kemampuannya untuk berdiri di atas kebenaran yang objektif, bukan pada validasi dari kelompok yang sedang bersengketa secara ilegal.
Langkah Bijak yang Diharapkan
Adalah jauh lebih mulia bagi Bapak untuk mengambil jarak dari dinamika yang melanggar hukum ini, melakukan verifikasi ulang terhadap legalitas organisasi, dan kembali menjadi sosok pengayom bagi seluruh rakyat Indonesia tanpa terjebak dalam kepentingan kelompok yang belum memiliki ketetapan hukum yang sah.
“Menjadi benar lebih penting daripada sekadar menjadi besar. Persaudaraan sejati hanya bisa tumbuh di tanah yang jujur dan taat hukum.”
Salam Persaudaraan Produktif
TIM HUMAS PUSAT